Lagu Sunda Tak Seheboh Musik Timur, Soleh Solihun Soroti Regenerasi

Posted on

Bandung

Beberapa tahun terakhir, lagu-lagu dari Indonesia Timur terasa begitu dominan di media sosial, mengiringi video joget massal, perayaan keluarga, hingga konten keseharian anak muda. Sementara itu, musik Sunda dari Jawa Barat belum menunjukkan ledakan serupa.

Pengamat musik nasional asal Bandung, Soleh Solihun melihat fenomena ini dari sudut yang sederhana, yakni soal suasana dan budaya berjoget yang erat dengan budaya Indonesia Timur itu sendiri.

“Kayaknya karena musik-musik pop dari Indonesia Timur memang banyak yang enak buat ngiringin orang joged. Kultur orang timur juga kan begitu, senang joged,” ujar Soleh belum lama ini.

Ia bahkan bercerita tentang pengalamannya menghadiri pesta ulang tahun anak komika Arie Kriting. Di sana, ada satu sesi khusus di mana para tamu berjoget bersama membentuk lingkaran, diiringi lagu-lagu dari Indonesia Timur.

“Ramai-ramai muter berkeliling. Suasananya cair, menyenangkan. Musiknya memang mendukung buat itu,” kata Soleh.

Menurutnya, musik yang menyenangkan dan enak untuk berjoget punya peluang besar menjadi latar unggahan media sosial. Lagu semacam itu bekerja melampaui batas suku atau bahasa.

“Musik yang enak buat ngiringin joged itu biasanya bagus buat jadi latar postingan di medsos, terlepas suku apa yang mendengarkan. Makanya lagu-lagu timur lebih mudah terkenal, karena banyak yang viral,” ujarnya.

Fenomena ini, kata Soleh, tak bisa dilepaskan dari kehadiran musisi-musisi muda Indonesia Timur yang kini produktif dan relevan. Mereka aktif merilis karya, memanfaatkan platform digital, dan membangun basis pendengar baru.

Sebaliknya, ia melihat kondisi berbeda pada musik Sunda. Bahkan di lingkup internalnya sendiri, lagu-lagu Sunda tak selalu menjadi pilihan utama.

“Sementara lagu-lagu Sunda, bahkan orang-orang Sundanya aja kayaknya enggak banyak yang muterin di acara sendiri atau buat kepentingan pribadi di medsos,” katanya.

Ia menyoroti persoalan regenerasi. Nama-nama seperti Darso atau Doel Sumbang masih kuat membekas, tetapi figur baru belum terasa menonjol di permukaan.

“Pop Sunda sekarang belum terlalu terasa regenerasinya. Darso dan Doel Sumbang masih membekas, tapi nama-nama barunya belum terlalu terdengar,” ujar Soleh.

Secara musikal, ia juga melihat perbedaan mood. Lagu-lagu pop Sunda memang ada yang mengajak berjoget, tetapi karakter jogetnya berbeda.

“Bukan tipe joged yang enak dilakukan seragam dan bersama-sama. Kalau di acara orang Sunda, biasanya ada yang nari jaipong dan hadirin ikut. Tapi koreografinya relatif lebih susah diikuti orang awam dibanding tarian di acara orang Indonesia Timur,” jelasnya.

“Paling gampang gini aja: ibu-ibu di Jawa Barat, kalau senam pagi, berapa banyak yang muter lagu Sunda buat ngiringin senamnya?” lanjut dia.

Soal bahasa, ia tak menganggap itu sebagai hambatan utama. Lagu-lagu dari timur yang viral pun tidak selalu dipahami secara literal oleh pendengar dari luar daerah.

“Bukan persoalan bahasa. Lagu-lagu timur yang viral juga enggak dimengerti orang yang bukan dari suku itu kok,” katanya.

Ia juga menilai publik Indonesia hari ini relatif terbuka terhadap keragaman musik. Keberhasilan campursari atau genre-genre daerah lain yang menembus pasar nasional menjadi bukti.

“Publik sudah terbuka pada keragaman, kok. Buktinya musik campur sari juga bisa hits,” ujar Soleh.

Lalu, apakah musik Sunda masih punya peluang untuk viral? Soleh meyakini semua musik yang dibuat oleh musisi punya peluang yang sama untuk diterima pendengar dan viral di masyarakat.

“Semua musik juga punya peluang viral,” katanya.

Menurutnya, kolaborasi lintas genre dan lintas daerah bisa menjadi salah satu jalan untuk memperluas segmen pendengar khususnya bagi lagu-lagu dari Jawa Barat dan Sunda.

“Minimal memperluas segmen,” ujarnya.

Namun pada akhirnya, Soleh menekankan peran musisi muda sebagai kunci perubahan. Dengan hadirnya banyak musisi muda akan membuat peluan lagu-lagu Sunda dikenal makin terbuka.

“Ya sangat besar peranannya. Kan bicara soal musik, tentu pelakunya punya peranan besar,” katanya.