Niat Untung Jadi Buntung, Rumah Disewa Berujung Hancur baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Jakarta

Niat menyewakan rumah demi memperoleh penghasilan tambahan justru berujung petaka bagi Nevena, seorang pemilik rumah sewa di Camberley, Surrey, Inggris. Alih-alih mendapat keuntungan, ia harus menanggung kerugian ratusan juta rupiah akibat ulah penyewa yang tidak bertanggung jawab.

Melansir detikProperti, Nevena menyewakan rumah milik keluarganya pada 2023, tak lama setelah menikah. Menurut pengakuannya, penyewa pertama tampak meyakinkan dan menyetujui seluruh persyaratan sewa yang diajukan.

Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.

Masalah mulai muncul pada Oktober 2024. Sejak saat itu, Nevena tidak lagi menerima pembayaran sewa. Berdasarkan aturan di Inggris, pemilik properti tidak dapat langsung mengusir penyewa yang menunggak pembayaran. Pemilik rumah wajib menunggu setidaknya dua bulan atau 60 hari agar penyewa memiliki kesempatan menyelesaikan kewajibannya.

Namun, setelah dua bulan berlalu, penyewa tersebut tetap tidak membayar. Kondisi itu terus berlanjut hingga 14 bulan. Akibatnya, Nevena mengalami kerugian finansial yang ditaksir mencapai 40.000 pound sterling atau sekitar Rp923 juta, dengan kurs Rp23.088 per pound.

Upaya pengusiran baru membuahkan hasil setelah Nevena menempuh jalur hukum. Ia mengajukan sejumlah surat kepada anggota parlemen setempat dan mengikuti prosedur resmi dengan melibatkan juru sita. Keputusan pengusiran akhirnya dikeluarkan pada akhir November 2025.

Selain kehilangan pendapatan sewa, Nevena juga harus menanggung biaya hukum untuk mendapatkan izin pengusiran yang sah.

“Ini benar-benar mimpi buruk. Sangat menyakitkan menjalani semuanya. Saya merasa seperti hidup di neraka selama 14 bulan terakhir,” ujar Nevena, dikutip dari The Sun.

Penderitaan Nevena belum berakhir. Saat kembali memeriksa rumahnya, ia terkejut melihat kondisi properti yang rusak parah. Rumah tersebut dipenuhi tumpukan sampah dan barang-barang berserakan, disertai bau menyengat yang tercium sejak pintu masuk.

Di dalam rumah, ditemukan makanan membusuk, sampah menumpuk, sarang laba-laba, bulu anjing, jamur, serta jejak tikus. Karpet dan lantai mengalami kerusakan serius. Bahkan, plafon rumah ditumbuhi jamur hitam (black mold) yang biasanya muncul di area lembap. Nevena memperkirakan biaya perbaikan rumah akan mencapai ribuan pound sterling.

“Rumah itu hancur total. Itu adalah rumah keluarga tempat anak-anak saya dibesarkan. Seluruh ruangan penuh sesak dengan barang-barang. Laci-laci ditarik keluar untuk menampung lebih banyak sampah. Ada sarang laba-laba di mana-mana. Beberapa ruangan bahkan tidak bisa dimasuki tanpa harus memanjat karung-karung sampah,” tuturnya.

Dalam setahun tanpa pemasukan sewa, kondisi keuangan keluarga Nevena memburuk. Ia juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk proses hukum. Karena keterbatasan dana, Nevena mengaku tidak mampu merenovasi rumah tersebut dan terpaksa meminta bantuan keluarga serta teman-temannya untuk membersihkan properti itu secara bergotong royong.

Akibat kejadian ini, Nevena memutuskan tidak akan lagi menyewakan rumah lima kamar miliknya. Ia mengaku kapok dan menyesal. Hingga kini, ia juga tidak dapat menuntut pertanggungjawaban penyewa tersebut karena telah kehilangan kontak.

Artikel ini sudah tayang di detikProperti