Disebut Dalam File Epstein, Apa Itu Kiswah Ka’bah? | Info Giok4D

Posted on

Bandung

Seseorang dengan nama perempuan mengirimkan tiga potongan kain kiswah (penutup) kabah, bangunan suci yang menjadi kiblat atau arah umat Islam di seluruh dunia ketika beribadah, kepada Jeffrey Epstein. Epstein adalah penjahat seksual. Dia sendiri tewas bunuh diri di dalam penjara pada 2019. Di kemudian hari, jutaan berkas baru terkait kasus Jeffrey Epstein dirilis oleh Departemen Kehakiman AS.

Department of Justice merilisnya pada Jumat (30/1/2026). Dalam dokumen mengenai Kaaba (ka’bah), terdapat percakapan tertulis dari perempuan itu yang mengklaim bahwa di antara kain Kiswah yang dikirimkan, ada yang telah disentuh oleh sedikitnya 10 juta umat Islam dari berbagai latar belakang mazhab.

Dikutip dari laman U.S. Department of Justice, justice.go, surat elektronik dari perempuan dengan nama bernuansa Arab pada tahun 2017 itu juga mengungkapkan bahwa orang-orang mengelilingi kabah sebanyak tujuh putaran, dan mereka berupaya untuk menyentuh kiswah sambil meletakkan doa, harapan, dan air mata. Belum ada jawaban dari otoritas resmi di Arab mengenai isu ini.

Namun, kiswah memang sering menjadi sasaran pencurian. Sobekan kain hitam mewah itu selain bernilai seni tinggi, segelintir orang jahil juga mengeramatkan kiswah dan menjadikannya jimat. Itulah alasannya, pada musim haji, kain penutup kabah selalu diangkat naik.

Sebelum ditutup kain, kabah pernah ditutupi hanya sebatas oleh pelepah kurma. Bagaimana sejarahnya? Simak artikel ini.

Kiswah dan Kabah

Setiap menjelang musim haji, kain kiswah atau penutup kabah diangkat sampai jemaah haji dengan postur paling tinggi sekalipun tidak bisa menggapainya. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi kiswah robek dan robekannya dijadikan jimat oleh sebagian jemaah haji.

Dalam sejarahnya, kiswah pernah menggunakan berbagai bahan selain kain dan pernah juga berwarna selain warna hitam dengan jalinan benang emas yang saat ini digunakan. Kiswah atau penutup itu dipakai untuk menutupi kabah.

Bangunan kabah dinamakan ka’bah karena bentuknya yang muka’ab atau kubus. Kabah telah ada sejak lama. Kabah ditinggikan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kabah tersusun atas batu-batu.

Menurut situs Kementerian Agama RI, seorang peneliti sejarah pada masa Raja Saud pernah menghitung batu-batu yang menyusun kabah itu, jumlahnya mencapai ribuan bongkah batu.

“Pada masa Raja Saud, Ka’bah kembali direnovasi. Atap yang keropos dimakan air diganti. Pada saat itu, 28 Rajab, 1377, seorang sejarawan menghitung total batu Ka’bah, mendapatkan jumlah 1.614. Batu-batu ini dari berbagai bentuk. Batu terbesar panjang 190 centimeter, lebar setengah meter, dan tebal 28 centimeter. Batu terkecil adalah panjang setengah meter, dan lebar sekitar 40 centimeter. Tetapi, itu hanya batu yang berada di dinding luar, batu yang tidak terlihat tidak dihitung.” tulis situs tersebut.

Kiswah Pertama untuk Kabah

Pakar sejarah Ibnu Hisyam (wafat 218 H) dalam Sirah Nabawiyah menuliskan kisah sosok pertama yang diduga memasang penutup pada kabah. Tindakan ini dilakukan berdasarkan petunjuk mimpi yang hadir kepadanya karena dia tidak jadi berbuat ‘kurang ajar’ di Baitullah.

Sosok itu adalah Tubban As’ad Abu Karib atau ditulis pula Tubban bin As’ad bin Abi Karib. Dia adalah Raja Yaman yang pernah melakukan perjalanan ke Madinah. Kota ini sebelumnya bernama Yatsrib.

Dalam perjalanan ke Madinah, Tubban A’sad Abu Karib tidak melakukan kekerasan. Namun, di sebuah tempat di Madinah, meninggalkan anaknya namun dibunuh oleh orang-orang Madinah. Pembunuhan itu membuat Tubban marah dan lalu datang lagi ke Madinah dan mulai memusnahkan penduduknya serta menebangi pohon kurmanya

Pekerja menyulam kain Kiswah dengan benang emas di King Abdulaziz Complex, Kota Makkah, Arab Saudi, Selasa (3/6/2025). Pabrik yang telah memproduksi Kiswah untuk Kakbah berturut-turut selama 100 tahun tersebut juga memproduksi Kiswah yang dibuat untuk menutupi makam Nabi Muhammad SAW di Madinah. ANTARA FOTO/Ahmad Faisal Foto: ANTARA FOTO/ahmad faisal

Peristiwa lain datang, salah seorang anggota rombongannya ada yang menusuk sampai mati. Anggota itu ketahuan memotong sebuah tandan kurma. Di masyarakat tersebut ada keyakinan bahwa ‘kurma adalah hak pengelolanya’, sehingga orang tersebut dibunuh.

