Bandung –
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengungkap longsor mematikan yang menerjang Kampung Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat pada Sabtu (24/1), bukanlah peristiwa alam biasa.
Bencana yang menewaskan 53 orang itu merupakan hasil dari rangkaian faktor geologi, morfologi, hidrologi, hingga jejak alam lama berupa bekas aliran sungai yang kembali “diaktifkan” oleh limpasan material longsor.
Plh Kepala PVMBG Badan Geologi, Edi Slameto, menjelaskan hasil resume tim tanggap darurat mencatat bahwa peristiwa di Cisarua merupakan bencana pergerakan tanah yang dipicu curah hujan ekstrem di kawasan dengan kondisi alam yang sangat rentan.
“Faktor pengontrol utama gerakan tanah di lokasi ini meliputi kondisi morfologi curam, geologi berupa batuan gunung api tua yang telah mengalami pelapukan lanjut, hidrologi/keairan, penggunaan lagan serta keberadaan struktur geologi berupa rekahan dan sesar. Faktor pemicu utama adalah curah hujan tinggi,” ujar Edi, Jumat (30/1/2026).
Ia mengungkapkan, hujan dengan intensitas lebih dari 220 milimeter per hari mengguyur kawasan tersebut sebelum kejadian. Kondisi itu menyebabkan peningkatan tekanan air pori, menurunnya kuat geser tanah, hingga akhirnya memicu kegagalan lereng dalam skala besar.
“Gerakan tanah berkembang ketika material longsoran bercampur sengan air membentuk aliran bahan rombakan/debris yang bergerak mengikuti lembah, kemudian tersebar pada area landaan pada bawah lereng,” katanya.
“Proses longsoran berasosiasi dengan aliran material dan potensu suplai air yang sangat besar pada bagian hulu,” sambungnya.
Menurut Edi, material longsor berasal dari endapan piroklastik tua Gunung Burangrang yang telah mengalami pelapukan sangat lanjut. Dalam kondisi jenuh air, tanah kehilangan kekuatan gesernya dan berubah menjadi material plastis yang mudah mengalir.
“Tingkat pelapukan yang tinggi menyebabkan penurunan kuat geser tanah dan batuan, sehingga lereng menjadi rentan terhadap kegagalan,” ujarnya.
Meski curah hujan ekstrem menjadi pemicu utama, Edi menegaskan bencana longsor Cisarua tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal. Kombinasi berbagai kondisi alam dan aktivitas manusia menjadi pemicu terjadinya bencana besar ini.
“Penyebab Longsor Cisarua ini multifaktor, gak ada faktor tunggal di sini. Batuan yang sudah lapuk, lereng curam, curah hujan tinggi dan tata guna lahan, itu yang menyebabkan semua ini terjadi,” tegasnya.
“Karena kalau dari empat ini saja tidak terpenuhi salah satunya saja tidak terjadi, misal batuan lapuk, lereng curam, tata guna lahan tidak tepat tapi tak ada hujan terus menerus gak terjadi longsor, kalaupun longsor ya sedikit-sedikit,” lanjut Edi.
PVMBG mencatat, lokasi longsor berada di kawasan pegunungan vulkanik tua. Lereng bagian atas atau mahkota longsor memiliki kemiringan sangat curam, mencapai 35 hingga 55 derajat, sementara bagian tengah dan bawah memiliki kemiringan 8 hingga 16 derajat.
Edi menjelaskan longsor bermula dari gawir mahkota Gunung Burangrang pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, dengan tinggi tebing mencapai 80 meter dan lebar sekitar 40 meter.
Akibat penyempitan lembah di bagian atas, energi aliran material tertahan dan terkonsentrasi sebelum akhirnya meluncur deras ke bawah. Panjang aliran longsor tercatat mencapai sekitar 3,7 kilometer.
“Panjang aliran bagian atas lereng mencapai 1,7 kilometer teridentifikasi beberapa zona hutan yang tergerus oleh aliran debris. Bagian bawah sekitar 2 kilometer yang sebagian besar lahan pertanian dan pemukiman,” kata Edi.
PVMBG juga mengurai kecepatan pergerakan longsor yang membuat warga nyaris tak memiliki waktu untuk menyelamatkan diri. Berdasarkan hasil pemodelan, material longsor hanya membutuhkan waktu sekitar 1.500 detik atau 20 hingga 25 menit sejak lepas dari mahkota longsor hingga menghantam permukiman warga.
“Pemodelan yang menggunakan asumsi, jadi kita asumsikan supaya kita punya gambaran dan memahami apa yang terjadi,” ujar Edi.
Dari pemodelan tersebut, PVMBG menemukan longsor tidak terjadi dalam satu gelombang tunggal, melainkan melalui beberapa suplai material dengan energi besar.
“Jadi berdasarkan pemodelan ini, terjadi 2-3 kali suplai material ke arah landaan yang terindikasi terdapat energi yang cukup besar mengerosi bagian lembah yang dapat dilihat dari dominasi material landaan adalah tanah dan bongkah dengan batuan yang berasal dari material lama rombakan,” katanya.
Energi besar yang terkumpul di lereng atas dan tengah memperkuat daya gerus aliran, membentuk lembah sungai berbentuk V yang mempercepat laju material longsor.
“Hasil pemodelan menunjukkan potensial energi terkumpul dan tertahan pada lereng atas dan tengah sehingga daya gerus air/erosi terhadap lereng sangat kuat sehingga membentuk lereng sungai berbentuk V,” ungkap Edi.
“Dari simulasi model, hanya perlu 1500 detik artinya 20-25 menit waktu yang dibutuhkan material dari atas ke bawah sangat cepat dan kejadiannya jam 2.30 pada saat orang istirahat,” lanjutnya.
Bekas Aliran Sungai
Temuan penting lainnya, PVMBG mengungkap jalur longsor yang menghantam permukiman ternyata mengikuti bekas aliran sungai lama. Tim mencatat adanya penyimpangan aliran material ke arah selatan yang tidak terjadi secara acak.
Hasil penelusuran data dan keterangan warga lama setempat menguatkan bahwa jalur tersebut dulunya merupakan sungai kecil atau parit alami.
“Ternyata dulunya menurut data dan pengakuan penduduk yang sudah lama tinggal di situ memang, jalur limpasan ini adalah dulunya adalah sungai, mungkin sungai kecil atau parit atau apa,” ujarnya.
Menurut Edi, saat volume material longsor melampaui kapasitas lereng, alam akan memilih jalur yang sudah terbentuk sebelumnya. “Jadi ketika terjadi over flow material, maka ya pasti akan memilih jalurnya. Alam ini punya logikanya sendiri,” ungkapnya.
Material longsor kemudian bergerak ke arah selatan, mengikuti alur sungai, sebelum berbelok ke arah barat dan memperluas dampak kerusakan.
“Material debris bergerak ke arah Selatan lalu berkembang menjadi aliran mengikuti alur sungai berbelok menuju ke barat. Terjadi limpasan penyimpangan aliran bahan rombakan ke arah selatan karena terjadi over flow material,” tutur Edi.
Di tengah proses pencarian korban yang masih berlangsung, PVMBG juga mengingatkan potensi longsor susulan di wilayah Kecamatan Cisarua. Berdasarkan peta zona kerentanan gerakan tanah (ZKGT), kawasan ini masuk dalam kategori menengah hingga tinggi.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
“Masih berpotensi terjadi pergerakan tanah susulan, masih berpotensi artinya belum pasti. Tapi tanda-tandanya semuanya ada, komponennya ada, parameter-parameter untuk terjadinya longsor susulan semuanya ada,” kata Edi.
New
“
