Kutai Timur –
‘Nenekku Pahlawanku’ bukan sekadar judul lagu milik Wali. Kisah tentang sosok nenek yang menjadi penyelamat cucunya benar-benar terjadi di kehidupan nyata, tepatnya di Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Seorang nenek bernama Ernawati harus mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan sang cucu, Firman Anugrah (10), dari serangan buaya. Peristiwa menegangkan itu terjadi di Desa Sepaso Barat, Kecamatan Bengalon, pada Selasa (17/2) sekitar pukul 13.00 WITA, di siang hari bolong.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun sebagaimana dilansir dari detikKalimantan, kejadian bermula saat Firman tengah menghabiskan masa liburannya di rumah sang nenek. Siang itu, ia berenang di halaman rumah yang sedang tergenang air pasang. Tanpa diduga, seekor buaya tiba-tiba muncul dan langsung menyerang.
“Betul, cucunya ini lagi liburan nih di rumah neneknya di Bengalon, cucunya ini berenang di halaman rumah gak lama datanglah buaya itu menyambar betisnya, melihat itu, neneknya langsung menolong cucunya,” ujar Kapolsek Bengalon AKP Asriadi.
Melihat cucunya dalam bahaya, Ernawati yang saat itu berusia 65 tahun tak berpikir panjang. Ia langsung berusaha menarik Firman dari gigitan buaya. Namun, upaya penyelamatan itu justru membuat dirinya ikut menjadi sasaran serangan.
“Air di sana kan sedang pasang, kemudian setelah menolong cucunya, kemudian neneknya lagi yang diserang (buaya). Untung ada tetangga mereka yang melihat, seorang ibu bernama Fatmawati (44) yang menolong,” katanya.
Beruntung, bantuan cepat dari warga sekitar menyelamatkan keduanya dari situasi yang bisa berujung fatal. Setelah berhasil dievakuasi, nenek dan cucunya segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
“Tadi yang paling parah itu cucunya, kalau neneknya di tangan sebelah kanan juga (luka),” kata dia.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Insiden ini menambah daftar panjang konflik antara manusia dan buaya di kawasan tersebut. Warga setempat memang banyak bermukim di atas rawa-rawa, wilayah yang menjadi habitat alami reptil predator itu.
“Dan memang beberapa kali buaya sampai naik ke halaman rumah, salah satu yang terakhir kemarin kejadian anak-anak disambar buaya sampai terguling-guling itu untungnya alhamdulillah juga selamat,” tuturnya.
Pemerintah daerah pun disebut telah menaruh perhatian terhadap konflik yang berulang ini. Upaya penanganan, termasuk rencana relokasi buaya, tengah dibahas.
“Bapak Bupati juga pernah menyampaikan sebelumnya terkait hewan buas ini, akan dilaksanakan relokasi buaya seperti di Balikpapan tapi belum diketahui bagaimana nanti pelaksanaannya,” ujarnya.
Artikel ini sudah tayang di detikKalimantan
