Indramayu –
Malam itu, laut di perairan sekitar Pulau Biawak, Kabupaten Indramayu, tak hanya basah oleh hujan kecil, tetapi juga menyimpan tragedi yang tak akan pernah lepas dari ingatan Alfianto Agus Sulistiyo (20). Nelayan muda asal Kelurahan Paoman itu menjadi satu dari dua orang yang berhasil lolos dari maut setelah kapal yang ditumpanginya, KM Almujib, remuk dan tenggelam usai ditabrak kapal tongkang bernomor lambung 3009 pada Sabtu (28/2/2026) malam.
Peristiwa tersebut meninggalkan luka mendalam. Dua orang dinyatakan meninggal dunia, sementara empat lainnya hingga kini masih hilang di tengah luasnya laut.
Jurnalis berkesempatan menemuinya di rumah sederhana milik orang tuanya di Kelurahan Paoman, Senin (2/3/2026) siang. Kepada, Alfianto bercerita bahwa dirinya masih mengingat jelas kejadian yang setiap detiknya terasa begitu panjang.
“Kalau trauma, pasti ada. Tapi saya bersyukur masih diberi kesempatan hidup,” ujarnya pelan.
Berdasarkan keterangan Tim SAR Gabungan, KM Almujib berangkat dari Pelabuhan Karangsong sekitar pukul 13.00 WIB dengan Jupri Priyanto sebagai nakhoda. Selain Jupri, terdapat tujuh anak buah kapal (ABK) di atas kapal tersebut, termasuk Alfianto. Total delapan orang bertolak menuju perairan Pulau Biawak untuk mencari ikan.
Sekitar pukul 22.00 WIB, hujan turun di tengah laut. Setelah menebar jaring, mesin kapal dimatikan dan seluruh awak beristirahat. Di situlah awal petaka bermula. Tidur Alfianto mendadak buyar oleh suara aneh yang menggeram dari kejauhan.
“Saya dengar suara seperti ‘grung-grung’, langsung terbangun. Begitu lihat ke depan, tongkang sudah dekat sekali,” kenangnya.
Ia berteriak membangunkan rekan-rekannya. Namun, jarak terlalu sempit untuk menghindar. Kapal nelayan berukuran 6 GT itu tak mampu menyelamatkan diri ketika tongkang raksasa bernomor 3009 menghantamnya. Benturan itu menyeret KM Almujib selama sekitar 10 menit sebelum akhirnya kapal kecil tersebut tenggelam sepenuhnya.
Semua awak sempat terjaga. Dalam kepanikan, mereka berusaha menyelamatkan diri. Banyak yang memanjat dan bergelantungan pada tali tongkang yang terbuat dari besi. Alfianto pun sempat melakukan hal serupa.
“Semua panik, naik ke atas. Saya juga sempat bergantung di tali tongkang,” katanya.
Namun ia sadar, bertahan di sana hanya akan menguras tenaga. Bersama Asep Agustina (24), ia mengambil keputusan berani, yakni melompat ke laut yang gelap dan berusaha mencari benda apa pun yang bisa dijadikan pelampung. Ia menemukan gabus untuk menopang tubuhnya.
“Kalau terus gelantungan, mah, saya nggak kuat, tangan saya perih dan berdarah, akhirnya saya lepas tangan dan terjun ke air,” katanya.
Berapa orang yang masih bergelantungan di tongkang, ia tak tahu lagi bagaimana nasibnya setelah itu. Saat itu pikirannya hanya satu, menyelamatkan diri.
Tak lama setelah tongkang menjauh, mereka bertemu Carudin (48) yang bertahan dengan jeriken bekas solar. Bertiga, mereka berjuang melawan dingin dan ombak.
Teriakan minta tolong sempat menggema, tetapi Alfianto memilih menghemat tenaga. Ia memahami, suara mereka kecil kemungkinan terdengar di antara deru mesin kapal yang melintas.
“Saya tidak mau buang tenaga. Kalau ada kapal lewat pun, belum tentu teriakan terdengar,” tuturnya.
Untuk bertahan hidup, ia bahkan mengais sisa makanan yang terapung di sekitar mereka. Waktu berjalan lambat hingga akhirnya secercah harapan muncul. Sekitar pukul 02.00 WIB, cahaya lampu KM Sri Mulya terlihat dari kejauhan.
Alfianto dan Carudin berhasil meraih jaring kapal tersebut dan dievakuasi sekitar pukul 04.30 WIB. Keduanya selamat berkat pertolongan KM Sri Mulya.
Namun takdir berbeda bagi Asep. Di tengah perjuangan itu, tenaga Asep kian habis. Alfianto sempat menyuapinya makanan agar tetap kuat, tetapi tubuh rekannya itu semakin kaku.
“Asep sudah pasrah, tenaganya habis. Saya lihat sendiri saat dia tenggelam,” ucap Alfianto dengan mata berkaca-kaca.
Ia juga menyesalkan sikap awak tongkang. Menurutnya, meski lokasi tersebut memang jalur kapal besar, tidak ada tanda peringatan yang diberikan.
“Tidak ada klakson, tidak ada lampu sorot. Seharusnya ada tanda supaya kapal kecil bisa menghindar. Kalau saya tidak bangun, mungkin tidak ada yang selamat. Saya tahu itu memang jalan kapal (besar) tapi kenapa kapal kami langsung ditabrak saja,” katanya.
Di tengah kekacauan, ia berusaha mengingat nomor lambung tongkang untuk dilaporkan kepada petugas kepolisian.
Kini, selain bersyukur karena selamat, Alfianto memendam harapan agar empat rekannya yang masih hilang segera ditemukan. Ia bahkan menyatakan keinginan untuk ikut dalam pencarian.
“Saya sudah bilang ke Tim SAR, besok (3/3/2026) saya ingin ikut mencari. Alhamdulillah diizinkan,” ungkapnya.
Dalam insiden itu, hanya Alfianto dan Carudin yang berhasil bertahan hidup. Dua korban meninggal dunia adalah nakhoda Jupri Priyanto alias Kempot (35), warga Desa Pabean Udik, serta Wandi (39), warga Desa Karangsong. Keduanya sempat berpegangan pada tali tongkang, namun akhirnya terlepas. Jenazah mereka ditemukan oleh KM Cahaya Langgeng dan dibawa ke Pelabuhan Karangsong.
Sementara empat nelayan lainnya masih belum diketahui nasibnya: Ari Wibowo (23) warga Kelurahan Paoman, Asep Agustina (24) warga Desa Penganjang, Mas’ud (38) warga Kelurahan Paoman, dan Ono (50) warga Desa Tambak.
Bagi Alfianto, laut kini bukan lagi sekadar ruang mencari nafkah. Di sanalah ia bertaruh nyawa, kehilangan kawan, dan menyaksikan langsung betapa tipis batas antara hidup dan mati.
