Tasikmalaya –
Selain menjadi kota kelahiran banyak penyanyi dangdut top Tanah Air, Tasikmalaya dikenal juga sebagai gudangnya grup kasidah. Dari Tasikmalaya, muncul banyak grup kasidah rebana atau kasidah modern yang mampu melahirkan karya nada dan dakwah yang dikenal seantero Nusantara.
Sedikit mengulas, kasidah rebana dan kasidah modern merupakan bagian atau cabang dari genre musik religi, yakni karya musik yang menyuarakan lirik-lirik religi atau agama. Umumnya lirik yang dinyanyikan berisi tentang petuah bijak, syair puji-pujian, kutipan ayat suci dan lainnya.
Kasidah rebana adalah musik religi yang diiringi perangkat rebana, alat musik perkusi khas Timur Tengah. Dalam penampilannya perangkat rebana ditabuh oleh 6 sampai 9 orang, ditambah seorang pemain kecrek dan tentu saja seorang vokalis. Semua pemain harus satu gender, perempuan semua atau pria semua, tak boleh ada percampuran. Dalam istilah lain, masyarakat menyebut kasidah rebana dengan nama tagoni.
Sementara kasidah modern adalah musik religi yang diiringi oleh perangkat alat musik modern. Mulai dari keyboard, bass, gitar, biola, tabla hingga drum. Warna musiknya sama dengan musik dangdut, meski sentuhan-sentuhan melodi khas Timur Tengah acap kali membuatnya terdengar berbeda.
Sebagai wilayah yang memiliki banyak pesantren, di masa lalu grup musik kasidah tumbuh subur di pesantren-pesantren, sekolah agama, majelis taklim, kelompok pengajian hingga lingkungan warga.
Bermain rebana seakan menjadi hiburan atau cara berkesenian yang memasyarakat. Karena selain murah meriah, jenis hiburan ini dianggap sesuatu yang positif dan edukatif. Berbeda dengan musik lain yang dianggap kebarat-baratan dengan lirik yang kurang mendidik.
“Teringat masa kecil di tahun 80-an sampai 90-an, selepas salat Asar biasanya kita latihan tagoni di sekolah agama atau di pekarangan rumah,” kata Deni Danial (44) warga Desa Selawangi Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya, Rabu (4/3/2026).
Kesenangan tak hanya dirasakan para pemain atau penyanyi, tapi turut juga dirasakan oleh masyarakat yang berkumpul menyaksikan.
“Ya mungkin karena suara rampak perkusinya menarik perhatian, kalau latihan itu warga ramai. Di masa itu sarana hiburan minim, jadi main tagoni saja sudah sangat mengasyikkan,” kata Deni.
Hasil dari latihan itu biasanya dipentaskan di berbagai acara, inilah momentum unjuk kebolehan. Di mana merdunya penyanyi dan kekompakan penabuh rebana ditampilkan.
“Tampilnya acara apa saja, misalnya acara samen atau imtihan, muludan, rajaban sampai menyambut tamu pemerintahan juga bisa ditampilkan,” kata Deni.
Menurut dia, di masa itu skena musik tagoni hidup. Komunitasnya terbentuk, ekosistemnya tercipta. Keberadaan pelatih rampak rebana, jual beli alat rebana, kemunculan penyanyi dan pemain berkualitas sampai acara festival rebana, menjadi deretan aktivitas dari skena musik tagoni.
“Wah keren atuh dulu mah, saya teh sebagai barudak skena. Ya walau pun pemain tagoni kampung,” kata Deni setengah berkelakar.
Di sisi lain, aktivitas bermain tagoni yang memasyarakat itu perlahan menjadi audisi atau seleksi alami atas kemunculan grup kasidah yang berkualitas.
Di rentang dekade itu muncul nama-nama grup kasidah yang populer, sebut saja Attarbiyah, Almanar dan Annida Nirwana. Inilah sebagian grup kasidah asal Tasikmalaya yang sukses dikenal publik Tanah Air.
Nunu Nazarudin Azhar, salah seorang budayawan dan seniman Tasikmalaya mengatakan grup-grup kasidah modern Tasikmalaya yang sukses menasional lahir dari grup kasidah rebana.
“Attarbiyah lahir di Pesantren Cilendek, Kecamatan Cibeureum Tasikmalaya. Didirikan oleh Hj Siti Habibah sekitar tahun 1960-an,” kata Nunu.
Awalnya Attarbiyah merupakan grup kasidah rebana, namun seiring perkembangan zaman bertransformasi menjadi grup kasidah modern, dengan masuknya instrumen modern.
“Attarbiyah pada masanya sering tampil di Aneka Ria Safari TVRI dan sering juara festival. Attarbiyah juga sukses menembus dapur rekaman, karyanya ada beberapa album,” kata Nunu.
Serupa dengan Attarbiyah, Almanar juga awalnya lahir dengan format kasidah rebana, kemudian berubah menjadi kasidah modern sebelum akhirnya sukses menapaki puncak popularitas di tahun 90-an.
“Almanar dibentuk tahun 1960-an oleh KH Muhammad Syam di Ponpes Sukahideng, Singaparna Tasikmalaya. Formatnya kasidah rebana yang menjadi media dakwah,” kata Nunu.
Memasuki era tahun 70-an, Almanar mulai dikenal luas menyusul prestasi menjuarai festival di tingkat provinsi Jawa Barat.
“Album perdana mereka yang berjudul Gema Adzan disambut baik oleh publik. Tawaran manggung berdatangan, popularitas mulai mereka dapatkan,” kata Nunu.
Kreativitas Almanar di bawah pimpinan Ridwan Syam terus berproses, hingga di dekade 90-an, mereka menggapai masa keemasannya.
“Hingga 2017, Almanar total sudah menelurkan 23 album. Lagu mereka banyak yang hits dan dijadikan lagu wajib dalam festival kasidah,” kata Nunu.
Lilis Suharoh (60) warga Kecamatan Cipedes Tasikmalaya, mengaku sangat terkenang dengan lagu-lagu kasidah modern tersebut. Menurut dia, lagu-lagu atau pertunjukan kasidah modern disukai publik karena dianggap menjadi alternatif hiburan yang lebih ‘sopan’.
“Kasidah modern itu musiknya mewah seperti orkes melayu, seperti grup band, tapi artisnya sopan. Ada tarian tapi nggak erotis. Kemudian lagu-lagunya positif, jadi selaras dengan budaya agamis,” kata Lilis.
Lilis mengaku sempat mengoleksi beberapa kaset Almanar dan Attarbiyah, meski sekarang koleksinya itu raib entah ke mana.
“Saya lebih ngefans ke Almanar, sampai gaya berkerudungnya sempat hits dulu. Kaset-kasetnya juga punya,” kata Lilis.
