Indramayu –
Luapan Sungai Cipanas membuat suasana dini hari di Desa Santing, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu mencekam, Jumat (30/1/2026). Air tiba-tiba mengepung permukiman warga menyusul meningkatnya debit kiriman dari hulu sejak malam sebelumnya.
Kerusakan Bendungan Karet Cilet memicu banjir lantaran aliran air ke muara tersumbat. Akibatnya, air sungai meluap dan merendam kawasan permukiman. Informasi yang dihimpun menyebutkan bagian karet bendungan robek dan terisi air sehingga tidak bisa dikempeskan. Selain itu, pintu air manual di sisi bendungan juga macet.
Sedikitnya 78 rumah warga terendam banjir dengan ketinggian 40 hingga 50 sentimeter atau setinggi lutut orang dewasa. Salah seorang warga, Dikroni (48), menceritakan air mulai masuk ke rumah warga pada waktu yang berbeda-beda.
“Banjir masuk rumah ada yang jam 02.00 WIB, ada yang jam 03.00 WIB. Karena tinggi lantai rumah warga beda-beda, kalau rumah saya air masuk jam 03.00 WIB,” ujar Dikroni. Ia mengaku terkejut karena wilayahnya jarang dilanda banjir. Begitu air masuk, ia bergegas menyelamatkan perabotan rumah tangga agar tidak rusak terendam.
Pengalaman serupa dirasakan Carmin (60). Menurutnya, banjir kali ini adalah kejadian langka setelah lebih dari satu dekade. “Baru kali ini banjir lagi. Biasanya di sini kekeringan, tapi sekarang malah banjir,” kata Carmin.
Warga lainnya, Karsiti (60), mengungkapkan hujan deras sempat mengguyur Desa Santing pada Kamis (29/1/2026). Namun, banjir justru datang saat hujan sudah reda pada dini hari. Air masuk dari bagian belakang rumah dan merendam barang-barang yang tak sempat ia evakuasi. “Air langsung masuk saat saya tidur, jadi tidak sempat pindahkan barang. Basah semua,” terangnya.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Camat Losarang, Encep Ria Setiadi, menjelaskan banjir tersebut adalah limpasan Sungai Cipanas. Pihak kecamatan langsung berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) untuk menangani kerusakan bendungan.
“Seharusnya air langsung ke muara, tapi karena bendungan karet dan pintu air manual tidak berfungsi optimal, air akhirnya melimpas,” jelas Encep.
Selain permukiman, air sungai menggenangi akses jalan utama desa. Untuk penanganan darurat, pihak kecamatan berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUPR) Indramayu. “Kami terjunkan ekskavator untuk meninggikan tanggul agar air tidak meluap lagi. Saat ini alat berat sedang bekerja,” tambah Encep.
Hingga sore hari, banjir mulai surut. Ketinggian air di dalam rumah warga berkurang dan kini hanya tersisa sekitar 5 sentimeter.
Sementara itu, Petugas Bendungan Karet Cilet Fajar membenarkan kerusakan teknis tersebut. Ia menyebut ada sobekan pada bagian karet sehingga bendungan tidak berfungsi.
“Air yang meluap justru masuk ke dalam karet bendungan, padahal kami sudah berupaya mengosongkan atau mengempeskannya,” jelas Fajar.
Ia mengatakan kerusakan ini telah dilaporkan ke pimpinan agar segera dilakukan langkah perbaikan.
