Ciamis –
Suasana Kelenteng Hok Tek Bio di Jalan Pemuda, Kabupaten Ciamis, tampak lebih hidup pada Minggu (8/2/2026) siang. Kelenteng yang biasanya lengang itu mendadak ramai oleh warga Tionghoa Ciamis yang datang untuk melaksanakan tradisi tahunan menjelang Imlek.
Sejumlah pengurus kelenteng dan warga sekitar bahu-membahu membersihkan serta menata rumah ibadah tersebut. Mereka bersiap menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.
Di akhir pekan ini, Kelenteng Hok Tek Bio menggelar Kimsin, yakni tradisi membersihkan dan memandikan rupang atau patung dewa. Ritus ini rutin dilakukan sepekan menjelang Imlek dan diyakini sarat makna spiritual, melampaui sekadar aksi bersih-bersih fisik.
Di dalam kelenteng, deretan baskom merah berisi air bersih bertabur bunga mawar dan wewangian telah disiapkan. Suasana di depan meja altar terasa khidmat saat satu per satu rupang diturunkan dengan penuh kehati-hatian oleh para jemaat.
Jubah yang membalut patung dewa ditanggalkan untuk dibersihkan secara terpisah. Debu yang menempel pada rupang disapu perlahan sebelum patung dimasukkan ke dalam air bunga. Setelah bersih, rupang dikeringkan dengan handuk halus, lalu dikenakan pakaian baru sebelum dikembalikan ke altar yang telah resik.
Bagi umat, ritual ini merupakan simbol persiapan menyambut para dewa yang akan “naik ke khayangan” menjelang pergantian tahun. Rupang yang bersih menjadi perlambang laporan bahwa umat telah menata diri dan lingkungan dengan sebaik-baiknya.
Beberapa rupang yang dimandikan di antaranya adalah Hok Tek Cheng Sin, sosok “tuan rumah” yang namanya diabadikan sebagai nama kelenteng tersebut. Selain itu, terdapat pula Dewa Tu Ti Kung, Tu Ti Po, Wu Lu Cai Sen, Hian Thian Siang Tee, Fu Sen, hingga Dewi Kwan Im (Kwan Im Pau Sat). Total ada tujuh altar yang seluruh rupangnya dibersihkan dalam tradisi Kimsin.
Bendahara Kelenteng Hok Tek Bio, Purwanto Senjaya, mengatakan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian penting dalam rangkaian menyambut Imlek. Meski secara kalender biasanya dilaksanakan pada 11 Februari, pihak kelenteng memilih hari Minggu agar lebih banyak umat yang dapat terlibat.
“Karena kita kebiasaannya ambil hari Minggu, sekalian jadi hari persaudaraan. Kita semua gotong royong bersih-bersih, karena mau menghadapi Imlek. Kita mandi, beliau (Patung dewa) juga mandi. Ada maknanya di situ, membersihkan semuanya,” tutur Purwanto.
Menurutnya, tujuh altar yang ada di Kelenteng Hok Tek Bio merepresentasikan beragam nilai kebajikan. Ada dewa kebajikan, dewa welas asih, dewa pengobatan, dewa rezeki, hingga dewa keadilan. Semua dihormati sebagai sarana pengingat nilai-nilai kehidupan.
Terkait pelaksanaan tahun ini, Purwanto menyebut tidak ada perubahan signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Namun, ia menekankan bahwa harapan yang dipanjatkan umat kini terasa kian besar.
“Kita berharap di tahun baru ini semua bisa bangkit. Terutama perekonomian. Negara aman, makmur, dan rakyat bisa sama-sama merasakannya,” ucapnya.
Purwanto turut menanggapi perihal Imlek 2577 yang merupakan tahun Shio Kuda Api. Menurutnya, tafsir shio bisa berbeda-beda, tergantung pada sudut pandang masing-masing individu.
“Ada yang bilang bagus, ada juga yang bilang sebaliknya. Tapi ya dikembalikan ke kita masing-masing. Bagaimana kita menyikapinya,” katanya.
Rangkaian perayaan Imlek di Kelenteng Hok Tek Bio tak hanya sebatas membersihkan patung dewa. Puncak sembahyang akan berlangsung pada 17 Februari, disusul perayaan Cap Go Meh pada 3 Maret mendatang.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, perayaan itu akan diramaikan dengan sembahyang bersama, barongsai, dan hiburan yang terbuka untuk masyarakat,” pungkasnya.
