Pernahkah seseorang bercerita tentang kesedihan yang mendalam, kehilangan pekerjaan, atau kegagalan akademis, lalu respons yang diterima hanyalah kalimat klise atau malah membandingkannya dengan masalah orang lain? Sekilas, kalimat tersebut terdengar bijak dan suportif. Namun, tanpa disadari, respons semacam itu dapat menjadi racun yang memiliki dampak negatif yang signifikan bagi kesehatan mental seseorang. Fenomena ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai toxic positivity.
Di era digital yang menuntut kesempurnaan visual dan emosional, masyarakat sering kali terjebak dalam ilusi bahwa manusia harus selalu bahagia. Padahal, emosi manusia itu spektrum yang luas, mulai dari sukacita hingga duka lara.
Secara sederhana, toxic positivity adalah keyakinan bahwa seseorang harus mempertahankan pola pikir positif terus-menerus, terlepas dari seberapa sulit atau menyakitkan situasi yang sedang dihadapi. Dr. Jaime Zuckerman, seorang psikolog klinis menjelaskan bahwa toxic positivity terjadi ketika emosi negatif dibungkam, diabaikan, atau tidak divalidasi.
Alih-alih memberikan dukungan, pendekatan ini menuntut penyangkalan terhadap realitas. Dalam konteks kesehatan mental, ini adalah bentuk emotional invalidation atau penolakan terhadap validitas perasaan seseorang. Emosi alami seperti sedih, marah, kecewa, atau takut dianggap sebagai suatu kelemahan, bukan sebagai respons manusiawi yang wajar.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Terdapat beberapa faktor pendorong yang membuat toxic positivity menjamur di tengah masyarakat Indonesia:
Algoritma media sosial cenderung memprioritaskan konten yang estetik dan bahagia. Hal ini menciptakan standar semu bahwa hidup yang sukses adalah hidup tanpa keluhan. Pengguna Instagram atau TikTok sering merasa tertekan untuk selalu menampilkan sisi terbaik, yang akhirnya mengaburkan realitas.
Dalam budaya kolektif tertentu, mengeluh sering dianggap sebagai tanda kelemahan iman atau kurang bersyukur. Padahal, mengeluh adalah mekanisme pelepasan beban yang wajar jika dilakukan pada porsinya.
Banyak orang tidak tahu bagaimana cara merespons kesedihan orang lain. Memberikan solusi instan atau kalimat penyemangat klise sering kali menjadi jalan pintas karena ketidakmampuan untuk sekadar hadir dan mendengarkan.
Sering kali batas antara dukungan tulus dan racun positif sangat tipis. Berikut adalah beberapa indikator utama yang membedakannya:
• Menyembunyikan perasaan sebenarnya karena merasa harus memakai topeng bahagia meski hati sedang sangat sedih.
• Merasa bersalah karena sedih karena muncul perasaan bahwa bersedih adalah sebuah dosa atau kesalahan, sehingga timbul rasa bersalah sekunder.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
• Mengecilkan masalah orang lain dengan menggunakan kalimat perbandingan seperti “Orang lain lebih menderita” untuk mematikan validasi emosi lawan bicara.
• Menghindari masalah alih-alih menghadapi konflik atau emosi negatif dengan memilih untuk mengalihkan perhatian dan berpura-pura masalah tersebut tidak ada.
Agar tidak terjebak dalam kepalsuan emosi, penting untuk memahami batasan antara semangat yang sehat dan racun positif. Berikut adalah perbedaannya:
Penerimaan realitas, optimisme sehat selalu berpijak pada kenyataan. Seseorang yang optimis berani mengakui bahwa situasi sedang buruk atau sulit, namun tetap memiliki harapan untuk bangkit. Sebaliknya, toxic positivity bekerja dengan cara penyangkalan (denial), yaitu menolak mengakui fakta negatif dan berpura-pura bahwa masalah tidak ada.
Validasi emosi, optimisme memberi ruang bagi emosi negatif untuk hadir. Kalimat seperti “Wajar saya sedih, ini berat,” adalah bentuk penerimaan diri. Sementara itu, toxic positivity cenderung membungkam perasaan. Emosi negatif seperti marah atau kecewa dianggap sebagai “gangguan” yang harus segera dimatikan dengan jargon “Good vibes only” atau “Jangan mengeluh”.
Sifat dukungan dalam interaksi sosial, optimisme menawarkan empati dan telinga untuk mendengar keluh kesah. Sedangkan toxic positivity sering kali hadir dengan nada menghakimi. Orang yang mengeluh sering kali dilabeli sebagai sosok yang kurang bersyukur atau lemah mental, sehingga membuat penderitaan mereka semakin terisolasi.
Manusia didesain untuk merasakan berbagai emosi. Menekan emosi justru meningkatkan aktivitas sistem saraf simpatik. Artinya, ketika seseorang menahan tangis atau pura-pura tersenyum saat hati merasa tertekan, tubuh justru mengalami stres fisik yang lebih tinggi.
Dampak jangka panjang dari penekanan emosi ini sangat serius. Mengabaikan emosi negatif dapat memicu:
• Penderita toxic positivity enggan bercerita karena takut dihakimi sebagai orang yang kurang bersyukur atau lemah.
• Emosi yang tidak tersalurkan akan menumpuk. Akumulasi emosi ini bisa meledak menjadi gangguan kecemasan (*anxiety disorder*) atau depresi mayor.
• Stres emosional yang bermanifestasi menjadi sakit fisik seperti sakit kepala, gangguan lambung, atau kelelahan kronis.
Bagaimana cara melindungi diri dari dampak buruk ini? Berikut adalah langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:
Langkah pertama adalah menerima perasaan sendiri. Sadari bahwa marah, kecewa, dan sedih adalah respons valid terhadap situasi yang tidak menyenangkan. Tidak perlu meminta izin orang lain untuk merasakan emosi tersebut.
Jika konten-konten motivasi di media sosial justru membuat diri merasa kurang atau bersalah, maka membatasi akses adalah langkah bijak. Algoritma media sosial sering kali memperkuat bias positivitas yang tidak realistis.
Menuliskan apa yang dirasakan tanpa penyuntingan dapat membantu mengurai benang kusut di kepala. Teknik ini dikenal sebagai expressive writing dan telah terbukti secara ilmiah mampu menurunkan tingkat stres.
Berkumpullah dengan orang-orang yang mampu menjadi pendengar aktif. Lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang mengizinkan anggotanya untuk tampil rentan tanpa takut dihakimi.
Terkadang, mengelola emosi sendirian terasa terlalu berat. Bantuan profesional dari psikolog atau psikiater diperlukan jika:
• Emosi negatif mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari (pekerjaan, sekolah, hubungan).
• Mengalami gangguan tidur atau makan yang ekstrem.
• Muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri.
• Perasaan hampa atau putus asa berlangsung lebih dari dua minggu berturut-turut.
Menjadi positif adalah hal yang baik, tetapi menjadi jujur pada diri sendiri jauh lebih penting. Toxic positivity memaksa manusia untuk memotong sebagian dari kemanusiaannya-yaitu kemampuan untuk berduka dan merasakan sakit. Kesehatan mental yang sejati tercapai bukan dengan menolak emosi negatif, melainkan dengan merangkul, memproses, dan memahaminya. Semoga bermanfaat!
