Bandung –
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan membeberkan potensi masalah yang akan terjadi saat pembangunan BRT Bandung Raya. Menurut Farhan, proyek angkutan massal itu akan menimbulkan kemacetan bagi masyarakat.
“Saya ingin melihat gambar teknisnya dulu. Karena bagaimanapun juga gini, BRT itu membawa risiko kemacetan dan ketidaknyamanan yang sangat berat,” katanya, Rabu (11/2/2026).
Farhan berencana menghadap ke Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan. Sebab diketahui, proyek BRT Bandung Raya akan berdampak di sepanjang Jalan Ahmad Yani hingga ke Cibeureum, termasuk dari Rajawali hingga Tegalega dan Pasar Baru.
“Ini saya peringatkan, pembangunan konstruksi BRT akan membawa konsekuensi ketidaknyamanan dan kemacetan yang sangat berat. Jadi kita harus mampu menanggungnya bersama-sama,” ungkapnya.
“Komunikasi dengan semua orang yang terdampak. Karena banyak yang membayangkan sekarang masih lancar-lancar saja, tiba-tiba separuh jalan ditutup baru protes,” tambahnya.
Proyek BRT Bandung Raya sendiri akan berdampak kepada para juru parkir di Kota Bandung. Mereka rencananya akan diberi kompensasi selama 3 bulan, setelah itu Pemkot Bandung akan mencari solusi yang lain bagi mereka yang kehilangan pekerjaan.
“Tapi yang terdampak tidak hanya parkir, banyak yang lain. Kita harus memastikan jangan sampai BRT ini pembangunannya tidak menimbulkan ketidakkenyamanan, lalu setelah terjadi, ternyata banyak yang harus menyesuaikan diri dan jadi repot. Nah ini yang harus kita kelola lewat sebuah rekayasa sosial,” pungkasnya.
