Bandung –
Kue keranjang atau yang biasa disebut dodol Cina merupakan kudapan wajib khas Imlek. Setiap Tahun Baru Imlek, kue ini hampir selalu hadir di meja dan altar sembahyang keluarga Tionghoa. Meski untuk keperluan ritual ada aturan bakunya, tak jarang demi tujuan konsumsi dan meraih pasar yang lebih luas, kue keranjang kini tersaji dalam berbagai varian rasa.
Fenomena ini membuat kue keranjang tak lagi semata-mata identik dengan rasa gula merah klasik. Inovasi rasa menghadirkan pilihan yang lebih beragam, sehingga bukan hanya warga Tionghoa yang bisa menyantapnya, tetapi juga masyarakat Indonesia secara umum bisa menikmati. Bahkan, sebagian produk dodol Cina ini sudah mencantumkan label halal pada kemasannya.
Berdasarkan penelusuran di berbagai marketplace online, banyak penjual menawarkan kue keranjang dengan aneka rasa seperti cokelat, durian, hingga pandan. Variasi rasa tersebut juga memengaruhi tampilan visualnya. Jika dulu identik dengan warna cokelat tua mengilap, kini ada kue keranjang berwarna hijau, merah muda, bahkan putih susu.
Lantas, apa saja varian rasa kue keranjang yang beredar di pasaran?
9 Varian Rasa Kue Keranjang yang Populer
Berikut daftar varian rasa kue keranjang atau dodol Cina yang kini banyak diminati konsumen:
1. Original/Klasik
Rasa gula merah atau gula putih yang legit dan kenyal. Varian ini tetap menjadi standar utama, terutama untuk kebutuhan ritual Imlek.
2. Pandan
Berwarna hijau dengan aroma wangi khas daun pandan. Varian ini menjadi primadona karena menghadirkan sentuhan rasa Nusantara.
3. Durian
Memiliki aroma kuat dan khas. Cocok untuk pencinta buah durian yang ingin sensasi berbeda dalam menikmati kue keranjang.
4. Cokelat
Varian modern dengan rasa manis cokelat. Biasanya menyasar segmen anak-anak dan remaja.
5. Kelapa/Kopyor
Menghadirkan rasa gurih dengan tekstur lebih kaya berkat campuran kelapa.
6. Cempedak
Varian buah yang unik dengan aroma manis khas, mirip nangka namun lebih lembut.
7. Wijen
Memiliki aroma wijen sangrai yang harum dan rasa gurih-manis yang seimbang.
8. Frambos/Stroberi
Varian buah dengan warna menarik dan rasa manis segar.
9. Vanila
Rasa lembut dan creamy, cocok bagi yang tidak terlalu menyukai rasa manis pekat.
Produsen Punya Ciri Khas Dodol Cina Masing-masing
Diversifikasi rasa kue keranjang menjadi bukti adaptasi tradisi dalam industri kuliner modern. Produsen tidak lagi bergantung pada rasa karamel tradisional, melainkan mengembangkan spektrum rasa lebih luas demi menjangkau konsumen lintas generasi.
Di sejumlah daerah seperti Tegal, Tangerang, hingga Belitung, produsen menghadirkan inovasi produk dengan keunikan masing-masing. Beberapa produsen yang dikenal di antaranya:
Ny. Lauw (Lauw Kim Wie) – Tangerang
Mengusung metode tradisional dengan bungkus daun pisang dan proses fermentasi hingga sebulan.
Fu Sariayu – Belitung
Menggunakan 100 persen gula murni tanpa pengawet dan beras ketan asli.
Ny. Tan – Solo
Dikenal dengan tekstur sangat lembut dan kemasan berbentuk teratai.
Cemerlang – Tegal
Menawarkan varian mini dengan kombinasi rasa seperti original, pandan, dan cokelat.
Hoki by Kim Hin
Berbasis bahan alami dan dirintis sejak 1988.
Juni Law
Memiliki kemasan merah elegan dengan tekstur legit dan lembut.
Banyak produsen kini juga menjual versi mini dalam satu paket berisi beberapa rasa sekaligus. Strategi ini memudahkan konsumen mencicipi berbagai varian dalam satu pembelian. Meski demikian, rasa original tetap menjadi pilihan utama untuk kebutuhan sembahyang dan ritual formal.
Sepintas Sejarah Kue Keranjang
Menurut arsip dalam artikel ‘Mengenal Kue Keranjang, Manisan Tradisi Saat Imlek’, masyarakat Indonesia kerap menyebutnya dodol Cina karena tekstur dan proses pembuatannya mirip dodol lokal. Keduanya berbahan dasar tepung ketan dan gula merah, serta dimasak berjam-jam hingga mengental.
Dalam tradisi Tionghoa, kue ini dikenal sebagai Nian Gao. Secara harfiah, Nian berarti tahun dan Gao berarti kue. Bentuknya yang bulat tanpa sudut melambangkan keutuhan dan kesatuan keluarga.
Jejak sejarah Nian Gao dapat ditelusuri hingga Dinasti Zhou (1046-256 SM). Awalnya, kue ini merupakan persembahan sakral bagi dewa dan leluhur.
Salah satu cerita populer berkaitan dengan Dewa Dapur. Dalam kepercayaan tradisional Tionghoa, Dewa Dapur melaporkan perilaku keluarga kepada Kaisar Langit setiap akhir tahun. Untuk “memaniskan laporan”, keluarga menyuguhkan kue yang lengket dan manis agar sang dewa hanya menyampaikan hal baik.
Ragam Kue Keranjang Berdasarkan Daerah
Selain varian rasa modern, secara tradisional kue keranjang juga memiliki beberapa jenis berdasarkan daerah asalnya:
Kue Keranjang Jujube
Populer di Beijing dan wilayah Tiongkok utara. Menggunakan buah jujube (kurma merah) sebagai campuran atau isian.
Kue Keranjang Gula Merah
Varian klasik yang umum di Indonesia. Dikukus 10-12 jam hingga berwarna cokelat tua mengilap.
Kue Keranjang Kincir Air
Berasal dari Zhejiang. Berwarna putih dan cenderung tawar, biasanya diolah kembali dengan cara ditumis atau dijadikan sup.
Kura-kura Merah (Ang Ku Kueh)
Meski berbeda dari Nian Gao, kue ini sering hadir saat Imlek. Berwarna merah terang dengan isian kacang hijau manis.
Etika dan Nilai Tradisi dalam Pembuatan
Dalam tradisi lama, proses pembuatan kue keranjang tidak sekadar teknis, tetapi juga mengandung nilai etis dan spiritual. Pembuatnya diharapkan menjaga kebersihan batin, fokus, dan tidak memiliki prasangka buruk.
Jika dilanggar, diyakini kue bisa mengalami cacat fisik seperti lembek, pucat, atau terlalu keras. Di beberapa komunitas, terdapat pula pantangan tertentu bagi perempuan yang sedang menstruasi untuk terlibat dalam proses pembuatan, terutama jika diperuntukkan bagi ritual.
Kue keranjang kini bukan hanya simbol tradisi Imlek, tetapi juga contoh bagaimana kuliner bisa beradaptasi dengan zaman. Dari rasa gula merah klasik hingga cokelat dan stroberi modern, kehadirannya menjadi jembatan budaya yang dapat dinikmati lintas kalangan.
