Kisah Pangeran Siam yang Terbuang di Bandung baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Bandung

‘Verbannen Siameesche Prins’, demikian bunyi judul sebuah berita tambahan pada koran Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 14 Juli 1932. Dalam Indonesia, judul berita itu berbunyi ‘Pangeran Siam yang Diasingkan’.

Berita itu mengabarkan keberangkatan Pangeran Paribatra (1881-1944), pewaris takhta Kerajaan Siam (kini Thailand) dan keluarganya dari Bangkok pada 6 Juli 1932. Laporan dari Penang itu mengatakan pangeran dari Nagor Svarga (Kota Surga) meninggalkan Bangkok menggunakan kereta khusus.

Kocap tercerita, dalam perjalanan mengasingkan diri dari Siam yang baru saja mengalami kudeta tidak berdarah tersebut, Pangeran Paribatra hendak mengunjungi Hindia-Belanda lalu berangkat ke Eropa. Namun, kenyataan berkata lain, Sang Pangeran dan keluarga kerasan tinggal di Bandung.

Di kawasan Cipaganti, Kota Bandung, Pangeran Paribatra tinggal bersama keluarganya. Dia yang dikenal sebagai ahli bunga-bunga, merawat tanaman bunga di halaman rumahnya. Meski dikenal sebagai ‘orang buangan’, nyatanya Pangeran Paribatra punya akses penuh untuk berkunjung ke banyak tempat di Hindia-Belanda. Dia berkunjung ke berbagai tempat seperti Solo, Bondowoso, dan daerah-daerah lainnya, dan setiap kunjungan dia menginap di hotel.

Sepintas Kisah Kudeta

Sebuah kudeta bertajuk Revolusi Siam mengakhiri absolutisme Dinasti Chakri di Siam. Kudeta tak berdarah itu terjadi pada 24 Juni 1932. Para pangeran ditangkapi. Termasuk, Pangeran Paribatra Sukhumbandhu yang ketika itu menjabat Menteri Dalam Negeri Kerajaan Siam.

Raja Siam Prajadhipok lalu menandatangani konstitusi baru. Deli courant edisi 05 Juli 1932 pada rubrik berita luar negeri mengabarkan setelah kudeta, raja dan keluarganya diperbolehkan tinggal ke istana.

“Setelah Raja menandatangani Konstitusi baru, Pangeran Paribatra, pewaris takhta, diizinkan kembali ke Istananya.” tulis koran itu, termasuk, “Pangeran lainnya juga diizinkan kembali ke Istana mereka.”

Namun, Paribatra memilih jalan lain. Daripada kembali ke istana dengan ‘aroma’ yang lain, dia memilih pergi ke luar negeri. Niatnya, dia akan ke Eropa. Koran yang sama mengabarkan, “Ia akan bepergian bersama keluarganya hari ini, kemungkinan ke Eropa. Paribatra, mantan Menteri Dalam Negeri, ditangkap selama revolusi.”

Pangeran Paribatra menjadi Menteri Dalam Negeri di bawah Rama VII, Raja Prajadhipok. Pangeran Paribatra adalah salah satu orang terkuat di kerajaan sebelum kudeta itu. Dia adalah pewaris takhta.

Namun, sebelum ke Eropa, nyatanya Pangeran Paribatra lebih dahulu mengunjungi Hindia-Belanda dengan perjalanan melitasi sejumlah negara termasuk Semenajung Malaysia. Di Hindia-Belanda, Pangeran Paribatra berdomisili di Bandung.

De Indische courant edisi 14 April 1936 menegaskan perihal domisili tersebut. Yaitu, ketika Paribatra mengunjungi Bondowoso. Tulis koran itu, “Kami kedatangan seorang pangeran sejati di sini, yaitu Pangeran Paribatra dari Siam, yang berdomisili di Bandung, bersama keluarga dan rombongan, yang menginap di Hotel v/d Eb di sini dari tanggal 9 hingga 11 April.”

Pangeran Paribatra Tinggal Dimana di Bandung?

Menurut arsip dalam artikel berjudul ‘Resto Terkenal di Bandung Ini Dulunya Rumah Pengasingan Pangeran Siam’, rumah yang pernah dijadikan tempat tinggal Pangeran Paribatra adalah rumah di kawasan Cipaganti. Kini, rumah itu telah bersalin rupa menjadi restoran.

Bangunan yang menyimpan cerita Pangeran Siam itu ialah Dapur Dahapati di jalan Cipaganti nomor 146, Bandung. Letaknya persis di seberang Pom Bensin kecil di jalan Cipaganti. Rumah makan ini memiliki tampilan yang cukup sederhana. Terdapat satu menu andalan yang membuat pengunjung dari luar kota pun rela ke Bandung demi mencicipinya. Ialah Sop Buntut.

Cerita Pengasingan Pangeran Siam Selama Akhir Hayatnya di Kota Bandung Foto: Istimewa/pemindaian dokumen Cerita Bandung

Siapa sangka, rupanya resep Sop Buntut Dapur Dahapati sudah terjaga sejak tahun 1932. Bahkan, rumah makan tersebut mulanya jadi tempat Pangeran Siam atau Pangeran Thailand menghabiskan sisa hidupnya. Kala itu, Siam merupakan nama negara lama Thailand termasuk negara-negara pengikutnya yaitu Kamboja, Lanna, Laos, Pegu & sebagian kecil Malaysia.

“Dapur Dahapati menyimpan cerita tentang Pangeran Siam bernama Pangeran Paribrata. Ia adalah anak laki-laki ke-13 dari Raja Rama V. Meskipun laki-laki dan bisa memegang tahta, namun tidak mungkin jadi putra mahkota karena ia adalah anak ke-13. Tapi Pangeran Paribatra ini pintar, sehingga menduduki jabatan yang cukup strategis,” ujar Selviana Nitami, storyteller Cerita Bandung dalam sebuah walking tour.

Mengapa Pangeran Paribatra Memilih Bandung?

Bandung punya cerita yang ’emosional’ bagi Pangeran Paribatra. Karena itu, ketika dia memutuskan minggat dari Thailand yang setelah revolusi berubah sistem menjadi absolut parlementer, Bandung adalah sebuah pilihan yang disengaja. Dia datang ke Bandung dan berbicara kepada pemerintah untuk tinggal di wilayah itu.

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.

Apa alasan emosional itu? Dulu, Curug Dago menjadi tempat meditasi bagi sang ayah, Raja Rama V atau Raja Chulalongkorn. Curug Dago dianggap sebagai salah satu curug terbaik dan Raja Rama V sering bertandang ke Bandung. Di sana juga terdapat dua batu besar yang diberi atap, konon katanya dulu menjadi tempat meditasi Raja Rama V dan Raja Rama VII.

Pangeran Paribatra Wafat

Sekitar bulan Januari 1944, Pangeran Paribatra tutup usia. Ketika itu pendudukan Jepang. Namun, dia telah mempersiapkan lahan untuk dijadikan villa sekaligus lokasi makamnya di kawasan Jalan Setiabudi (dekat Lembang). Seperti ketika hidupnya, meski diasingkan, dia tetap mendapat penghormatan selayaknya pangeran. Begitupun ketika meninggal dunia, tetap ada upacara militer sebagai penghormatan.

Di tahun-tahun berikutnya, ada upaya memulangkan jenazah sang pangeran ke Thailand. Koran De Nieuwsgier pada Senin, 27 September 1948 mengabarkan Putra Mahkota Ajoena Chumbhot dari Siam sebagai kepala misi, bertugas memindahkan dari pemakaman kota di Bandung.

Halaman 2 dari 2