Langkah kaki terdengar lebih jelas di lorong Pasar Andir pagi itu. Tidak lagi tertelan oleh hiruk-pikuk pembeli seperti beberapa tahun silam. Deretan kios pakaian masih berdiri, namun sebagian pintunya tertutup rapat, sebagian lain terbuka menunggu pembeli yang entah datang atau tidak.
Di pasar yang pernah dikenal sebagai sentra fesyen rakyat Kota Bandung, suasana kini berubah. Warna-warni kaus, celana, dan gamis masih menggantung rapi, tapi jarang ada tangan yang menyentuhnya. Lorong yang dahulu sesak oleh tawar-menawar kini terasa lengang.
“Kalau dulu, jam segini orang sudah susah jalan. Sekarang mah bisa bebas,” ujar Khairul Anwar (32), pedagang kemeja yang sudah berjualan 10 tahun di Pasar Andir.
Anwar duduk di bangku kecil di depan kiosnya. Beberapa potong kemeja digantung dan dipajang, sisanya dilipat rapi dalam plastik. Sesekali ia berdiri, menata ulang dagangan, bukan karena berantakan, tapi sekadar mengusir waktu.
“Sekarang sehari paling dapat satu-dua pembeli. Kadang malah tidak sama sekali,” katanya lirih.
Menurut pengelola Pasar Andir, kondisi sepi ini bukan terjadi dalam semalam. Perubahan mulai terasa beberapa tahun terakhir, dan semakin kentara sejak pola belanja masyarakat bergeser ke platform online dan pandemi COVID-19.
“Sangat berpengaruh sekali mulai dari kunjungan, transaksi, apalagi setelah COVID. Masyarakat terbiasa belanja online sehingga yang belanja di sini menurun,” kata Dino Lesmana, Manajer Operasional Pasar Andir.
Ia menyebut, sekitar 98 persen pedagang di Pasar Andir bergerak di sektor fesyen membuat pasar ini sangat bergantung pada tren dan perilaku belanja masyarakat. Ketika pembeli beralih ke gawai, dampaknya langsung terasa di lorong-lorong pasar.
“Kalau dulu Pasar Andir jadi rujukan belanja pakaian murah, sekarang orang bisa dapat harga serupa bahkan lebih murah lewat online, tanpa harus datang ke pasar,” ujarnya.
Dino mengakui, jumlah kios yang tidak aktif terus bertambah. Ada pedagang yang hanya membuka kios beberapa hari dalam seminggu, ada pula yang memilih menutup sementara sambil mencoba peruntungan di dunia daring.
“Kios atau pedagang yang aktif sekarang hanya 1.300an dari keseluruhan kios 2.300. Artinya yang buka hanya 60 persen,” ucapnya.
Meski kondisinya tak seramai dulu, namun Anwar tetap membuka kiosnya setiap hari. Ia menjual berbagai jenis kemeja pria yang disesuaikan dengan tren terkini. Namun, pembeli yang datang bisa dihitung dengan jari.
“Bisa dibilang buat cari penglaris aja susah banget sekarang,” katanya.
Anwar bercerita, dulu ia bisa menjual puluhan potong pakaian dalam sehari yang omsetnya bisa mencapai Rp50 juta. Kini, menjual lima potong saja sudah dianggap cukup.
“Tahun 2016 itu masih bisa kejar omzet Rp50 juta per hari, itu masih bisa. Kalau sekarang susah, cari pembeli aja susah” ujarnya tersenyum pahit.
Lorong tempat Anwar berjualan tampak kontras. Beberapa kios di sampingnya kosong, tertutup rolling door berdebu. Spanduk lama masih tergantung, memudar warnanya, menjadi penanda kios yang pernah hidup.
Sunyi Pasar Andir tidak sepenuhnya kosong. Sesekali terlihat pembeli melintas, kebanyakan datang dengan tujuan spesifik, langsung menuju kios tertentu, lalu pergi. Tidak ada lagi tradisi berlama-lama menyusuri lorong, membandingkan harga, atau sekadar berbincang dengan pedagang.
“Sekarang pembeli datang sudah pegang HP. Mereka sudah tahu mau beli apa, harganya berapa. Kalau tidak cocok, ya langsung pergi,” kata Anwar.
Bagi para pedagang, sepi bukan hanya soal omzet, tetapi juga soal kehilangan denyut kehidupan pasar. Pasar yang dulu riuh oleh suara tawar-menawar kini lebih sering diisi oleh obrolan sesama pedagang.
Pengelola pasar menyadari kondisi ini menjadi tantangan besar. Namun, mereka menilai Pasar Andir belum sepenuhnya kehilangan harapan.
“Kita berupaya membangkitkan lagi Pasar Andir. Ini menjelang bulan Ramadan kita bikin promo umrah gratis sebagai daya tarik agar masyarakat berkunjung dan belanja di sini. Kemudian promo juga di media sosial kita gencarkan,” terang Dino.
Dino mengakui, jumlah kios yang tidak aktif terus bertambah. Ada pedagang yang hanya membuka kios beberapa hari dalam seminggu, ada pula yang memilih menutup sementara sambil mencoba peruntungan di dunia daring.
“Kios atau pedagang yang aktif sekarang hanya 1.300an dari keseluruhan kios 2.300. Artinya yang buka hanya 60 persen,” ucapnya.
Meski kondisinya tak seramai dulu, namun Anwar tetap membuka kiosnya setiap hari. Ia menjual berbagai jenis kemeja pria yang disesuaikan dengan tren terkini. Namun, pembeli yang datang bisa dihitung dengan jari.
“Bisa dibilang buat cari penglaris aja susah banget sekarang,” katanya.
Anwar bercerita, dulu ia bisa menjual puluhan potong pakaian dalam sehari yang omsetnya bisa mencapai Rp50 juta. Kini, menjual lima potong saja sudah dianggap cukup.
“Tahun 2016 itu masih bisa kejar omzet Rp50 juta per hari, itu masih bisa. Kalau sekarang susah, cari pembeli aja susah” ujarnya tersenyum pahit.
Lorong tempat Anwar berjualan tampak kontras. Beberapa kios di sampingnya kosong, tertutup rolling door berdebu. Spanduk lama masih tergantung, memudar warnanya, menjadi penanda kios yang pernah hidup.
Sunyi Pasar Andir tidak sepenuhnya kosong. Sesekali terlihat pembeli melintas, kebanyakan datang dengan tujuan spesifik, langsung menuju kios tertentu, lalu pergi. Tidak ada lagi tradisi berlama-lama menyusuri lorong, membandingkan harga, atau sekadar berbincang dengan pedagang.
“Sekarang pembeli datang sudah pegang HP. Mereka sudah tahu mau beli apa, harganya berapa. Kalau tidak cocok, ya langsung pergi,” kata Anwar.
Bagi para pedagang, sepi bukan hanya soal omzet, tetapi juga soal kehilangan denyut kehidupan pasar. Pasar yang dulu riuh oleh suara tawar-menawar kini lebih sering diisi oleh obrolan sesama pedagang.
Pengelola pasar menyadari kondisi ini menjadi tantangan besar. Namun, mereka menilai Pasar Andir belum sepenuhnya kehilangan harapan.
“Kita berupaya membangkitkan lagi Pasar Andir. Ini menjelang bulan Ramadan kita bikin promo umrah gratis sebagai daya tarik agar masyarakat berkunjung dan belanja di sini. Kemudian promo juga di media sosial kita gencarkan,” terang Dino.
