Sukabumi –
Di balik rimbunnya pohon Kalujaran yang dahannya saling bertautan membentuk terowongan hijau alami, tersimpan sebuah permukiman yang seolah terhenti detak jantungnya.
Kampung Sawahgarung di Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi ini lebih dikenal warga luar dengan sebutan ‘Kampung Sidat’.
Namun, kesegaran visual dari kanopi hijau yang meneduhi jalanan tanah di sana berbanding terbalik dengan sunyinya kehidupan sosial yang tersisa.
Nama ‘Kampung Sidat’ lahir dari masa keemasan perburuan impun atau bibit ikan sidat pada medio 2015-2016. Saat itu, kawasan di tepian muara Sungai Cimandiri ini menjadi magnet bagi para pemburu rupiah.
Dayat (52), salah satu penghuni yang masih setia bertahan, mengenang bagaimana nama itu melekat secara organik karena aktivitas warganya.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
“Dulunya kan banyak nelayan pencari impun sidat. Jadi semuanya di sini berkumpul nelayan akhirnya dinamai Kampung Sidat,” ujar Dayat, Kamis (12/2/2024).
Kini, kejayaan itu hanya menyisakan jejak-jejak fisik yang merana. Deretan rumah berdinding kayu dan anyaman bambu banyak yang berdiri dalam kondisi kosong tanpa penghuni. Pintu-pintunya terkunci, meninggalkan lantai tanah yang kian berdebu.
Menurut Dayat, rumah-rumah itu merupakan tempat singgah yang kini ditinggalkan karena sumber daya alam yang menipis. Kampung ini telah berubah menjadi kampung musiman; ramai saat ada sidat, mati suri saat sidat hilang.
“Kalau rumah-rumah yang di sana itu kosong sekarang karena impun nggak ada. Dulu kan banyak pengepul tinggal di situ, sekarang pada di Loji, di Cihurang. Kalau sidat banyak, baru pada tinggal di sini,” kata Dayat menjelaskan fenomena keluar-masuknya warga berdasarkan musim ikan.
Salah satu saksi bisu yang paling memilukan dari sepinya kampung adalah sebuah musala. Bangunan kecil yang seharusnya menjadi pusat spiritual warga itu kini tampak terbengkalai. Keriuhan jemaah yang dulu mengisi saf-safnya kini lenyap seiring perginya para pencari sidat.
“Iya, kalau banyak orang kan itu dipakai. Kalau ramai sidat, banyak orang di sini, kalau hari Jumat baru di situ,” ungkap Dayat.
Hilangnya ekonomi sidat juga berdampak drastis pada demografi penduduk. Generasi produktif memilih hengkang, menyisakan para orang tua yang bertahan menjaga gubuk-gubuk kayu mereka.
“Betul, yang anak muda mah ke kota semuanya. Jadi tinggal nenek-nenek dan kakek-kakek di sini. Di kampung ini hanya dihuni 8 keluarga,” tambah Dayat merinci sisa penduduk yang bertahan.
Mereka yang tersisa, seperti Dayat, terpaksa berdamai dengan keadaan. Jika dulu mereka memburu “emas hitam” di muara, kini mereka memungut sisa-sisa peradaban berupa sampah plastik demi menyambung hidup.
“Nah karena sidat sudah enggak ada, sekarang pada ngambil plastik, botol aqua. Masuknya kan rongsok. Jadi sampah-sampah di sini justru jadi berkah,” pungkasnya.
Fenomena kampung yang mati suri ini tidak lepas dari hukum ekonomi makro yang dijelaskan oleh Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi, Sri Padmoko. Menurutnya, lesunya kampung ini adalah dampak langsung dari anjloknya permintaan pasar global yang tidak lagi mampu menyerap suplai.
“Yah, permintaan yang menurun. Suplainya tetap, permintaan menurun. Hukum ekonomi kan, otomatis harga menjadi turun gitu,” jelas Sri Padmoko.
Kini, Kampung Sidat berdiri dalam kesunyian, menanti keajaiban pasar atau musim yang mungkin tak akan pernah kembali seramai dulu.
“Sementara di Jepang atau di mana permintaannya sedang turun,” tutup Sri Padmoko.
“
