Jakarta –
Kisah unik sekaligus miris datang dari Negeri Tirai Bambu. Seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun nekat menyeret ayah kandungnya ke meja hijau. Gugatan ini dipicu raibnya uang angpao Imlek milik sang anak yang ternyata disalahgunakan orang tuanya sendiri.
Kasus ini bermula saat pengadilan di China memenangkan gugatan bocah tersebut. Berdasarkan laporan Independent, sang ayah terbukti menguras seluruh tabungan anaknya tanpa izin. Alasan di baliknya pun bikin geleng-geleng kepala. Uang itu dipakai untuk membiayai pernikahan kedua sang ayah.
Dikutip dari Wolipop, sebut saja bocah itu Xiaohui (nama samaran). Ia berasal dari Kota Zhengzhou, Provinsi Henan. Sejak orang tuanya bercerai dua tahun lalu, ia sempat tinggal bersama ayahnya. Selama bertahun-tahun, Xiaohui dengan telaten menabung uang angpao hingga terkumpul lebih dari 80.000 yuan atau setara Rp 196 jutaan di rekening bank yang dikelola ayahnya.
Masalah muncul ketika Xiaohui memutuskan pindah untuk tinggal bersama ibunya. Saat mengecek tabungan masa depannya, ia syok mendapati saldo rekeningnya telah dikuras habis. Sang ayah tercatat menarik 82.750 yuan (sekitar Rp 202 jutaan) termasuk bunga, demi membayar biaya resepsi pernikahannya yang baru.
Tak terima haknya dirampas, Xiaohui meminta uang itu dikembalikan, namun sang ayah menolak keras. Pria itu berdalih uang angpao berasal dari kerabat dan teman-temannya, sehingga ia merasa berhak menggunakannya. Ia bahkan menuduh mantan istrinya telah memengaruhi sang anak untuk melayangkan gugatan.
Namun, hakim memiliki pandangan berbeda. Pengadilan memutuskan secara hukum, uang angpao adalah milik sah sang anak. Meskipun berstatus sebagai wali, orang tua dilarang keras mengambil atau menggunakan dana tersebut tanpa persetujuan anak karena melanggar hak milik. Ayah Xiaohui pun divonis wajib mengembalikan seluruh uang beserta bunganya.
Drama keluarga ini pun mendadak viral dan memicu gelombang kritik dari netizen di media sosial China. Banyak yang mengecam tindakan sang ayah yang dianggap tega mengorbankan masa depan anak demi kepentingan pribadi.
“Betapa putus asanya dia setelah perceraian? Menggunakan tabungan anaknya untuk menikah lagi, dia benar-benar jenius,” “Jika dia benar-benar bangkrut, mengapa dia menikah lagi? Bagaimana seseorang masih setuju untuk menikahi orang seperti ini?”
