Bandung Barat –
Muhammad Rifal Firmansyah (15) duduk bersama saudara-saudaranya di posko pengungsian Pondok Pesantren Daarut Tahfidz. Ia mencoba tegar dan mulai beraktivitas kembali meski duka mendalam masih menyelimuti.
Remaja asal Kampung Pasir Kuda, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) itu baru saja melewati mimpi buruk. Ayah, ibu, dan adiknya menjadi korban longsor yang menerjang pada Sabtu (24/1/2026).
Rifal sudah beberapa tahun ini tinggal di Pondok Pesantren Al-Mubin, Desa Cintakarya, Kecamatan Sindangkerta, untuk menimba ilmu. Sementara itu, keluarganya menetap di kampung yang kini telah rata dengan tanah.
Kabar meninggalnya orang tua dan sang adik ia ketahui setelah melihat status WhatsApp kakak sepupunya, Neni. Neni jugalah yang akhirnya menyampaikan kabar duka itu kepada Rifal sehari setelah longsor menerjang.
“Awalnya dia lihat status WA saya. Saya tidak berani kasih tahu karena tidak sanggup,” kata Neni saat ditemui, Kamis (29/1/2026).
Rifal yang merasa ada hal ganjil terus mendesak Neni untuk menceritakan kondisi keluarganya. Dengan segenap kekuatan, Neni akhirnya berterus terang.
“Rifal di pesantren sudah menangis terus, kebetulan ustaznya telepon saya. Rifal keukeuh ingin pulang, lalu dibawa dulu sama Uwak ke Cimahi, baru hari Minggu diantar ke rumah di Pasir Kuda,” tutur Neni.
Wajar jika Rifal terpukul. Di usia yang masih belia, siswa kelas VIII itu sudah menjadi yatim piatu. Saat menjejakkan kaki di lokasi longsor, matanya menerawang jauh menatap kampungnya yang kini hilang tertimbun tanah.
Meski menangis, Rifal tetap berusaha berpikir jernih. Kesedihan itu ia alihkan menjadi kekuatan untuk membantu petugas mencari jasad ayah, ibu, dan adiknya. Ia tak sendiri, kerabat lainnya turut mendampingi di lokasi.
“Dia ke sana malah ikut mencari juga. Alhamdulillah ayahnya, ibunya, sama adiknya sudah ketemu dan sudah dimakamkan,” kata Neni.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Kini, Rifal dalam pengawasan keluarga besarnya. Ia direncanakan tinggal bersama sang uwak di Cimahi dan tetap melanjutkan sekolah. “Pendidikannya tidak boleh berhenti. Nanti tinggal di Cimahi, kami semua yang akan mengurus Rifal,” tegas Neni.
14 Anggota Keluarga Jadi Korban
Duka yang dirasakan Rifal juga menyelimuti Neni. Selain orang tua dan adik Rifal, Neni kehilangan 11 anggota keluarga lainnya dalam bencana tersebut.
“Total keluarga saya ada 14 orang yang jadi korban. Sebanyak 10 orang sudah ditemukan dan dimakamkan. Kami masih di pengungsian karena menunggu empat orang lagi ditemukan,” ungkap Neni.
Neni menyebut anggota keluarga laki-laki terjun langsung membantu operasi pencarian. Saat Tim SAR beristirahat, mereka tetap berjibaku menggali tanah demi menemukan jasad kerabat mereka.
“Tinggal paman sama anaknya, pokoknya empat orang lagi. Harapannya segera ditemukan agar kami tenang. Sekarang kami masih menunggu kabar setiap hari,” ujarnya.
Hingga hari keenam, tim SAR gabungan terus bekerja keras melakukan pencarian meski terkendala hujan dan kabut tebal. Hingga saat ini, petugas telah mengevakuasi 53 kantong jenazah dan masih mencari 27 korban lainnya di titik pencarian yang telah ditentukan.
Video Kisah Pilu Rifal, Remaja Kehilangan Keluarga dalam Longsor Cisarua“
[Gambas:Video 20detik]
