Bandung –
Tradisi ziarah kubur menjelang bulan Ramadan dikenal luas di berbagai daerah di Indonesia. Umumnya, ritus ini disebut Nyadran. Sementara masyarakat Sunda lebih akrab dengan istilah Nyekar atau Nadran. Meski berbeda nama, ketiganya memiliki akar sejarah dan makna yang serupa, yakni penghormatan kepada leluhur sekaligus persiapan spiritual menyambut bulan suci.
Dalam Nadran, keluarga atau ahli waris orang yang telah mendahului itu berdoa untuk pengampunan dosa. Doa itu, disimbolkan pula melalui bunga segar yang ditabur di atas kuburan. Bunga-bunga itu menjadi penanda doa terus ‘terlantun’ sebelum bunga mengering.
Namun, dari manakah tradisi ini berasal? Bagaimana asal-usul nyadran? Simak artikel ini sampai tuntas yuk!
Asal Usul Nyadran
Dikutip dri Ernawati Purwaningsih, dkk. dalam buku ‘Kearifan Lokal dalam Tradisi Nyadran Masyarakat Sekitar Situs Liangan’ (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta, 2016), secara historis, tradisi Nyadran berakar dari ritual Shraddha pada masa Hindu Kuna di Jawa.
Shraddha merupakan upacara keagamaan yang ditujukan untuk mendoakan arwah leluhur sebagai bentuk manifestasi iman dan penghormatan kepada nenek moyang. Ritual ini juga menjadi sarana ungkapan rasa syukur atas limpahan air dan kesuburan alam.
“…shraddha berarti ritual yang ditujukan dengan manifestasi iman untuk mendoakan dan mendekatkan diri pada nenek moyang (Dilipsinh, 2004: 66),” tulis buku tersebut.
Dalam kepercayaan Hindu kuno, dikenal konsep Pitru-loka, yakni alam tempat bersemayamnya jiwa para leluhur yang terletak di antara bumi dan langit. Melalui ritual Shraddha, masyarakat meyakini arwah leluhur akan memperoleh tempat yang layak di alam tersebut serta mendapatkan bekal spiritual menuju pembebasan akhir atau mukti.
Ritual Shraddha awalnya dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu, seperti hari kematian seseorang atau pada momen khusus yang ditentukan melalui perhitungan kalender keagamaan. Salah satu puncaknya adalah Amawasya, hari terakhir Pitru Paksha, yang dikhususkan untuk mendoakan seluruh leluhur, termasuk yang tidak diketahui tanggal wafatnya.
Transformasi dengan Masuknya Islam
Seiring perjalanan waktu, ritual-ritual tersebut mengalami transformasi. Masuknya Islam ke Nusantara tidak serta-merta menghapus tradisi lama, melainkan melahirkan proses sinkretisme budaya. Shraddha kemudian bertransformasi menjadi Nyadran atau Sadranan, yang esensinya bergeser menjadi ziarah kubur, doa bersama, dan sedekah makanan.
Di Jawa, istilah Nyadran diyakini berasal dari kata Shraddha yang mengalami perubahan fonetik menjadi nyraddha dan kemudian nyadran. Tradisi ini tercatat berkembang pesat pada masa Kerajaan Majapahit dan terus berlanjut hingga era Islam dengan penyesuaian nilai dan praktik keagamaan.
“Kata nyadran berasal dari kata Sraddha, kemudian menjadi nyraddha, dan nyraddhan. P.J. Zoetmulder melakukan penelitian terhadap kitab Kalangwa dengan bantuan beberapa ahli sastra dan bahasa Jawa dan ahli ahli budaya menghasilkan kesimpulan bahwa upacara Shraddha sendiri dilakukan oleh masyarakat Hindu di Jawa. Upacara Shraddha kemudian diselenggarakan secara besar dan megah pada masa Kerajaan Majapahit abad XIV4.” tulis buku tersebut.
Nyekar di Jawa Barat
Sementara itu, di wilayah Sunda, praktik serupa dikenal sebagai Nyekar atau Nadran. Nyekar merujuk pada kegiatan menabur bunga dan berdoa di makam keluarga, sedangkan Nadran selian bermakna ziarah kubur jelang Ramadan, di beberapa daerah pesisir seperti Kabupaten Indramayu, juga berkaitan dengan ritual syukuran dan doa bersama. Menurut Kamus Sundadigi, baik Nyekar maupun Nadran maknanya adalah ziarah kubur.
Dalam praktiknya saat ini, Nyadran tidak hanya dimaknai sebagai ritual spiritual, tetapi juga sebagai momentum sosial. Masyarakat berkumpul, membersihkan makam, berbagi makanan tradisional, dan mempererat hubungan kekeluargaan serta sosial lintas generasi.
