Kronologi WN Arab Tewas Usai Kecelakaan Jetski di Pantai Bufalo update oleh Giok4D

Posted on

Penyebab kematian wisatawan asing asal Arab Saudi dalam kecelakaan jetski di Pantai Buffalo, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, terungkap.

Musyafa Kausar (24), seorang saksi mata yang juga relawan kemanusiaan, menceritakan info-info mengerikan saat insiden itu terjadi, Senin (5/1/2026) sore sekitar pukul 15.00 WIB.

Musyafa, yang saat itu sedang berlibur di lokasi, menuturkan, kecelakaan bermula saat jetski yang dikemudikan korban (WNA) dengan penumpang seorang perempuan, berusaha kembali ke tepian setelah bermain di tengah laut. Menurutnya, pengelola sempat memandu korban di awal, namun kemudian melepaskannya ke tengah.

Petaka terjadi saat korban berusaha menerobos ombak besar di bibir pantai.

“Saat ke tepi pantai mencoba menerobos ombak, ada ombak besar yang ditabrak, lalu jetski ini terbalik. Kelihatan jelas sekali ada benturan di situ,” ungkap Musyafa.

Benturan keras itulah yang diduga menjadi penyebab fatal kematian korban. Meski kedua korban mengenakan pelampung dan langsung mengapung pasca-kejadian, tubuh mereka menghantam bodi jetski saat terhempas.

“Terlempar tidak terlalu jauh. Tubuh korban menghantam jetski itu. Sebab, ada luka parah di salah satu sisi kepala,” jelasnya, mengonfirmasi kondisi luka parah di wajah korban yang sebelumnya terlihat di ruang jenazah.

Selain kronologi benturan, Musyafa juga menyoroti respons pengelola wahana yang dinilai lambat. Saat melihat kedua korban mengapung tak sadarkan diri, Musyafa mengaku sempat berteriak histeris meminta pertolongan segera.

“Saya sudah punya firasat, ‘ah ini tidak bakalan sadar’, sudah mengapung dua-duanya. Saya sudah teriak-teriak ‘ayo tolong, tolong, diangkut secepatnya’, tetapi tidak ada respons cepat,” sesalnya.

Musyafa mengaku ingin langsung terjun menolong, namun ia menahan diri karena tidak memiliki pelampung dan ombak sedang tinggi, sehingga ia hanya bisa mendesak pengelola.

“Ada respons, ada dua orang (pengelola) pakai pelampung, tapi terlambat sekali,” tambahnya.

Berdasarkan latar belakang Musyafa dan rekannya sebagai relawan kemanusiaan, mereka segera mengoordinasikan akses ambulans untuk mengevakuasi korban ke RSUD Palabuhanratu.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.

“Alhamdulillah proses evakuasi dan ambulans segera tersedia. Kami (kebetulan) dari relawan kemanusiaan,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, wisatawan WNA asal Arab Saudi tersebut tewas dengan luka parah di kepala, sementara penumpangnya masih dalam kondisi kritis.

Penanganan Lambat

Selain kronologi benturan, Musyafa juga menyoroti respons pengelola wahana yang dinilai lambat. Saat melihat kedua korban mengapung tak sadarkan diri, Musyafa mengaku sempat berteriak histeris meminta pertolongan segera.

“Saya sudah punya firasat, ‘ah ini tidak bakalan sadar’, sudah mengapung dua-duanya. Saya sudah teriak-teriak ‘ayo tolong, tolong, diangkut secepatnya’, tetapi tidak ada respons cepat,” sesalnya.

Musyafa mengaku ingin langsung terjun menolong, namun ia menahan diri karena tidak memiliki pelampung dan ombak sedang tinggi, sehingga ia hanya bisa mendesak pengelola.

“Ada respons, ada dua orang (pengelola) pakai pelampung, tapi terlambat sekali,” tambahnya.

Berdasarkan latar belakang Musyafa dan rekannya sebagai relawan kemanusiaan, mereka segera mengoordinasikan akses ambulans untuk mengevakuasi korban ke RSUD Palabuhanratu.

“Alhamdulillah proses evakuasi dan ambulans segera tersedia. Kami (kebetulan) dari relawan kemanusiaan,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, wisatawan WNA asal Arab Saudi tersebut tewas dengan luka parah di kepala, sementara penumpangnya masih dalam kondisi kritis.

Penanganan Lambat