Cimahi –
Puluhan siswa TK hingga jenjang SMP di Kota Cimahi diduga keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga Kamis (26/2) jumlahnya mencapai 43 orang.
Berikut sederet fakta dalam kejadian ini:
Dirawat di 3 Rumah Sakit
Dalam kejadian keracunan menu MBG ini, 26 anak dibawa ke RSUD Cibabat, kemudian 5 anak dilarikan ke RS Mitra Kasih, dan 5 orang lagi ke RS Dustira. Tidak hanya siswa saja, di antara korban dugaan keracunan itu terdapat seorang guru. Sementara sisanya telah dinyatakan sehat dan diizinkan pulang ke rumah masing-masing.
“Sampai pagi hari Kamis ini, total 36 orang yang sempat dibawa ke rumah sakit. Sebagian sudah pulang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Mulyati, saat dikonfirmasi pada Kamis (26/2).
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Terjadi di 5 Sekolah
Kasus dugaan keracunan itu berawal pada Rabu (25/2) setelah siswa dan guru TK Kartika, TK PGRI, SDN Karangmekar Mandiri 1, SDN Cimahi Mandiri 1, dan SMPN 6 Cimahi mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Rabu pagi.
Menu MBG yang diterima siswa dan guru di bulan Ramadan kali ini di antaranya onigiri atau nasi kepal, telur rebus, kurma, apel, serta susu UHT. Setelah mengonsumsi menu itu sebagian mulai merasakan gejala mual dan muntah.
“Waktu konsumsinya bervariasi, ada yang jam 11 siang, jam 2 siang, ada yang sore menjelang berbuka. Kemudian mereka merasakan gejala seperti mual dan muntah,” kata Mulyati.
Pemkot Cimahi Akan Panggil Pengelola SPPG
Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira menyebut pihaknya sudah memanggil pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan menu MBG ke beberapa sekolah tersebut.
“Mereka sudah dipanggil langsung, kemudian kami menegur mereka mengenai insiden ini. Kami juga meminta penjelasan dari mereka,” kata Adhitia.
Sampel Makanan Diuji di Labkesda Jabar
Sampel makanan itu kemudian diuji di Labkesda Jawa Barat. Pihak berwenang akan menyelidiki penyebab pasti keracunan tersebut.
“Observasi penyebab akan kami lakukan sesuai mekanisme yang berlaku. Sampel sudah dibawa dan sedang diuji, untuk mengetahui kandungan apa yang didistribusikan. Kami menunggu hasil pengujian, dan fokus utama kami saat ini adalah penanganan pasien yang bergejala,” kata Adhitia.
Cerita Guru yang Alami Keracunan
Salah satu korban keracunan Erika Tika Sari sempat menghabiskan waktu di ranjang IGD RSUD Cibabat, Kota Cimahi. Dia dilarikan ke rumah sakit pada Rabu (25/2) malam setelah mengalami muntah-muntah dan pusing.
Guru SD Negeri Karangmekar Mandiri 1 itu bahkan sempat menjalani perawatan infus. Ia kehilangan banyak cairan akibat gejala khas keracunan usai menyantap onigiri atau nasi kepal dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima sekolahnya pada Rabu pagi.
Lantaran sedang tidak berpuasa, Erika menyantap menu tersebut pada pukul 13.30 WIB sepulang mengajar. Di dalam paket menu MBG yang diterimanya, terdapat pula telur rebus, apel, kurma, serta susu UHT.
“Saya kemarin makan pukul 13.30 WIB, kebetulan sedang tidak berpuasa. Saya hanya mengonsumsi onigiri saja,” kata Erika, Kamis (26/2).
Keracunan Usai Makan Onigiri
Onigiri isi ayam suwir itu tidak dihabiskannya, melainkan hanya setengahnya karena merasakan rasa yang tidak biasa dari makanan khas Jepang tersebut. Berselang dua jam kemudian, ia mendadak merasakan mual dan pusing yang tak tertahankan.
“Saya sempat muntah, karena saya kira hanya masuk angin. Kemudian, saat saya memeriksa ponsel, ternyata di grup sekolah ada dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG. Itu berarti gejala yang saya alami juga merupakan keracunan tersebut,” kata Erika.
Kondisinya berangsur membaik setelah ditangani tim medis RSUD Cibabat. Erika tak menyangka menu MBG yang dikonsumsinya justru berujung di ruang perawatan. Tak hanya Erika, tercatat 42 siswa lain dari sejumlah sekolah yang turut menjadi korban keracunan serupa.
“Sekarang Alhamdulillah, kondisi saya sudah membaik. Sudah tidak merasa mual dan pusing lagi, muntah juga sudah berhenti. Saya dianjurkan untuk beristirahat beberapa hari,” kata Erika.
Tanggapan Pihak SPPG
SPPG yang berlokasi di Jalan Moh. K. Wiganda Sasmita, Kelurahan Cimahi, Kecamatan Cimahi Tengah itu kini berhenti beroperasi sementara selama proses pemeriksaan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
“Ini adalah kejadian pertama di Cimahi, tentu menjadi pelajaran bagi kami. Akan terus evaluasi terkait pengolahan, pengawasan, dan teknis lainnya,” kata Koordinator Wilayah SPPG Kota Cimahi, Hanif Abdul Rafi.
Hanif mengatakan bahwa pihaknya belum bisa memastikan penyebab keracunan tersebut, apakah dipicu kesalahan saat proses produksi atau kualitas bahan baku yang digunakan.
“Untuk menu onigiri, sebenarnya baru pertama kali kami produksi di sini, SPPG lain mungkin sudah pernah membuatnya. Ada kemungkinan terjadi kendala pada produksi onigiri hingga menyebabkan insiden ini,” kata Hanif.
Selama bulan Ramadan, BGN telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) terkait menu yang didistribusikan oleh SPPG di seluruh daerah, yakni instruksi untuk menyediakan jenis makanan yang tahan lama.
“Untuk pengolahan sesuai SE itu selama Ramadan, sebenarnya disarankan untuk membuat makanan yang tahan lama, mengingat ini adalah bulan Ramadan. Harapan kami dari SPPG, makanan tersebut dikonsumsi setelah berbuka puasa,” kata Hanif.
