Saat Sunda dan Bali Menyatu di Saung Karuhun Kuningan

Posted on

Langkah pertama melewati gapura kayu beratap daun ijuk berbentuk kerucut, suasana berbeda langsung terasa. Nuansa Sunda berpadu Bali menyambut pengunjung yang datang ke Saung Karuhun Kuningan, sebuah tempat nongkrong di tengah hamparan sawah yang menawarkan ketenangan jauh dari hiruk pikuk kota.

Di sisi kiri dan kanan pintu masuk, tembok bambu berpadu daun ijuk berwarna cokelat berdiri kokoh, mengantarkan pengunjung menuju area utama saung. Pepohonan rindang meneduhkan langkah, batangnya dililit kain kotak-kotak khas Bali. Payung-payung hias, lampu gantung dari kurungan kayu, kendaraan antik, hingga topi kayu petani tersusun apik, memperkuat suasana tradisional yang hangat dan meriah.

Di sudut lain, sebuah panggung kecil berdiri sebagai ruang hiburan. Deretan alat musik tradisional Sunda berupa angklung dipajang rapi di dinding kayu, tepat di atas bangku dan meja yang bisa digunakan pengunjung untuk duduk santai. Di tempat ini, nongkrong terasa lebih dekat dengan budaya.

Letak Saung Karuhun yang berada di tepi sawah membuat hawa sejuk langsung menyergap begitu memasuki area saung. Dari sini, mata dimanjakan oleh terasering sawah milik warga serta aliran sungai yang bermuara langsung ke Waduk Darma. Panorama alam itulah yang menjadi daya tarik utama, terlebih saat sore menjelang malam, ketika lampu-lampu rumah penduduk mulai berkelip.

Pengelola Saung Karuhun, Nurcholis Dwi Pamungkas, mengungkapkan bahwa konsep Sunda Bali memang sengaja dihadirkan untuk menyatu dengan lanskap alam sekitar.

“Konsepnya Sunda Bali karena melihat dari suasana terasering sawahnya yang banyak orang bilang mirip di Ubud, Bali. Karena sebelum Waduk Darma dinormalisasi itu di sini persawahan yang indah. Cuman sekarang sudah dinormalisasi jadi aliran Waduk Darmanya bisa terlihat. Terus biar kuat, dikasih ornamen balinya kayak kain putih dan payung,” tutur Nurcholis belum lama ini.

Tak hanya mengandalkan suasana, Saung Karuhun juga menawarkan sajian kuliner khas. Menu andalannya adalah nasi liwet yang disajikan dadakan, serta berbagai jenis kopi khas Kuningan yang diambil langsung dari para petani lokal.

“Menunya kita ada di paket liwet, yang dibuat khusus dengan cara dadakan. Jadi alangkah baiknya reservasi dulu. Di sini juga kita pakainya kopi khas Kuningan, dari mulai arabika, robusta dan liberika, yang kita pakai dan kita roasting sendiri. Untuk harganya mulai dari Rp 15.000,” tutur Nurcholis.

Sejumlah fasilitas pendukung turut disediakan, mulai dari toilet, musala, hingga area karaoke yang bisa dinikmati pengunjung. Bagi sebagian orang, Saung Karuhun bukan sekadar tempat makan, tetapi ruang untuk beristirahat dari rutinitas.

Hal itu dirasakan Romadon (23), salah satu pengunjung yang datang untuk bersantai bersama teman.

“Suasana alamnya sejuk ditambah ada suara aliran sungai yang alami. Cocok untuk digunakan sebagai tempat bersantai, nongkrong atau berlibur bersama keluarga dan teman. Untuk orang orang yang penat dari hiruk pikuk kehidupan perkotaan, ini tempat recomended banget karena menawarkan suasana alam dan ketenangan,” tuturnya.

Saung Karuhun Kuningan berlokasi di Desa Sakerta Timur, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan. Akses menuju lokasi terbilang mudah. Dari Kota Cirebon, pengunjung bisa melaju lurus melalui Jalan Raya Cirebon-Kuningan, lalu belok kanan di Alun-alun Kuningan menuju Jalan Veteran. Dari sana, lanjut lurus dan belok kiri ke Jalan Sakerta Timur hingga terlihat bangunan bernuansa Bali di tengah persawahan.