- Kedudukan Sholat Subuh dalam Islam
- Bacaan Niat Sholat Subuh
- Tata Cara Sholat Subuh
- Doa Qunut Subuh dan Perbedaan Pendapat Ulama
Niat Sholat Subuh Sendiri Niat Sholat Subuh untuk Imam Niat Sholat Subuh untuk Makmum
1. Berdiri Tegak Jika Mampu 2. Niat di Dalam Hati 3. Takbiratul Ihram 4. Membaca Al Fatihah 5. Membaca Surat Pendek 6. Ruku’ Thuma’ninah 7. I’tidal dan Thuma’ninah 8. Sujud Pertama 9. Duduk di Antara Dua Sujud dan Thuma’ninah 10. Sujud Kedua 11. Takbiratul Ihram 12. Duduk Tahiyat Akhir 13. Diakhiri dengan Salam
Bandung –
Niat sholat subuh dibaca oleh seorang Muslim ketika hendak melaksanakan sholat fardu dua rakaat di waktu pagi. Niat ini dibaca bersamaan dengan takbiratul ihram, saat waktu subuh telah masuk sejak terbit fajar shiddiq hingga sebelum matahari terbit.
Waktu sholat subuh dimulai sejak munculnya fajar shiddiq, yakni cahaya putih yang melintang di ufuk timur, hingga terbitnya matahari. Batas waktu ini dijelaskan dalam berbagai hadits Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW bersabda:
“Waktu sholat subuh adalah dari terbit fajar sampai terbit matahari.”
(HR. Muslim)
Melaksanakannya di awal waktu sangat dianjurkan karena mengandung keutamaan dan keberkahan tersendiri.
Kedudukan Sholat Subuh dalam Islam
Sholat subuh termasuk ibadah fardu ‘ain yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang telah baligh dan berakal. Mengamalkannya mendatangkan pahala, sementara meninggalkannya tanpa uzur yang dibenarkan akan berakibat dosa.
Perintah menjaga sholat ditegaskan dalam Al-Qur’an, salah satunya dalam surat Al-Baqarah ayat 238:
حَٰفِظُوا۟ عَلَى ٱلصَّلَوَٰتِ وَٱلصَّلَوٰةِ ٱلْوُسْطَىٰ وَقُومُوا۟ لِلَّهِ قَٰنِتِينَ
Artinya: “Peliharalah semua sholat(mu), dan (peliharalah) sholat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam sholatmu) dengan kusyu.” (QS. Al-Baqarah: 238)
Bacaan Niat Sholat Subuh
Secara fiqih, niat sholat subuh cukup dihadirkan di dalam hati. Namun, membaca lafaz niat diperbolehkan sebagai sarana membantu menghadirkan kesadaran ibadah. Niat sholat subuh dibedakan berdasarkan posisi seseorang, yaitu sholat sendiri, sebagai imam, atau sebagai makmum.
Niat Sholat Subuh Sendiri
أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لله تَعَالَى
Arab Latin: “Usholli fardhos shubhi rok’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an lillahi ta’aala”
Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardhu Subuh dua rakaat, sambil menghadap kiblat, saat ini, karena Allah ta’ala.”
Niat Sholat Subuh untuk Imam
Sementara itu, niat sholat subuh untuk imam hanya dibedakan sedikit, yaitu ditambahkan kata ‘Imaaman’.
أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا لله تَعَالَى.
Arab latin: “Usholli fardhos Subhi rok’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an imaaman lillaahi ta’aala.”
Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardu Subuh dua rakaat, menghadap kiblat sebagai imam karena Allah ta’ala.”
Niat Sholat Subuh untuk Makmum
Bacaan untuk makmum pun sama, yaitu ditambahkan lafal ‘ma’muuman’.
أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْح رَكَعتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لله تَعَالَى.
Arab latin: “Usholli fardhos Subhi rok’ataini mustaqbilal qiblati adaa-an ma’muman lillaahi ta’aala.”
Artinya: “Aku niat melakukan sholat fardu Subuh dua rakaat, menghadap kiblat sebagai makmum, karena Allah ta’ala.”
Tata Cara Sholat Subuh
Berikut tata cara sholat Subuh yang dikutip dari laman Rumaysho dan Buku Praktis Panduan Sholat Wajib-Sunnah yang disusun oleh Abu Sakhi.
1. Berdiri Tegak Jika Mampu
Setelah wudhu, kenakan alat sholat dan berdiri tegak menghadap kiblat. Pandangan mengarah ke tempat sujud, pastikan kondisi khusyu. Shalat wajib dilaksanakan dengan berdiri bagi yang mampu.
2. Niat di Dalam Hati
Tidak dipersyaratkan niat dilafadzkan. Dalam hadits disebutkan,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Artinya: “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung dari niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907, dari ‘Umar bin Al Khottob)
3. Takbiratul Ihram
Bertakbir (ucapan ‘Allahu Akbar’ di awal shalat), sebagaimana shalat biasa.
4. Membaca Al Fatihah
Baca Al Fatihah bagi imam maupun orang yang shalat sendirian.
