Majalengka –
Memanasnya konflik di Timur Tengah antara Iran Vs Israel dan Amerika Serikat mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran perjalanan ibadah umat Islam, termasuk haji dan umrah.
Anggota Komisi VIII DPR RI Maman Imanulhaq menyoroti, potensi dampak konflik tersebut terhadap mobilitas jamaah Indonesia yang hendak berangkat ke Tanah Suci maupun yang tengah menjalankan ibadah umrah.
Maman mengaku, dirinya juga dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci sebagai anggota Panitia Kerja (Panja) Haji pada akhir Maret mendatang. Ia berharap, situasi di kawasan Timur Tengah segera mereda agar perjalanan ibadah dapat berjalan lancar.
“Saya akan berangkat (ibadah haji). Saya anggota Panja Haji dan akan berangkat tanggal 31 Maret besok. Kalau itu memungkinkan kita berharap perang segera berhenti dan semuanya bisa berjalan lancar,” kata Maman kepada , Jumat (6/3/2026).
Namun, di tengah situasi yang belum menentu, DPR saat ini juga tengah membantu menangani jamaah umrah Indonesia yang mengalami kendala perjalanan akibat terganggunya penerbangan di sejumlah bandara kawasan Timur Tengah.
“Hari ini juga kami di DPR sedang menyelesaikan jamaah umrah yang tidak bisa pulang gara-gara tersendat di bandara-bandara, termasuk di Jeddah, di Dubai dan juga di Qatar,” ujarnya.
Menurut Maman, langkah yang bisa dilakukan saat ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga melalui upaya diplomasi internasional serta doa agar konflik segera berakhir.
“Kita hanya bisa berdoa dan melakukan diplomasi internasional. Tapi siapa sekarang yang bisa menghentikan kegilaan Amerika? Mereka keluar dari 65 lembaga-lembaga negara dunia dan mereka tidak mendengar,” tuturnya.
Oleh karena itu, Maman menilai, persoalan yang dihadapi jamaah bukan semata soal biaya membengkak akibat tidak bisa pulang. Lebih dari itu, ada kemungkinan perjalanan ibadah tidak bisa dilakukan jika situasi keamanan tidak memungkinkan.
“Bukan soal biaya lagi. Itu yang akan disebut nanti manistatho’a ilaihi sabila. Jangan-jangan kita tidak bisa berangkat karena ada halangan di jalannya,” ucapnya.
Di sisi lain, Ia juga mengungkapkan, jumlah jamaah umrah Indonesia yang terdampak cukup besar, terutama karena saat ini merupakan periode umrah Ramadan yang biasanya dipadati jamaah.
“Banyak sekali. Ini umrah Ramadan. Saya hari ini menangani, alhamdulillah kemarin jamaah dari Malang lalu dari beberapa tempat lain, itu lumayan sekitar 5.000 jamaah,” ujarnya.
Jumlah tersebut, kata dia, belum termasuk jamaah lain yang mungkin meminta bantuan melalui jalur berbeda. Karena itu, ia berharap konflik segera dihentikan agar tidak semakin berdampak pada umat Islam yang ingin beribadah.
“Maka kata kuncinya, doa. Hentikan perang,” pungkasnya.
Doa Agar Perang Berhenti
Untaian doa-doa itu dipanjatkan di tengah memanasnya konflik antara Iran Vs Israel dan Amerika Serikat. Seruan doa ini diharapkan agar perang yang terus memakan korban segera berhenti.
“Ini adalah imbauan dari kami masyarakat jamaah semuanya untuk hentikanlah perang itu. Harus ada kelegowohan terutama dari negara-negara besar untuk memahami bahwa sesungguhnya kedaulatan sebuah negara tidak boleh diganggu seenaknya,” kata Maman yang juga Pengasuh Ponpes Al-Mizan.
Dalam kesempatan itu, jamaah juga mendeklarasikan seruan stop perang sebagai bentuk kepedulian terhadap situasi global. Maman menilai, dampak konflik tersebut bahkan sudah terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Terlihat sekali dampaknya. Setiap hari dari berita saja masyarakat yang seharusnya menikmati Ramadan, ini malah seperti menikmati perang. Sampai semua hapal. Biasanya kita tahu harga sembako naik, sekarang orang tahu berapa harga rudal Fatah, berapa harga kapal induk Abraham Lincoln dan sebagainya,” ujarnya.
Menurutnya, situasi ini membuat suasana Ramadan terasa berbeda. Perhatian masyarakat tersedot oleh kabar perang yang terus berkembang.
“Literasi Ramadan macet sama sekali gara-gara perang. Padahal Ramadan seharusnya momentum meningkatkan ibadah dan kedamaian,” ucapnya.
Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.
Maman mengingatkan, situasi perang di Timur Tengah harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah Indonesia. Itu karena, dampak konflik global bisa menjalar hingga sektor energi di dalam negeri.
“Termasuk kita pun meminta para pemimpin kita untuk lebih fokus bekerja, terutama akses dari peristiwa perang di Timur Tengah. Karena cadangan energi kita hanya 22 hari. Kalau seandainya perang berkelanjutan, maka ini perlu ada antisipasi dari pemerintah dan juga edukasi kepada masyarakat untuk tidak menghabiskan energi,” jelasnya.
“Apalagi kalau efeknya nanti Selat Hormuz betul-betul dikuasai Iran dan pasokan 20 persen energi dunia terhenti, itu efeknya besar sekali untuk Indonesia,” sambungnya.
Dengan demikian, mereka juga tak hanya menyerukan perdamaian dunia, para jemaah Ponpes Al-Mizan juga memanjatkan doa untuk Indonesia agar tetap diberi ketenangan, kedamaian dan ketentraman.
“Ini adalah dzikir bulanan keluarga besar Al-Mizan Jatiwangi, tapi momentumnya sangat tepat. Karena kita menginginkan ketenangan dan kedamaian. Maka pertama, doa kami dipanjatkan untuk Indonesia agar diberikan ketenangan, kedamaian, ketentraman dan seluruh program pemerintah berjalan dengan maksimal,” pungkasnya.
