China –
Sejumlah orang tua di China mulai menerapkan cara baru untuk memotivasi anak-anak mereka untuk belajar. Caranya cukup unik, mereka cetak lembar pekerjaan rumah (PR) berukuran besar!
Dikutip dari South China Morning Post (SCMP), Jumat (6/2/2026), pada Januari lalu, seorang ibu dari Provinsi Hubei, China tengah, mengatakan bahwa ia mencetak soal ujian berukuran besar untuk putranya. “Dengan cara ini, dia tidak akan melewatkan satu pun soal,” ujarnya.
Foto-foto yang beredar memperlihatkan anak laki-lakinya yang masih kecil sedang berbaring di lantai sambil mengerjakan soal Bahasa Mandarin di atas kertas ujian hampir sepanjang satu meter, dengan ruang jawaban yang hampir sebesar telapak tangannya.
Ibu tersebut mengatakan ia mencetak dua lembar PR berukuran A0 di sebuah percetakan dengan biaya 25 yuan (sekitar Rp 68 ribu).
Format besar yang biasanya digunakan untuk spanduk atau papan display luar ruang itu ternyata membuat sang anak lebih menikmati pekerjaan rumah dan tetap fokus.
Unggahannya mendapat lebih dari 100 ribu tanda suka di media sosial China daratan, dan banyak orang tua lain ikut mencoba tren serupa.
Seorang ibu bermarga Wang dari Provinsi Sichuan, China barat daya, mengatakan anaknya justru ingin mengerjakan satu set lagi soal berukuran raksasa setelah menyelesaikan yang pertama.
Salah satu warganet berkomentar, “Metode ini luar biasa. Saat lelah mengerjakan PR, kertasnya bahkan bisa dipakai sebagai selimut.”
Tak Semua Anak Suka
Warganet lain menulis, “Sekarang anak-anak tidak bisa lagi mengeluh salah menjawab karena tidak bisa melihat soalnya dengan jelas.”
Namun, tidak semua anak menyukai soal ujian berukuran jumbo tersebut.
Seorang ibu dari Provinsi Heilongjiang, China utara, mengatakan ia menghabiskan 60 yuan (sekitar Rp 160 ribu) untuk mencetak empat lembar soal besar, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan.
Ia mengatakan kepada media daratan Xinwenfang, “Awalnya, anak saya mengira kertas raksasa itu mainan. Namun ketika ia sadar itu adalah PR, ia menjadi kecewa dan justru semakin enggan belajar.”
Sistem pendidikan di China dikenal memberi tekanan besar kepada siswa, dengan fokus utama pada keberhasilan dalam gaokao (ujian masuk perguruan tinggi nasional).
Banyak sekolah menengah menerapkan strategi “lautan soal”, dengan waktu istirahat yang minim dan jam pekerjaan rumah yang panjang.
Siswa di China Habiskan Waktu Kerjakan PR 2 Jam Sehari
Menurut data dari sebuah lembaga pendidikan China, lebih dari separuh siswa sekolah menengah menghabiskan waktu lebih dari dua jam per hari untuk mengerjakan PR, bahkan sebagian belajar hingga lewat pukul 22.00.
Belakangan, pemerintah China memperkenalkan kebijakan untuk mengurangi beban akademik, sementara sebagian orang tua mulai mengadopsi konsep “pendidikan bahagia” yang menitikberatkan pada kesehatan mental anak.
Salah satu komentar dari seorang ayah yang banyak didukung warganet di media sosial China berbunyi:
“Anak-anak yang mencintai belajar akan menerima PR apa pun, sebesar apa pun kertasnya. Namun bagi anak seperti putri saya, minatnya mungkin ada di olahraga, seni, atau bidang lain. Sebagai orang tua, kami menghargai minatnya dan memberinya kebebasan untuk mengeksplorasinya.”
Metode pengasuhan kreatif di China juga terus menarik perhatian. Pada Juli 2024, seorang ayah dari Provinsi Yunnan, China barat daya, menyuruh putrinya yang masih kecil mengupas kol di dalam kereta cepat agar tetap tenang.
Sementara pada 2023, sepasang orang tua bergelar doktor menggunakan kecerdasan buatan untuk menghibur putra mereka yang berusia lima tahun setelah ia diejek di sekolah karena terjatuh saat bermain.
