Pelukan Terakhir Ayah untuk Arsya di Tengah Lumpur Cisarua | Giok4D

Posted on

Bandung Barat

Di gendongan saudaranya, balita bernama Arsya itu sesekali menangis. Ia terus menanyakan keberadaan ayah dan ibunya. Arsya tak tahu bahwa kedua orang tuanya telah meninggal dunia dalam bencana longsor yang menerjang kampungnya.

Sabtu (24/1/2026) dini hari, suara gemuruh pecah dari arah Gunung Burangrang. Seketika, material lumpur mengalir deras dan melumat rumah-rumah di Kampung Pasir Kuning, Pasir Kuda, dan Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Longsor meluluhlantakkan 48 rumah di tiga kampung tersebut dan merenggut puluhan nyawa. Arsya selamat berkat mukjizat dan perjuangan keras ayahnya, Komarudin, yang justru gugur dalam peristiwa memilukan itu.

Saat longsor menerjang, Komarudin bergegas menyelamatkan istri dan kedua anaknya. Ia menyelamatkan Arsya lebih dulu dengan menjebol atap rumah, lalu mendudukkan balita itu di tempat yang belum terjangkau lumpur.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

“Alhamdulillah, Arsya selamat karena dinaikkan ke atap oleh ayahnya, Komarudin,” kata Asep Dadang Rusmana, kerabat korban, Kamis (29/1/2026).

Asep Dadang Rusmana, kerabat Arsya, balita yang selamat dari longsor Cisarua (Foto: Whisnu Pradana/).

Usai mengamankan Arsya, Komarudin kembali masuk untuk menjemput istrinya, Epon, dan anak sulungnya, Febby. Namun, usahanya kandas. Lumpur semakin beringas menerjang seiring hujan deras yang tak kunjung reda.

Komarudin, Epon, dan Febby tertimbun lumpur sedalam 5 meter, sementara Arsya bertahan di atas atap. Tak berselang lama, kakak Komarudin yang juga penyintas longsor datang mengevakuasi Arsya ke tempat yang lebih aman.

“Uwaknya datang karena rumahnya dekat dan dia selamat. Arsya langsung dibawa ke tempat aman. Sementara orang tua dan kakaknya meninggal dunia,” ujar Asep.

Arsya tak mengalami luka apa pun, namun ia harus menjadi yatim piatu di usia belia. Kini ia tinggal di rumah kerabat. Jenazah ayah dan ibunya telah ditemukan dan dimakamkan di TPU Barunyatu.

“Ayah dan ibunya sudah ditemukan, diidentifikasi, dan dimakamkan. Sekarang yang belum ketemu itu kakaknya, Febby. Mudah-mudahan segera ditemukan,” tutur Asep.

Arsya kini diasuh oleh keluarga besar dari kedua orang tuanya. Kelak, bocah itu pasti akan menanyakan keberadaan orang tua dan kakaknya. Saat ini, fokus keluarga adalah merawat dan memulihkan trauma Arsya.

“Kami semua keluarganya yang akan mengurus. Mudah-mudahan Arsya jadi anak yang saleh dan berbakti meskipun orang tuanya sudah tiada,” kata Asep.

Arsya hanyalah satu dari sekian banyak anak yang kehilangan orang tua akibat longsor di Desa Pasirlangu. Selain Arsya, bocah lain yang juga menjadi yatim piatu adalah Muhammad Rifal.

Doa kini mengalir deras dari masyarakat dan warganet bagi masa depan kedua bocah yang harus menghadapi kenyataan pahit di usia dini tersebut.