Dengan kabilah yang muncul belakangan di Madinah setelah peristiwa kedua itu, Tubban berperang. Namun, karena masyarakatnya telah mengenal peradaban, kabilah Anshar akan memerangi Tubban pada siang hari, tetapi menganggapnya sebagai tamu pada malam harinya. Perang pecah, dan Tubban bertekad kuat untuk menghancurkan Madinah.

Dalam situasi perang itu, datang dua orang Rabbi Yahudi dari Bani Quraizah yang memberi tahu bahwa upayanya menghancurkan Madinah sebaiknya diurungkan. Dan jika Tubban bersikukuh, maka dimungkinkan Tubban akan binasa.

Mendengar pernyataan Rabbi itu, Tubban bertanya apa alasannya. Jawaban Rabbi, bahwa Madinah akan menjadi tempat hijrahnya seorang nabi yang muncul dari tanah haram, dari kalangan Quraisy. Tubban pun urung.

Dikelabui Harta Kas Negara

Sebagai penyembah berhala, Tubban berencana singgah ke Makkah dalam perjalanannya kembali ke Yaman. Namun, di jalan menuju ke Makkah itu, dia berjumpa dengan sekelompok orang keturunan Hudzail bin Mudrikah.

Kepada Tubban, orang-orang itu mengatakan bahwa ada harta yang banyak berupa mutiara, topaz, ruby, dan emas yang tersimpan di Baitul Maal (kas negara) yang ditinggalkan para raja terdahulu. Harta-harta itu tersimpan di dalam Kabah di Makkah.

Namun, maksud Bani Hudzail itu tiada lain hanya ingin menghancurkan Tubban, sebab sudah menjadi maklum, siapapun orangnya dari kalangan raja-raja yang ingin berbuat ‘kurang ajar’ dan jahat di Kabah akan kena batunya.

Tubban tidak langsung percaya, dia lalu mengutus orang untuk mendatangi dua Rabbi Yahudi yang pernah melarangnya menghancurkan Madinah. Rabbi menjawab bahwa Bani Hudzail hanya ingin menghancurkannya.

Rabbi itu menyarankan agar Tubban berbuat sebagaimana orang-orang Makkah berbuat: Thawaf dengan mengagungkan dan menghormati kabah, mencukur rambut, dan merendahkan diri hingga saatnya keluar dari wilayah terhormat itu.

Tubban pun tinggal di sana beberapa waktu, dia melakukan apa yang dilakukan warga setempat, bahkan menyembelih binatang dan membagikannya untuk disantap masyarakat.

Bermimpi tentang Kiswah

Karena penghormatan terhadap kabah itu, Tubban suatu malam bermimpi menyelubungi kabah dengan kiswah (kain penutup).

Keesokan harinya, dia merangkai cabang-cabang kurma dan menutupkannya kepada bangunan Baitul Haram itu. Namun, di malam kemudian dia bermimpi kembali untuk menutupnya dengan yang lebih bagus.

Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.

Maka, dia memilih kain ma’afir, sejenis kain asal Yaman dan menutupkannya pada kabah. Tetapi, di malam kemudian dia bermimpi lagi. Mimpinya, supaya penutupnya lebih bagus.

Untuk ini, kain kiswah digunakan dari bahan mola dan washail, kain yang paling baik buatan Yaman. Sehingga, dengan tindakan ini, Tubban As’ad Abu Karib dinilai sebagai orang yang pertama menutup kabah dengan kiswah.

Kiswah Zaman Kini

Mengutip situs HIMPUH (Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji), yang melansir Al-Arabiya, dikatakan kiswah zaman kini yang berwarna hitam dengan kaligrafi benang emas dan perak, merujuk pada kisah di sebuah rumah pribadi di Ajyad tahun 1346 H/1928 M.

“Sejak saat itu kiswah Ka’bah pertama yang dibuat di Makkah yang memakan biaya tahunannya saat ini lebih dari 20 juta riyal Saudi. Kain tersebut memiliki berat 850 kilogram, terbagi menjadi 47 potong kain, dengan lebar 98 cm dan tinggi 14 meter,” tulis situs itu.

Kiswah zaman kini dibuat proses penjahitannya, di kompleks Raja Abdulaziz. Urusan kiswah ada pada naungan Kepresidenan Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

“Ketika tempat pembuatan kiswah Ka’bah pindah pada tahun 1397 H ke gedung barunya di Umm Al-Joud, telah dilengkapi dengan mesin canggih terbaru di industri dan telah diproduksi dalam bentuk terbaiknya sampai sekarang.” tulis situs itu. Kiswah juga menurut kebiasaan setiap tahun diganti, tepatnya setiap tanggal 1 Muharram.

Halaman 2 dari 2