Cimahi –
Program makan bergizi gratis (MBG) kembali membawa petaka. Hingga Kamis (26/2/2026), 43 orang di Kota Cimahi dilaporkan mengalami keracunan setelah menyantap menu yang khususu disiapkan untuk Bulan Ramadan.
Puluhan orang yang mengalami keracunan rinciannya 32 siswa dan satu guru yang dirawat di RSUD Cibabat. Lalu lima siswa di RS Mitra Kasih, serta lima siswa lainnya di RS Dustira.
Namun, sebagian korban dilaporkan kondisinya mulai membaik dan telah diizinkan pulang setelah menjalani perawatan. Mereka keracunan setelah dilaporkan mengonsumsi menu MBG berisi onigiri atau nasi kepal, telur rebus, kurma, apel, serta susu UHT.
Petaka ini bermula pada Rabu (25/2) sekitar pukul 17.30 WIB setelah beberapa orang mengalami gejala keracunan. Yang harus dirawat saat itu terdiri dari siswa dan guru TK Kartika, TK PGRI, SDN Karangmekar Mandiri 1, SDN Cimahi Mandiri 1, dan SMPN 6 Cimahi.
Hingga Kamis (26/2) pagi, jumlah yang keracunan bertambah menjadi 36 orang. Dinkes Kota Cimahi lalu turun tangan dengan membawa sampel makanan untuk diuji di Labkesda Jawa Barat (Jabar).
Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira bahkan langsung bertindak menangani kasus ini. Pemkot sudah memanggil pihak dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan menu MBG ke beberapa sekolah tersebut.
“Ya sudah dipanggil langsung, kemudian kita tegur kenapa bisa kejadian seperti ini. Kita minta penjelasannya juga,” kata Adhitia.
Dari hasil penelusuran, SPPG Karangmekar 02 merupakan pihak yang bertanggungjawab atas kejadian ini. SPPG yang berlokasi di Jalan Moh. K. Wiganda Sasmita, Kelurahan Cimahi, Kecamatan Cimahi Tengah itu kini berhenti beroperasi sementara selama proses pemeriksaan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
“Ini kejadian pertama di Cimahi ya, pastinya jadi pelajaran buat kami. Akan terus evakuasi terkait pengolahan, pengawasan, dan teknis lainnya,” kata Koordinator Wilayah SPPG Kota Cimahi, Hanif Abdul Rafi, saat ditemui, Kamis (26/2/2026).
Hanif mengatakan bahwa pihaknya belum bisa memastikan penyebab keracunan tersebut. Sebab, perlu pemeriksaan lebih mendalam apakah dipicu kesalahan saat proses produksi atau kualitas bahan baku yang digunakan.
“Buat onigiri sebetulnya di sini baru pertama kali, SPPG lain mungkin sudah ada. Sebenarnya untuk onigiri mungkin ada kendala sampai seperti ini (menyebabkan keracunan),” kata Hanif.
Selama bulan Ramadan, BGN sebetulnya sudah mengeluarkan Surat Edaran (SE) terkait menu yang didistribusikan oleh SPPG di seluruh daerah, yakni instruksi untuk menyediakan jenis makanan yang tahan lama.
“Untuk pengolahan sesuai SE itu selama Ramadan, sebetulnya disarankan dibuat itu makanan yang tahan lama karena ini Ramadan. Dari kami SPPG ya harapannya dimakan setelah buka puasa,” kata Hanif.
Dinas Kesehatan Kota Cimahi saat ini masih menunggu hasil uji sampel menu MBG yang memicu keracunan tersebut. Sampel makanan telah dibawa ke Labkesda Jawa Barat pada Rabu malam.
“Soal penyebab pasti makanan yang memicu keracunan masih harus menunggu hasil uji laboratorium. Saat ini hasilnya masih belum (keluar),” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Mulyati.
Mulyati telah meninjau langsung lokasi SPPG Karangmekar 02. Operasional SPPG tersebut diketahui sudah berjalan sejak November 2025. Rencananya, BGN juga akan melakukan inspeksi mendalam ke fasilitas tersebut.
“Dinkes ada SOP kaitan dalam inspeksi kesehatan lingkungan, kemudian cara pengolahan makanan, dan yang paling penting kebersihan lingkungan. Dan itu yang kita cek hari ini. Nanti BGN juga akan turun ke lapangan memeriksa SPPG, sekaligus melihat kondisi pasien di RS,” kata Mulyati.
