Bandung –
Menjelang waktu berbuka puasa di sebuah sudut Kota Bandung, notifikasi pesan di ponsel Yusuf nyaris tak berhenti berbunyi. Sebagian besar pesan itu datang dari orang-orang yang menanyakan ketersediaan iPhone untuk disewa.
Bulan Ramadan memang menjadi masa yang cukup sibuk bagi bisnis sewa iPhone yang dijalankan Yusuf. Dalam beberapa minggu terakhir, permintaan meningkat cukup signifikan dibandingkan hari-hari biasa.
“Penyewaan lumayan naik kalau di bulan Ramadan gini, apalagi mau lebaran,” kata Yusuf saat berbincang dengan, Jumat (6/3/2026).
Menurutnya, masyarakat biasanya menyewa iPhone untuk berbagai kebutuhan dokumentasi. Mulai dari mengabadikan momen buka bersama, acara keluarga, hingga persiapan liburan saat cuti Lebaran.
“Biasanya yang sewa untuk keperluan dokumentasi, buat acara buka bersama, liburan sama keluarga,” ujarnya.
Dalam sehari, Yusuf bahkan bisa melayani cukup banyak pelanggan. “Sehari yang sewa bisa sampai 10 orang,” kata dia.
Kamera Jadi Alasan Utama
Tren menyewa iPhone sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai daerah di Indonesia, jasa serupa juga mengalami lonjakan permintaan menjelang Lebaran karena banyak orang ingin mendokumentasikan momen spesial dengan kualitas gambar yang lebih baik.
Hal yang sama terjadi di Bandung. Yusuf melihat kualitas kamera menjadi faktor utama mengapa banyak orang memilih menyewa iPhone dibanding menggunakan ponsel biasa.
“Harganya paling murah Rp90 ribu sampai Rp380 ribu tergantung tipe, ada iPhone XR, 11, 12 sampai 15 Pro Max,’ katanya.
Ia mengaku membuka usaha ini karena melihat kebutuhan masyarakat yang semakin besar terhadap konten visual di media sosial.
“Untuk memenuhi kebutuhan pasar, sekarang zamannya sosial media dan iPhone punya keunggulan kualitas gambar itu lebih bagus, saat diupload juga maksimal,” jelas Yusuf.
Meski di media sosial sering muncul anggapan bahwa orang menyewa iPhone hanya demi gengsi, Yusuf menilai alasan penyewa tidak selalu seperti itu.
“Kalau itu kita gak pernah tanya juga ya sebenarnya. Yang pasti hasil gambarnya lebih bagus dan jernih,” katanya.
Lebih Praktis untuk Konten
Salah satu penyewa iPhone di Bandung, Imam, mengaku menggunakan perangkat tersebut untuk kebutuhan membuat konten sekaligus dokumentasi kegiatan. Menurutnya, menyewa iPhone terasa lebih praktis dibanding harus menyewa kamera profesional.
“Lebih fleksibel dari pada harus sewa kamera. Kualitasnya juga bagus, videonya bagus untuk buat konten,” kata Imam.
Ia berencana menggunakan iPhone yang disewanya untuk membuat konten sekaligus mendokumentasikan beberapa kegiatan selama Ramadan.
“Rencana ini sewa untuk buat konten, buat dokumentasi,” ujarnya.
Imam sendiri bukan pelanggan baru dalam bisnis ini. Ia mengaku cukup sering menyewa iPhone, terutama ketika akhir pekan atau saat musim liburan.
“Cukup sering, biasanya sewa di weekend, atau pas liburan,” kata dia.
Untung Besar, Risiko Juga Ada
Meski terlihat menjanjikan, bisnis penyewaan iPhone juga memiliki risiko tersendiri. Yusuf mengaku beberapa kali mengalami kejadian ponsel rusak bahkan tidak dikembalikan oleh penyewa.
“Pasti ada, yang hilang atau gak dikembalikan, yang rusak,” ujarnya.
Jika perangkat mengalami kerusakan, biasanya ia akan membicarakan solusi bersama penyewa.
“Kalau yang rusak kita lihat tingkat kerusakannya, paling nanti biaya perbaikan kita bagi dua dengan customer,” katanya.
Sedangkan jika perangkat tidak dikembalikan, Yusuf akan melacak identitas penyewa yang sebelumnya wajib meninggalkan kartu identitas saat transaksi.
“Kalau yang dibawa kabur, kita lihat identitas karena kalau sewa wajib ninggalin KTP. Nanti kita lihat alamatnya, baru kita samperin ke situ” ujarnya.
Namun langkah hukum belum pernah ia tempuh. Pendekatan yang dilakukan biasanya masih bersifat persuasif.
“Tapi rata-rata awalnya komunikasi lewat media sosial dulu. Kita belum pernah lapor polisi, lebih dulu cara sosial,” kata Yusuf.
Di balik berbagai risiko tersebut, bisnis sewa iPhone tetap memberikan keuntungan yang cukup menjanjikan, terutama di momen-momen ramai seperti Ramadan dan menjelang Lebaran.
“Cukup menguntungkan, tapi memang risikonya lumayan besar juga,” ujar Yusuf.
