Perjuangan Mulyana, Pikul Topi Cicaheum-Ciwidey demi Keluarga

Posted on

Bandung

Maraknya tren belanja daring tak membuat gentar Maha Mulyana untuk mengais rezeki dengan menjajakan topi secara berkeliling. Selama lebih dari 12 tahun, ia berjalan kaki dari kontrakannya di Cicaheum menempuh jarak yang cukup jauh setiap harinya.

Pria yang akrab disapa Mulyana ini telah melakoni profesi tersebut selama lebih dari satu dekade. Saat hujan turun, ia baru beralih menggunakan transportasi umum untuk mencapai daerah tujuan.

“Jalan kaki tiap hari, kalau lagi hujan mah naik mobil angkot atau bus, turun di terminal Caheum biasanya” ungkapnya saat ditemui baru-baru ini.

Berbagai sudut Bandung telah ia jelajahi untuk menawarkan dagangannya kepada setiap orang yang ditemui. “Dari kontrakan di Cicaheum ga nentu ngidernya, kadang ke Pasar Jatinangor, Cililin, ke Cihampelas, Ciwidey, atau Padalarang. Biasanya sekalian ngelewat ke Jalan Sindang Palay buat beli stok barang” tambahnya.

Pendapatan yang diperoleh Mulyana tak selalu menentu. Bahkan, tak jarang ia pulang tanpa membawa uang sepeser pun. Kondisi ini berbanding terbalik dengan masa sebelum tren belanja daring mewabah, di mana ia mampu menjual hingga dua kodi topi dalam sehari.

“Sekarang mah nggak tentu, ada empat, lima biji kejual, kadang zonk. Dulu-dulu mah dua kodi satu hari habis, pas setelah ada online jadi drop, banyak saingan mungkin ya” jelasnya.

Barang dagangan yang ia bawa cukup bervariasi, mulai dari topi buatan lokal seharga Rp25.000 hingga model tertentu yang dibanderol Rp75.000. Beragam ukuran, dari yang terkecil hingga terbesar, tersedia di pundaknya.

Untuk menyiasati hari-hari sepi pembeli, Mulyana harus disiplin menyisihkan sisa keuntungan demi biaya makan dan sewa kontrakan sebesar Rp600.000 per bulan. “Kalau buat ngontrak biasanya nyisihin 20ribu sehari, jadi sebulan bisa kekumpul 600ribu buat bayarnya. Kalau zonk biasanya pake uang yang disisihin dari kemarinnya dulu” ujarnya.

Beban berat di pundaknya dipikul demi keluarga tercinta. Mulyana tinggal sendiri di Bandung, sementara istri dan ketiga anaknya menetap di Banjaran. Perjuangan menyusuri aspal jalanan Bandung adalah bentuk dedikasinya sebagai kepala keluarga demi memastikan masa depan pendidikan buah hatinya.

Halaman 2 dari 2