Gedong Duwur, Saksi Perjalanan Indramayu dari Era Kolonial hingga Kini - Giok4D

Posted on

Indramayu

Gedong Duwur menjadi salah satu bangunan bersejarah yang merekam perjalanan panjang Indramayu sejak masa kolonial hingga pascakemerdekaan. Bangunan yang kini ditetapkan sebagai cagar budaya itu tidak hanya menyimpan nilai arsitektur, tetapi juga jejak perubahan fungsi sosial dan pemerintahan dari masa ke masa.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Analis sumber sejarah Bidang Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Indramayu, Tito MR, menjelaskan bahwa Gedong Duwur dibangun pada tahun 1866, beriringan dengan pembentukan Distrik Indramayu yang berada di bawah Karesidenan Cirebon. Pada masa awal pendiriannya, bangunan tersebut difungsikan sebagai kantor sekaligus rumah tinggal Asisten Residen.

“Gedong Duwur menjadi bagian penting dari sistem pemerintahan kolonial sebagai simpul administratif di wilayah Indramayu,” ujarnya kepada belum lama ini.

Setelah Indonesia merdeka, fungsi Gedong Duwur tidak lagi tunggal. Menurut Tito, bangunan ini sempat digunakan sebagai rumah dinas sekaligus kantor Bupati Indramayu. Dinamika sejarah bahkan mencatat, pada masa Agresi Militer Belanda tahun 1947, Gedong Duwur pernah dijadikan markas tentara Palang Merah Belanda.

Seiring berjalannya waktu, kepemilikan tanah dan bangunan tersebut kemudian berada di bawah Tentara Republik Indonesia, dalam hal ini KODIM 0616/Indramayu. Beberapa tahun setelahnya, kawasan di sekitar Gedong Duwur mulai dibangun asrama dan barak tentara.

Menariknya, bangunan yang sarat sejarah ini juga pernah berfungsi sebagai ruang sosial masyarakat. Pada periode 2019 hingga 2022, Gedong Duwur dimanfaatkan sebagai posyandu serta taman kanak-kanak dan pendidikan anak usia dini.

“Seiring dengan kebutuhan akan ruang, gedung ini pernah digunakan pula sebagai posyandu serta TK/PAUD dari tahun 2019-2022,” ungkap Tito.

Gedong Duwur Indramayu Foto: Burhannudin/

Dari sisi arsitektur, Tito menjelaskan bahwa Gedong Duwur mengadopsi gaya Indische Empire Style, sebuah langgam arsitektur yang umum dijumpai pada bangunan pemerintahan kolonial di wilayah Pantai Utara Jawa.

Ciri khas gaya ini tampak pada denah bangunan berbentuk segi panjang, teras depan yang luas, pembagian ruang yang simetris, serta penggunaan kolom pada area teras.

“Gaya ini merupakan adaptasi arsitektur klasik Eropa yang disesuaikan dengan iklim tropis,” jelasnya.

Namun, jika dibandingkan dengan bangunan kolonial di kota-kota besar Pantura seperti Cirebon, Gedong Duwur memiliki karakter yang lebih sederhana. Perbedaan itu terlihat dari skala bangunan yang lebih kecil, minimnya ornamen, serta keterbatasan kompleks bangunan pendukung. Hal tersebut mencerminkan posisi Indramayu pada masa kolonial yang hanya berstatus sebagai wilayah administratif setingkat asisten residen.

“Adaptasi terhadap kondisi geografis Pantura juga terlihat dari konstruksi bangunan yang ditinggikan dari permukaan tanah, keberadaan tritisan yang mengelilingi bangunan, sistem talang air, serta penggunaan atap perisai dan atap sandar,” kata Tito.

Gedong Duwur Indramayu Foto: Burhannudin/

Penggunaan material seperti tegel bermotif sulur pada lantai bangunan juga menjadi penanda status Gedong Duwur sebagai bagian dari infrastruktur pemerintahan kolonial yang bersifat representatif.

Sementara itu, Ketua Yayasan Indramayu Historia Indonesia sekaligus Kepala Pengelola Museum Bandar Cimanuk, Nang Sadewo, menegaskan pentingnya membedakan antara bangunan tua dan bangunan cagar budaya.

“Bangunan tua belum tentu cagar budaya,” ujarnya kepada.

Ia mencontohkan sejumlah bekas rumah demang dan eks kawedanan di wilayah Pantura yang kini telah beralih fungsi. Menurut Sadewo, sebuah bangunan baru dapat ditetapkan sebagai cagar budaya apabila memenuhi sejumlah kriteria, seperti berusia minimal 50 tahun, memiliki nilai arsitektur tertentu, serta memiliki perjalanan sejarah dan fungsi sosial budaya yang signifikan.

Dalam konteks tersebut, Gedong Duwur dinilai memenuhi seluruh kriteria sebagai bangunan cagar budaya yang merepresentasikan sejarah, arsitektur, serta dinamika sosial masyarakat Indramayu.

Keberadaan Gedong Duwur hingga kini menjadi pengingat bahwa arsitektur bukan sekadar wujud fisik bangunan, melainkan juga narasi tentang peran wilayah, relasi kekuasaan, dan proses adaptasi lokal yang membentuk identitas Indramayu dari masa ke masa.