5. Membaca Surat Pendek
Setelah membaca Al-Fatihah, dilanjut dengan membaca surat pendek Al-Qur’an.
6. Ruku’ Thuma’ninah
Gerakan ruku’ diperintahkan untuk thuma’ninah (tidak tergesa-gesa), hal ini dapat dilihat pada hadits musii’ sholatuhu (orang yang jelek shalatnya).
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَرَدَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – عَلَيْهِ السَّلاَمَ فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ » فَصَلَّى ، ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ « ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ». ثَلاَثًا. فَقَالَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِى. قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا
Artinya: “Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika masuk masjid, maka masuklah seseorang lalu ia melaksanakan shalat. Setelah itu, ia datang dan memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau menjawab salamnya. Beliau berkata, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Lalu ia pun shalat dan datang lalu memberi salam pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tetap berkata yang sama seperti sebelumnya, “Ulangilah shalatmu karena sesungguhnya engkau tidaklah shalat.” Sampai diulangi hingga tiga kali. Orang yang jelek shalatnya tersebut berkata, “Demi yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak bisa melakukan shalat sebaik dari itu. Makanya ajarilah aku!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas mengajarinya dan bersabda, “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397).
7. I’tidal dan Thuma’ninah
8. Sujud Pertama
Sujud dilakukan dengan cara bertumpu pada tujuh anggota badan (dahi, telapak tangan, lutut, dan kedua kaki), serta tuma’ninah. Lalu, membaca doa sujud.
9. Duduk di Antara Dua Sujud dan Thuma’ninah
10. Sujud Kedua
Sujud dilakukan dengan cara bertumpu pada tujuh anggota badan (dahi, telapak tangan, lutut, dan kedua kaki), serta tuma’ninah. Lalu, membaca doa sujud.
11. Takbiratul Ihram
Setelah bangkit dari sujud kedua, lalu berdiri ke rakaat kedua dengan bertakbir “Allahu Akbar” tanpa mengangkat kedua tangan
Pada rakaat kedua, lakukan hal yang sama dengan rakaat pertama.
12. Duduk Tahiyat Akhir
Setelah bangkit dari sujud kedua, lakukan duduk tahiyat akhir dan membaca tasyahud di tahiyat akhir. Membaca bacaan shalawat setelah bacaan tasyahud akhir.
التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ, أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ, اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
At tahiyyaatul mubaarakaatush shalawaatuth thoyyibaatulillaah. as salaamu’alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullaahi wabarakaatuh, assalaamu’alaina wa’alaa ibaadillaahishaalihiin. asyhaduallaa ilaaha illallaah, wa asyhadu anna muhammad rasuulullaah.
Allaahumma shalli’alaa muhammad, wa’alaa aali muhammad. kamaa shallaita alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim. wabaarik’alaa muhammad wa alaa aali muhammad. kamaa baarakta alaa ibraahiim wa alaa aali ibraahiim, fil’aalamiina innaka hamiidum majiid.
Artinya: “Ya Allah, limpahi lah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad, seperti rahmat yang Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahi lah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya, seperti berkah yang Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya, Engkau lah Tuhan yang sangat terpuji lagi sangat mulia di seluruh alam.”
13. Diakhiri dengan Salam
Salam pertama, minimalnya ‘Assalamu ‘alaikum’, lengkapnya ‘Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah’.
Sholat dilakukan harus berurutan dalam mengerjakan rukunnya, karena dalam hadits musii’ sholatuhu terdapat kata “tsumma” ketika menjelaskan urutan rukun. Tsumma sendiri berarti kemudian yang menunjukkan makna berurutan.
إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَ جَالِسًا ، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ، ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَتِكَ كُلِّهَا
Artinya: “Jika engkau hendak shalat, maka bertakbirlah. Kemudian bacalah ayat Al Qur’an yang mudah bagimu. Lalu ruku’lah dan sertai thuma’ninah ketika ruku’. Lalu bangkitlah dan beri’tidallah sambil berdiri. Kemudian sujudlah sertai thuma’ninah ketika sujud. Kemudian bangkitlah dan duduk antara dua sujud sambil thuma’ninah. Kemudian sujud kembali sambil disertai thuma’ninah ketika sujud. Lakukan seperti itu dalam setiap shalatmu.” (HR. Bukhari no. 793 dan Muslim no. 397).
Doa Qunut Subuh dan Perbedaan Pendapat Ulama
Dalam sholat subuh, terdapat amalan doa qunut yang dibaca pada rakaat kedua setelah i’tidal. Menurut ulama mazhab Syafi’iyah, qunut subuh dianjurkan dan dibaca setelah ruku’. Sementara mazhab Malikiyah berpendapat qunut lebih utama dibaca sebelum ruku’.
Meski demikian, para ulama sepakat bahwa meninggalkan qunut subuh tidak membatalkan sholat. Dalam sholat berjamaah, makmum dianjurkan mengikuti imam apabila imam membaca qunut.
Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk senantiasa menjaga sholat subuh dan menerima setiap amal ibadah yang kita lakukan. Aamiin ya rabbal ‘alamin.
