Bandung –
Gorengan seolah menjadi kudapan wajib masyarakat di Indonesia. Khususnya di Kota Bandung, konsumsi terhadap gorengan bisa menembus angka ratusan miliar rupiah per tahun.
Gorengan memiliki banyak jenis. Di Kota Bandung, ragam gorengan yang dijual, antara lain bala-bala, gehu, tempe, kroket, cireng, cipuk, ketan, goreng pisang, dan lainnya.
Di balik sajiannya yang simpel dan renyah, gorengan juga mencatatkan nilai ekonomi yang tak main-main. Pada 2024, BPS Kota Bandung mencatat, konsumsi kudapan ini mencapai sekitar 404,69 juta potong. Jika satu potong gorengan dibanderol Rp1.000, perputaran uang bisa lebih dari Rp404 miliar setiap tahun. Sementara jika harga per potong mencapai Rp2.000, perputaran uang melebihi Rp808 miliar.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bandung Samiran mengatakan, data tersebut berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional 2024 dan telah dipublikasikan di laman resmi BPS RI.
“Data itu surveinya ke rumah tangga. Jadi, ini yang dikonsumsi oleh penduduk Kota Bandung,” kata Samiran kepada.
Lalu, seperti apa perhitungan perputaran uang kudapan ini yang mencapai Rp404 miliar setiap tahun?
Samiran menyebut, sebetulnya angka ini berpotensi lebih besar, menunjukkan potensi bisnis gorengan di Kota Bandung yang luar biasa.
Dalam data BPS 2024, rata-rata penduduk Kota Bandung mengonsumsi 3,113 potong gorengan per minggu.
Samiran mengungkapkan, jika dalam setahun ada 52 minggu, maka 52 minggu x 3 potong = 156 potong gorengan yang dikonsumsi individu per tahun. Lalu, 156 potong gorengan x 2,59 juta warga (populasi Kota Bandung) = 404.040.000 potong gorengan yang dikonsumsi warga Bandung per tahun.
“Jadi ada sekitar 404 juta potong gorengan setiap tahun. Jika dikalikan harga per potong, misalnya Rp1.000, perputaran uang sudah Rp404 miliaran. Atau, kalau dikalikan Rp2.000, sudah Rp808 miliaran,” ungkap Samiran.
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
Samiran berujar, angka tersebut hanya berasal dari warga Bandung dan belum termasuk konsumsi wisatawan yang datang ke Bandung. “Jadi, belum termasuk yang dikonsumsi oleh wisatawan,” ujarnya.
Dalam data BPS, jenis gorengan yang banyak dikonsumsi masyarakat Bandung meliputi tahu atau gehu, tempe atau goreng tempe, pisang atau goreng pisang, dan bakwan atau bala-bala.
Meskipun perputaran uangnya mencapai Rp404 miliar, jika dilihat dari 11 kota dengan konsumsi gorengan tertinggi, Bandung berada di urutan ketiga setelah Kota Serang dan Kota Yogyakarta. Kota Serang mencapai 4,414 potong dan Kota Yogyakarta mencapai 3,295 potong gorengan per minggu.
Dampak Positif Terhadap Perekonomian
Secara ekonomi dan bisnis, Samiran menyebut, perekonomian masyarakat dari bisnis gorengan ini meningkat dan berdampak positif.
“Tentu saja itu berdampak. Sebab, ekonomi didorong oleh konsumsi,” ujarnya.
Selain penjual gorengan, pihak yang menjual bahan baku untuk kudapan ini juga turut mendapatkan dampak positif.
“Pedagang bahan baku, seperti toge, tepung, hingga pisang untuk pisang goreng, juga ikut terdampak positif,” pungkasnya.
