Bandung –
Ka’bah merupakan bangunan suci yang menjadi pusat ibadah umat Islam dari berbagai penjuru dunia. Sejak dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim alaihisalam atas petunjuk dari Allah, Tuhan Semesta Alam, berbagai peristiwa penting terjadi di seputar Ka’bah.
Salah satunya adalah penunjukan pemegang kunci Ka’bah. Dikutip dari detikHikmah, ternyata, pemegang kunci Ka’bah bukan Raja Arab Saudi atau keluarganya. Orang yang memegang kunci Ka’bah, yang juga disebut Khatib al-Haramain atau Khatib al-Masjid al-Haram, bertugas membuka dan menutup pintu Ka’bah.
Selain itu, mereka juga memiliki tanggung jawab penting untuk menjaga keamanan dan kelancaran ibadah di Masjidil Haram, terutama saat jamaah melakukan thawaf dan ibadah lainnya.
Ternyata, amanah ini sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW dan diteruskan secara turun-temurun hingga sekarang.
Siapa Pemegang Kunci Ka’bah saat Ini?
Setelah peristiwa Fathu Makkah pada tahun 630 M atau 20 Ramadan 8 H, ketika Nabi Muhammad SAW bersama pasukan berhasil merebut Makkah dan membersihkan Ka’bah dari berhala, muncul amanah penting terkait kunci Ka’bah.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam bukunya Zadul Ma’ad Jilid 4 menceritakan bahwa Utsman bin Thalhah dipilih oleh Rasulullah SAW sebagai juru kunci Ka’bah.
Saat itu Rasulullah SAW bersabda kepada Utsman, “Wahai Utsman, berikanlah kepadaku kunci Ka’bah.” Setelah menerima kunci, Rasulullah SAW kemudian menyerahkannya kembali kepada Utsman dengan pesan penting,
“Ambillah kunci ini selamanya. Tidak ada yang merampasnya dari kalian kecuali orang yang zalim. Wahai Utsman, sesungguhnya Allah SWT telah memberi kalian amanah atas penjagaan rumah-Nya. Maka makanlah dari apa-apa yang diberikan kepada kalian dari rumah Allah SWT ini dengan cara yang makruf.”
Ketika Utsman wafat, kunci Ka’bah diwariskan kepada saudaranya, Syaibah, dan sejak saat itu kunci Ka’bah terus diwariskan secara turun-temurun oleh anak cucu keturunan Bani Syaibah.
Siapa yang Pertama Kali Memegang Kunci Ka’bah dan Bagaimana Sejarahnya?
Pada abad ke-5 Masehi, ada seorang pria bernama Qushayyi yang menikah dengan Hubayya, putri Hulail Al-Khuza’y, keluarga yang memegang kekuasaan di Hijaz dan menjaga Ka’bah serta urusan perdagangan di Makkah. Qushayyi sendiri berasal dari keluarga bangsawan, cerdas, dan bijaksana. Qushayyi bahkan berhasil menyatukan suku-suku yang sebelumnya terpecah.
Ketika mertuanya mendekati ajal, mertuanya tersebut mewariskan kekuasaan di Hijaz dan tanggung jawab menjaga kunci Ka’bah awalnya kepada putrinya, Hubayya. Namun, Hubayya menolak karena merasa tidak mampu.
Wasiat tersebut kemudian ditawarkan ke putra mertuanya yang lain, tapi juga ditolak. Akhirnya, tanggung jawab tersebut diserahkan kepada Qushayyi, meski pada awalnya ada keberatan dari pihak keluarga.
Penunjukan Qushayyi sempat menimbulkan ketidakpuasan, bahkan memicu perselisihan dengan Bani Khuza’ah. Namun melalui perundingan damai, Qushayyi ditunjuk sebagai hakim untuk menyelesaikan konflik.
Keputusan akhirnya, kunci Ka’bah tetap di tangan keturunan Ismail, sementara Qushayyi menjadi penguasa di Hijaz.
Qushayyi dikenal sebagai Mujammi atau pengumpul, karena berhasil menyatukan berbagai kabilah Arab dan membentuk enam majelis untuk mengatur pemerintahan Makkah, mulai dari air, makanan, keamanan Ka’bah, hukum, ketentaraan, hingga bendera perang.
Berkat kepemimpinannya, Makkah dan sekitarnya berkembang pesat, terutama di bidang perdagangan.
Ketika Qushayyi menua, ia mewariskan kekuasaan dan kunci Ka’bah kepada anaknya Abdu Manaf, yang kemudian diteruskan ke Hasyim, kakek buyut Nabi Muhammad SAW.
Kemudian Hasyim mewasiatkan tanggung jawab itu kepada Abdul Muthalib, yang menjadi pemegang jabatan tinggi dan penjaga Ka’bah, serta kakek dari Nabi Muhammad SAW.
Itulah penjelasan tentang siapa yang saat ini memegang kunci Ka’bah. Semoga informasi ini berguna dan menambah pengetahuan kamu, ya!
