Bisa Dicoba! Puasa Gula 14 Hari Punya Manfaat Banyak Buat Tubuh

Posted on

Gula pada dasarnya bukan zat yang berbahaya bagi tubuh. Namun, konsumsi gula tambahan secara berlebihan dan berlangsung lama dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.

Asupan gula, terutama yang berasal dari minuman manis, berkontribusi pada peningkatan kalori tanpa disertai manfaat gizi yang memadai. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kenaikan berat badan dan obesitas di berbagai kelompok usia. Melansir infoHealth, dalam jangka panjang, kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga beberapa jenis kanker.

Selain itu, konsumsi gula tambahan berlebih juga berkaitan dengan masalah kesehatan gigi serta gangguan suasana hati dan fungsi kognitif. Sejumlah penelitian menunjukkan hubungan antara asupan gula tinggi dengan meningkatnya risiko depresi dan kecemasan.

Gastroenterolog dr Saurabh Sethi menilai banyak orang belum menyadari dampak luas konsumsi gula tambahan terhadap tubuh.

“Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa gula bukan sekadar menambah kalori. Gula secara perlahan membajak nafsu makan, keinginan makan, insulin, dan lemak di hati. Karena itu, saya menyarankan pasien mencoba 14 hari tanpa gula tambahan,” ujar dr Sethi.

Menurut dr Sethi, puasa gula tambahan selama 14 hari dapat memberikan berbagai manfaat bagi kesehatan. Di antaranya perut terasa lebih rata, kualitas tidur membaik, serta sinyal lapar yang menjadi lebih jelas dan terkendali.

Selain itu, puasa gula juga dapat membantu mengurangi dorongan untuk ngemil dan memperbaiki kadar gula darah puasa.

“Menghindari gula tambahan selama 14 hari adalah bentuk reset metabolik, bukan sekadar tren penurunan berat badan,” jelasnya.

Beberapa manfaat lain yang berpotensi diperoleh dari puasa gula tambahan meliputi:

Meski demikian, dr Sethi menegaskan bahwa tidak semua jenis gula harus dihindari. Gula alami dari buah-buahan tetap boleh dikonsumsi karena disertai serat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh.

Ia juga menjelaskan bahwa tubuh akan mengalami fase penyesuaian selama menjalani puasa gula tambahan. Pada sebagian orang, fase ini dapat terasa cukup berat.

Gejala yang muncul bisa berupa keinginan makan berlebih (cravings), sakit kepala, kelelahan, mudah marah, hingga kabut otak (brain fog). Namun, gejala tersebut umumnya akan berangsur mereda seiring tubuh beradaptasi, energi menjadi lebih stabil, dan rasa lemas berkurang.

“Ini bukan gejala putus zat. Ini adalah proses otak menyesuaikan ulang sinyal rasa senang,” pungkas dr Sethi.

Artikel ini sudah tayang di infoHealth