Kisah Syekh Abdul Manan dan Manuskrip Al-Qur’an Kuno Indramayu

Posted on

Indramayu

Riwayat penyebaran Islam di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu masih dapat ditelusuri melalui sejumlah peninggalan bersejarah yang bertahan hingga sekarang. Artefak-artefak tersebut menjadi penanda kuatnya tradisi dakwah serta aktivitas keilmuan Islam yang berkembang di daerah ini pada kurun 1870 hingga 1920.

Di antara peninggalan tersebut, terdapat koleksi yang menarik perhatian, yakni beberapa buku dan manuskrip Al-Qur’an tulis tangan yang ditemukan di Kelurahan Paoman. Naskah kuno tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi literasi keagamaan telah hidup di tengah masyarakat Indramayu pada masa lampau, sekaligus menggambarkan peran penting para ulama dalam menyebarkan ajaran Islam melalui jalur pendidikan.

Kini, berbagai peninggalan sejarah tersebut dirawat dan disimpan di Museum Bandar Cimanuk, yang berada di Jalan Veteran, Kelurahan Lemahabang, Indramayu. Tempat ini menjadi ruang penyimpanan sekaligus pengingat perjalanan panjang perkembangan Islam di daerah pesisir utara Jawa.

Manuskrip Al-Qur’an tulis tangan (Foto: Burhanudin/).

Ketua Yayasan Indramayu Historia Indonesia sekaligus Kepala Pengelola Museum Bandar Cimanuk, Nang Sadewo, menjelaskan bahwa manuskrip Al-Qur’an tersebut berkaitan dengan masa dakwah Syekh Abdul Manan, seorang tokoh penting penyebaran Islam di Indramayu pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

“Syekh Abdul Manan merupakan putra dari Kiai Haji Asnawi dan cucu Ki Baludin, yang juga dikenal sebagai Kiai Haji Syaifuddin dari Paoman. Setelah wafat, tokoh tersebut dimakamkan di Kelurahan Paoman,” ujar Sadewo kepada, Kamis (5/3/2024).

Nama beliau kemudian diabadikan menjadi Masjid Syekh Abdul Manan, yang kini dikenal luas oleh masyarakat sebagai Masjid Islamic Center Indramayu.

“Manuskrip Al-Qur’an ini menjadi bukti autentik bahwa tradisi keilmuan Islam pernah berkembang kuat di Indramayu,” kata Sadewo.

Ia menuturkan, naskah tersebut ditemukan pada 2017 dalam kondisi yang kurang terawat. Setelah melalui proses pembersihan dan konservasi, manuskrip kini dirawat secara berkala agar tetap terjaga keasliannya.

Menurut Sadewo, perkembangan Islam di Indramayu tidak terlepas dari pengaruh dakwah berbasis tarekat. Salah satu yang berperan adalah Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah, yang dikenal memiliki pendekatan sufistik dan menitikberatkan pada pembinaan akhlak.

Pendekatan spiritual tersebut, kata Sadewo, dinilai menjadi salah satu jalur efektif dalam memperkenalkan ajaran Islam kepada masyarakat pesisir kala itu.

“Tarekat menjadi bagian penting dalam penyebaran Islam di Indramayu, karena dakwahnya lebih menekankan pembentukan moral dan akhlak,” pungkasnya.

Halaman 2 dari 2

Video Kisah Masjid Tertua di Bandung, Mungsolkanas