Polresta Bandung terus memburu aktor utama di balik perusakan kebun teh di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kasus yang sebelumnya viral di media sosial itu kini telah naik ke tahap penyidikan.
Aksi perusakan terungkap setelah sejumlah serikat petani teh menggelar protes pada Selasa (25/11/2025). Mereka menolak praktik pengalihan lahan kebun teh menjadi lahan sayuran yang dilakukan secara paksa oleh sejumlah oknum masyarakat. Para petani kemudian melaporkan kerusakan tersebut kepada pihak kepolisian.
Menindaklanjuti laporan itu, Polresta Bandung langsung mendatangi lokasi dan melakukan pemeriksaan awal. Kapolresta Bandung Kombes Aldi Subartono menyampaikan bahwa proses penyidikan telah dimulai.
“Kami sudah memeriksa beberapa saksi. Saat ini sedang melakukan pendalaman terkait peran masing-masing termasuk kita akan mengejar aktor utama ya,” ujar Aldi kepada awak media, Sabtu (29/11/2025).
Dari hasil penyelidikan sementara, polisi menduga ada satu orang yang menjadi aktor penggerak aksi pengrusakan. Orang tersebut diduga memberikan dana kepada warga untuk melakukan penebangan tanaman teh.
“Kita akan mengejar siapa orang yang mendanai, atau sebagai donatur yang memberikan uang kepada masyarakat untuk melakukan penebangan pohon-pohon teh ini,” tegasnya.
Setelah laporan masuk, tim Satreskrim Polresta Bandung dan Polsek Pangalengan melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) pada Kamis (27/11). Polisi juga telah mengantongi sejumlah identitas pelaku penebangan.
“Setelah olah TKP sudah muncul nama-nama atau sudah teridentifikasi nama-nama yang melakukan penebangan. Sama kami akan melakukan pendalaman siapa aktor ya. Tentunya kami Polresta Bandung akan terus mengungkap peristiwa ini sesuai dengan SOP yang ada,” katanya.
Hasil olah TKP menunjukkan tiga lokasi perkebunan yang rusak. Di area Bojong Waru, Desa Margamulya, petugas menemukan sekitar 5 hektare tanaman teh yang ditebang hingga pangkal dan telah mengering. Kemudian di Blok Cipicung I, kerusakan mencapai sekitar 8,25 hektare, dan di Blok Cipicung II terdapat sekitar 1 hektare tanaman yang mengalami kondisi serupa. Petugas juga menemukan tumpukan tanaman teh yang telah dipotong dan diduga akan dibakar.
“Hasil olah TKP ini ada tiga lokasi. Totalnya ini lebih kurang sekitar 14 hektar yang telah dirusak ya. Jadi ini merupakan identifikasi awal ya yang menjadi pintu masuk kami Polresta Bandung untuk melakukan serangkaian penyidikan,” ungkap Aldi.
Ia menegaskan bahwa pihaknya berhati-hati dalam menangani kasus tersebut. Fokus utama penyidikan adalah mengungkap pihak yang mengendalikan aksi penebangan.
“Jangan sampai ini nanti misalnya mengorbankan masyarakat kecil. Oleh karena itu, kami mengejar aktornya ya. Jadi kami menghimbau kepada aktor-aktornya ini ya tolong hentikan, karena kami sedang mengejar Anda ya,” kata Aldi.
Aldi juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah tergiur iming-iming pihak tertentu. Aksi penebangan liar, kata dia, tidak hanya merugikan petani tetapi juga menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan.
“Ke depan edukasi sangat penting kepada masyarakat untuk tidak menerima iming-iming ya dari siapapun melakukan penebangan kebun teh ini. Karena kita tahu dampaknya sangat bahaya ya,” pungkasnya.
