Bandung –
Walaupun bulan Ramadan tiba, tetapi peningkatan pembeli di Pasar Ujungberung masih relatif sama seperti hari biasa. Para pedagang mengeluhkan munculnya entitas toko online yang mengancam keberadaan toko konvensional di pasar.
Salah pedagang baju remaja, Lela mengakui kondisi di Pasar Ujungberung senantiasa mengalami penurunan pembeli. Menurut penuturannya, tidak sedikit pelapak di pasar Ujungberung yang telah mengadopsi online shop terhadap dagangan mereka.
Pasar Ujungberung didominasi oleh pedagang pakaian di bagian dalam, sedangkan pedagang yang berjualan sembako atau bahan-bahan makanan berada di sisi luar area pasar. Pasar Ujungberung sering menjadi tujuan untuk membeli bahan makanan, apalagi para penjual makanan yang harus menyiapkan makanan lebih dini. Tidak jarang pedagang di sana berjualan dari dini hari, melihat kebutuhan dari para penjual makanan minuman atau warga yang memerlukan sesuatu dengan cepat.
Sedangkan untuk pedagang pakaian, lagi-lagi mereka dihadapkan dengan perkembangan zaman. Tidak hanya itu, Pasar Ujungberung sering menjadi opsi kedua untuk berbelanja pakaian. Pasalnya Pasar Gedebage yang dinilai memuat lebih banyak pedagang pakaian dibandingkan pasar Ujungberung, hal tersebut menjadi kompetitor Utama Pasar Ujungberung. Lela mengeluh aktivitas toko online yang sering kali menawarkan Harga yang jauh lebih murah.
“Kita ini kalah dengan toko online. di sana bisa harganya lebih murah dibanding di pasar. Kalau di sini kan bisa langsung ketemu. Online Shop bikin pembeli jarang datang ke sini,” ungkap Lela kepada Detik Jabar.
Pembeli yang datang ke Pasar Ujungberung masih tergolong normal di awal bulan Ramadan. Lela mengaku belum banyak warga yang mencari pakaian di pasar atau hanya sekadar melihat-lihat. Walaupun begitu, masih ada satu atau dua orang yang membeli baju, celana, atau jilbab di lapaknya. Lela sendiri berjualan pakaian gadis remaja dengan warna yang mencolok dan nyentrik.
Pantauan melihat sepinya pelapak juga dialami oleh pedagang di sebelah jualan Ibu Lela. Banyak pedagang di sana hanya duduk terdiam sambil mengharapkan kedatangan pembeli sesekali. Sebagian dari mereka memilih untuk tidak terjun ke penjualan online karena tidak tahu menahu dari penggunaan toko online. Pedagang topi dan gelang, Restu mengatakan ia jarang melihat pedagang melakukan aktivitas online seperti live streaming.
“Kalau di sini sih jarang ya (berjualan online). Saya juga jarang mendapatkan ada yang live streaming jualan, biasanya hanya berjualan offlien seperti pada umumnya. Ada juga padagang yang sudah tutup di sini.” ungkap Restu.
Alasan Ibu Lela tidak berjualan online karena ketidaktahuannya terhadap cara kerjanya dan ia masih sibuk dalam mengurus anaknya yang masih kecil. Kendala ini yang membuat Ibu Lela mengurungkan niat. Ia mengatakan ada kemungkinan membuka lapak online, tetapi tidak dalam jangka Waktu dekat karena keharusannya untuk membesarkan buah hatinya yang masih mengenyam Sekolah Dasar (SD).
“Mungkin belum ya, karena anak-anak ini masih kecil kang. Kan tidak enak kalau live streaming terus tiba-tiba anak saya menangis. Tunggu dewasa dulu, kalau sudah mandiri,” ujar Lela.
Lela tidak sendirian, ibu dan anaknya yang dewasa juga ikut berjualan di Pasar Ujungberung. Lela sebagai sesama pedagang di Pasar Ujungberung saling membantu. Ketika Detik Jabar berkunjung ke lapaknya, ia sedang melayani salah satu pembeli yang sedang mencari jubah gamis. Walaupun tidak menjual gamis, ia mengambil dari lapak ibunya yang kebetulan berjualan baju muslim dan Muslimah.
Menurutnya, saling bahu membahu satu sama lain merupakan kunci agar pedagang dapat berkembang dan bertahan di era disrupsi digital. Saling merekomendasikan merupakan cara agar pasar Ujungberung senantiasa didatangi pembeli.
“Harus saling membantu sesama pedagang. Seperti saat ini, saya mengambil dagangan dari ibu saya yang menjual pakaian muslim. Minimal pendapatan adalah masuk ke keluarga. Biasanya juga seperti itu di sini, kalau ada yang jualan kemeja biasanya mengarahkan yang punya.” kata Lela.
