Ketika Sepatu Tak Lagi Baru, Tukang Sol Tetap Setia Menunggu

Posted on

Di Jalan Cibadak, Kota Bandung, sebuah gang sempit menyimpan sejarah panjang jasa reparasi sepatu. Gang Kote, demikian warga mengenalnya, bukan sekadar jalan pintas, melainkan pusat bagi para perajin yang menjaga tradisi di tengah gempuran zaman.

Di lokasi tersebut, Anung Solihin (58), pria asal Garut, telaten memperbaiki sepatu pelanggan. Keahlian ini merupakan warisan turun-temurun yang ia jaga hingga saat ini.

Kehadiran tukang sol di kawasan ini memiliki akar sejarah yang kuat. Menurut Anung, profesi tersebut telah mengakar di Jalan Cibadak sejak masa kemerdekaan. “Mungkin dari tahun 1945 pun sudah ada tukang sol di sini,” ungkap Anung saat ditemui infoJabar di Gang Kote, Kamis (1/1/2026).

Pada awalnya, mereka merupakan tukang sol keliling. Gang Kote dan Jalan Cibadak hanya menjadi tempat persinggahan untuk berteduh saat tengah hari. “Dulu pada keliling, kalau sudah siang istirahat di sini. Lama-lama, mereka akhirnya memutuskan untuk menetap,” jelas Anung menceritakan transisi pola kerja mereka.

Anung merupakan saksi hidup perubahan tersebut. Ia mulai menekuni profesi ini dengan berkeliling sejak tahun 2001, sebelum akhirnya menetap di lapaknya sekarang pada tahun 2005. Ia mengaku sebagai generasi keenam di keluarganya yang menggantungkan hidup pada jasa sol sepatu.

Pemilihan Gang Kote sebagai pusat kegiatan tidak terjadi secara kebetulan. Tedi (32), putra Anung sekaligus generasi muda tukang sol, menjelaskan bahwa kawasan ini merupakan pusat bahan baku alas kaki. “Semua bahan sepatu ada di Cibadak, jadi memudahkan kami dan pelanggan,” ujar Tedi.

Sinergi ini memberikan kemudahan bagi konsumen. Saat seseorang membeli sol atau lem di toko bahan sepatu di Cibadak, mereka dapat langsung membawa barang tersebut ke Gang Kote untuk dipasang. Kondisi ini berbeda dengan sentra sepatu seperti Cibaduyut yang lebih fokus pada produksi dan penjualan, namun jarang menyediakan jasa servis cepat di lokasi yang sama.

Profesi tukang sol di Bandung identik dengan perantau asal Garut. Bagi komunitas ini, memperbaiki alas kaki bukan sekadar pekerjaan, melainkan identitas kultural. “Menge-sol itu sudah jadi darah daging orang Garut,” tutur Anung bangga.

Regenerasi pun berjalan secara alami melalui jalur kekerabatan. Tedi, misalnya, mulai terjun ke bidang ini pada 2017 setelah dididik langsung oleh ayahnya.

Sebagai ahli reparasi, mereka memahami sepenuhnya penurunan kualitas material sepatu modern. Tedi mengungkapkan, sepatu keluaran terbaru cenderung lebih rapuh dibandingkan dengan sepatu lama. “Sepatu sekarang beda banget. Lemnya punya masa kedaluwarsa. Lewat setahun pasti harus diservis,” ungkap Tedi memberikan analisis teknis.

Meski menghadapi berbagai jenis kerusakan, para perajin ini tetap konsisten. Mereka memiliki kemandirian tinggi terhadap peralatan kerja. Alat-alat seperti peti jara, sodokan, hingga pisau potong tidak dibeli di toko, melainkan ditempa sendiri agar nyaman saat digunakan.

Bisnis jasa sol ini sempat terdampak pandemi COVID-19. Keramaian yang dahulu dapat diprediksi, kini menjadi tidak pasti. “Semenjak pandemi, pelanggan turun drastis. Ramai itu sudah tidak ada,” keluh Anung.

Tedi menambahkan, saat ini pendapatan mereka tidak lagi menentu. Terkadang, dari pukul 07.00 WIB hingga siang hari, mereka hanya melayani dua pelanggan. Namun, filosofi hidup masyarakat Sunda, yakni ngereuyeuh (bergerak perlahan tetapi konsisten), menjadi pegangan mereka. “Istilah Sundanya mah ngereuyeuh sekarang mah. Daripada tidak sama sekali,” ucap Anung.

Mereka percaya bahwa rezeki telah diatur oleh Tuhan. Banyak pelanggan yang meninggalkan sepatu untuk diperbaiki dan baru diambil beberapa hari kemudian dengan sistem pembayaran di akhir, sebuah bukti kepercayaan yang masih terjaga erat.

Anung Solihin dan Tedi bukan sekadar penjahit sepatu. Mereka adalah penjaga keberlanjutan lingkungan yang secara tidak langsung membantu mengurangi limbah mode (fashion). Harapan mereka sederhana, agar profesi ini tidak punah dan tetap menjadi tumpuan hidup yang bermartabat.

“Jangan sampai punah tukang sol. Mudah-mudahan konsumen masih tetap menggunakan jasa kami,” tutup Anung.

Jejak Sejarah dari Masa ke Masa

Ekosistem Unik di Jantung Kota

Identitas Kultural Perantau Garut

Tantangan Material Modern

Bertahan dengan Prinsip “Ngereuyeuh”