Majalengka –
Bunyi mesin penggiling tanah liat dan kepulan asap tungku pembakaran menjadi pemandangan harian di sentra genteng Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Di salah satu pabrik, para pekerja sibuk mencetak, menjemur, hingga membakar genteng yang nantinya akan menaungi atap-atap rumah.
Meski industri genteng saat ini bersaing ketat dengan tren atap baja ringan, industri genteng Jatiwangi tetap eksis. Hal itu ditegaskan oleh pemilik pabrik genteng Srijaya Jatiwangi, Samsul Ma’arif.
Samsul mengaku industri genteng di pabriknya atau yang akrab disebut jebor oleh warga lokal, masih bergeliat. Produksi terus berjalan dan pesanan datang hampir setiap pekan, meski cuaca sering kali menjadi kendala utama.
“Kondisi pabrik genteng di Jatiwangi masih banyak dan ramai. Pesanan alhamdulillah lancar, hanya saja sering terhambat kalau hujan,” kata Samsul saat diwawancarai, Selasa (3/12/2024).
Apalagi, kata Samsul, di tengah isu ‘gentengisasi’ yang digaungkan Presiden Prabowo Subianto, ia justru menyambutnya dengan optimisme. Menurutnya, program tersebut dapat membangkitkan kembali kejayaan genteng Jatiwangi.
“Saya dukung. Apalagi ini kerajinan tangan dan ada nilai budayanya juga. Saya sangat mendukung program Pak Prabowo,” ujarnya.
Pasar genteng Jatiwangi sendiri tak hanya terbatas di Majalengka. Samsul menyebut produknya telah menjangkau Jawa Barat hingga Jawa Tengah, dan kini mulai merambah Jawa Timur. “Saat ini jangkauannya masih di Pulau Jawa,” ucapnya.
Konsumennya beragam, mulai dari toko material, agen bangunan, hingga pemilik rumah yang memesan langsung. Setiap hari, pabrik Srijaya mampu memproduksi sekitar 1.800 hingga 2.000 keping genteng matang.
“Harga genteng morando yang berukuran besar dan natural berkisar Rp2.300 hingga Rp2.500 per keping. Sedangkan yang berwarna atau glasir, harganya Rp3.000 sampai Rp4.000,” jelasnya.
Ia juga memproduksi jenis palentong yang berukuran lebih kecil dengan harga Rp1.700 hingga Rp2.000 untuk yang natural, dan Rp2.500 hingga Rp3.000 untuk versi glasir.
Aktivitas produksi berjalan rutin setiap Senin hingga Sabtu dengan melibatkan 35 pekerja lokal yang masih mempertahankan proses tradisional.
“Prosesnya itu awal mula bikin ya dari tanah liat, campuran hasil sedikit, digiling, terus jadi bahan. Bahan namanya di sini itu mpleng, terus habis jadi bahan mpleng, kirim ke tim produksi, ke genteng, jadi cetakan, dicetak, terus jadi genteng. Habis itu ditunda dulu, kisaran dua sampai tiga harian. Habis itu kalau udah agak kering dari dalam, baru saya jemur,” paparnya.
“Habis dijemur, kisaran enam jaman sampai lima jaman lah mungkin. Kalau cuacanya bagus ya lima jam juga cukup, udah kering. Lalu dimasukin ke tungku pembakaran, namanya hawu. Habis dimasukkin, dibakar sampai mateng hingga delapan jam sampai dua belas jaman. Tergantung kondisi kayunya, kalau kering cepat, kalau basah ya mungkin agak lama,” pungkas Samsul.
Terkait keunggulan, Samsul menjamin genteng Jatiwangi memiliki daya tahan yang kuat. Selain kokoh, penggunaan genteng tanah liat ini juga diklaim akan meningkatkan nilai estetika bangunan.
