Cirebon –
Harapan Sri Puspitasari (67) dan suaminya, Hadiyanto (53), untuk memiliki rumah yang lebih aman mulai menemukan titik terang. Rumah mereka yang beralamat di Kelurahan Pekalipan, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon itu kini mulai diperbaiki.
Rumah itu menjadi perhatian setelah kondisinya dinilai membahayakan. Atap yang bolong, rangka kayu lapuk, serta sebagian bangunan yang sempat ambruk membuat pasangan lanjut usia itu hidup dalam rasa waswas, terutama saat hujan turun.
Kini, proses rehabilitasi telah berjalan. Sejumlah personel dari Polres Cirebon Kota mulai membersihkan puing-puing dan membongkar bagian rumah yang sudah rapuh.
Barang-barang milik Sri dan Hadiyanto pun untuk sementara dipindahkan agar tidak rusak selama proses perbaikan berlangsung.
Kapolres Cirebon Kota AKBP Eko Iskandar mengatakan rumah yang ditinggali pasangan tersebut menjadi prioritas perbaikan setelah dilakukan pengecekan langsung.
“Ini bentuk respons cepat kami terhadap kondisi warga yang memang membutuhkan hunian yang lebih layak,” kata Eko di Kota Cirebon, Jumat (27/2/2026).
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Berdasarkan hasil pengecekan, bangunan itu dikategorikan sebagai rumah tidak layak huni (rutilahu). Kondisi itu dinilai berisiko bagi keselamatan penghuninya jika tidak segera direhabilitasi.
Ia menargetkan proses rehabilitasi rampung pada 4 Maret 2026 agar rumah tersebut bisa kembali ditempati dengan aman dan nyaman.
Sementara itu, Kasi Humas Polres Cirebon Kota AKP M Aris Hermanto mengatakan perbaikan tersebut merupakan tindak lanjut atas informasi yang berkembang di masyarakat.
Menurutnya, setiap laporan yang masuk akan diverifikasi dan ditindaklanjuti sesuai kondisi di lapangan. “Harapan hasil pembangunan nantinya benar-benar memberikan kenyamanan dan perlindungan yang layak bagi pemilik rumah,” kata dia.
Sebelumnya, Hadiyanto mengatakan kerusakan rumah yang ia tempati sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu dan tak kunjung diperbaiki.
“Mungkin sudah sekitar lima tahunan kondisi begini,” kata dia.
Selama itu pula, ia dan istrinya hanya bisa bertahan dengan kondisi seadanya. Hadiyanto mengaku tidak memiliki pekerjaan tetap dan bekerja serabutan jika ada yang membutuhkan tenaganya.
Dengan penghasilan yang tidak menentu, ia mengaku tidak memiliki cukup biaya untuk membenahi rumahnya yang rusak. Namun, ia menyimpan harapan agar suatu hari rumah yang ditempatinya bisa diperbaiki dan kembali layak huni.
