Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung yang terus bergerak cepat, Pasar Cihapit bertahan sebagai ruang yang akrab sekaligus bertransformasi. Pasar ini bukan sekadar tempat berbelanja kebutuhan dapur, melainkan titik temu antara memori lama dan selera baru. Menu jadul dan sajian kekinian hidup berdampingan, menjadikan Cihapit tujuan kuliner yang tak pernah sepi cerita.
Memasuki area pasar, suasananya terasa berbeda dari pasar tradisional pada umumnya. Kios bakmi dan pastry berdiri bersebelahan dengan lapak daging, sayur, dan bumbu dapur. Suara tawar-menawar berpadu dengan obrolan santai pengunjung yang datang sejak pagi. Di bagian luar, deretan kedai dan kafe kerap dipenuhi antrean, terutama saat jam sarapan dan makan siang.
Bagi pedagang lama, perubahan Cihapit adalah kisah tentang bertahan dan beradaptasi. Aceh, pekerja di kios Lotek Bu Tintin, telah mengais rezeki di pasar ini sejak 1995. Ia menyaksikan langsung wajah Cihapit yang berubah perlahan.
“Kalau ditanya suasananya, dari dulu sampai sekarang ya tetap ramai. Tapi bedanya, dulu itu murni jualan sayur-sayuran atau kebutuhan dapur. Sekarang jadi banyak kios kuliner,” ujar Aceh saat ditemui infoJabar di sela kesibukannya, Senin (5/1/2025).
Menurut Aceh, masuknya tenant kuliner modern justru membawa dampak positif bagi pedagang lama. “Efeknya positif sekali, pasar jadi kelihatan lebih bagus, bersih, dan rapi. Orang-orang jadi tahu kalau di sini pasarnya lengkap.” katanya.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Perubahan itu juga berdampak langsung pada dagangannya. “Saya kan jualan kelapa juga, ya. Karena banyak orang luar daerah yang datang untuk wisata kuliner, mereka jadi tahu kalau di sini juga ada kios kelapa. Jadi yang tadinya tidak tahu, jadi tahu,” tuturnya.
Baginya, harapan ke depan sederhana. “Harapannya ya sederhana saja, pengennya semua tetap laris manis dan lancar,” tambah Aceh dengan senyum ramah khas warga Bandung.
Di lorong lain yang lebih modern, Arin Kartika hadir sebagai wajah generasi baru Pasar Cihapit. Pemilik kedai ‘Dekat Tea’ ini membawa merek tehnya masuk ke pasar pada November 2023, meski usahanya telah berjalan sejak 2019.
Memasuki 2026, Arin melihat Cihapit berkembang menjadi ekosistem usaha yang kompetitif namun sehat.
“Bagi saya, suasana di sini sangat seru. Setiap ada kios baru atau toko baru yang buka, mereka semua jualannya sangat serius. Semangatnya luar biasa,” tutur Arin saat berbincang dengan infoJabar.
Namun ia menepis anggapan bahwa Cihapit selalu padat setiap waktu. “Sebetulnya kalau hari biasa atau weekday, Cihapit itu layaknya pasar biasa aja, gak sepadat itu. Orang biasanya terkonsentrasi di jam sarapan dan makan siang. Setelah jam dua sampai jam empat sore, suasana sudah mulai sepi. Tapi kalau sudah masuk musim liburan atau long weekend, barulah pasar benar-benar penuh,” jelasnya.
Berjualan di pasar tradisional membawa tantangan tersendiri, terutama soal ruang. Dengan ukuran kios rata-rata sekitar 2×2 meter, pedagang dituntut kreatif agar tetap menonjol di tengah persaingan visual yang ketat. Persoalan parkir juga masih menjadi pekerjaan rumah, terutama saat musim liburan ketika jalanan sempit di sekitar pasar kerap tersendat.
“Kuncinya sebetulnya pada kenyamanan. Kami dari sisi pedagang berusaha menjaga kebersihan toko masing-masing juga. Kalau tempatnya bersih dan rapi, yang jualan senang, yang datang juga nyaman. Tapi soal parkir, berharap ke depannya bisa lebih tertib lagi,” ucap Arin.
Lebih dari sekadar lonjakan omzet saat hari libur, Arin menekankan pentingnya keberlanjutan. “Kami ingin tempat ini sustainable. Ramainya jangan cuma karena viral sesaat. Kita ingin bisa berjualan dalam jangka panjang dengan nyaman, tanpa banyak regulasi yang memberatkan pedagang ke depannya.” ungkapnya.
