Bandung –
Di sekitar kawasan Pasar Baru Bandung, pria berusia 70 tahun bernama Jack masih setia menyusuri jalanan demi mengantarkan lembaran koran kepada para pelanggan setianya.
Rutinitasnya saban pagi dimulai dari kediamannya di Kopo. Ia menempuh perjalanan menggunakan angkot jurusan Soreang-Bandung dengan ongkos Rp7.000 demi mencapai agen koran di Cikapundung pada pukul 06.00 WIB.
“Dari rumah jam 06.00 ambil koran di situ tuh, di agen Cikapundung,” ungkap Jack menceritakan rutinitas paginya kepada, Rabu (11/3/2026).
Pria asal Bogor ini telah melakoni profesi sebagai penjual koran di Kota Kembang sejak tahun 1994, sebuah masa di mana media cetak masih menjadi primadona informasi masyarakat.
Namun, kejayaan masa lalu itu kini perlahan memudar seiring dengan dominasi teknologi yang membuat minat masyarakat terhadap koran menurun drastis. Jack merasakan betul dampak digitalisasi ini. Omzet penjualannya kini merosot hingga setengahnya dibandingkan masa-masa sebelumnya.
“Sekarang, semenjak HP berkembang pokoknya dari tahun 2000 ke sini lah, sudah mulai berkurang,” keluhnya.
Jika dahulu ia mampu membawa hingga 50 lembar koran sekali jalan, kini ia hanya berani mengambil sekitar 30 lembar. Itu pun sering kali masih menyisakan tumpukan di rumah.
Kondisi ini terkadang membuatnya terjebak dalam jeratan utang kepada pihak agen karena setoran yang tidak menentu akibat barang dagangan yang tak kunjung laku.
Tak jarang, koran yang tidak laku menumpuk di rumahnya hingga mencapai 50 lembar. Koran-koran ‘kemarin’ itu pun terpaksa ia jual dengan harga miring, Rp1.500, demi menutup utang setoran di agen.
“Kalau nggak habis besoknya saya bawa lagi, banyak di rumah numpuk, saya jual lagi di harga Rp1.500, soalnya harus tetap setoran,” ungkapnya.
Meski keuntungan yang didapat sangat tipis, yakni hanya sekitar Rp1.000 per lembar koran yang terjual, Jack enggan meninggalkan profesi ini karena merasa memiliki tanggung jawab kepada pelanggan lama yang telah dikenalnya selama puluhan tahun.
“Tiap lembar dapat 1.000 aja untungnya, gitu aja,” tuturnya.
Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.
Di sela-sela rutinitasnya di Pasar Baru, ia bahkan sering menawarkan bantuan kepada para pembeli jika ada proyek yang bisa ia kerjakan. Kesetiaan ini juga didukung oleh sang istri yang siap menggantikannya berkeliling pasar apabila Jack harus pergi ke luar kota untuk urusan lain.
“Kalau saya ada proyek ke luar kota, istri saya yang di sini, sudah pada tahu semuanya di Pasar Baru mah,” ujarnya.
Keahlian di Bidang Geodetik
Di balik sosoknya yang sederhana sebagai penjual koran, Jack sebenarnya memiliki latar belakang sebagai tenaga ahli di bidang survei pemetaan. Ia merupakan lulusan SMA yang sempat mengenyam kursus geodetik di kawasan Buah Batu pada tahun 1986 di bawah bimbingan langsung pengajar dari ITB.
Keahlian mengoperasikan alat ukur ini telah membawanya bertualang ke berbagai pelosok Indonesia, mulai dari Aceh, Kalimantan, hingga Papua.
Jack mengaku sangat mencintai pekerjaan lapangan tersebut karena memberikan sensasi petualangan yang tak terlupakan saat harus menembus hutan belantara.
“Saya kalau enggak kerja begitu tuh rindu lapangan, soalnya enak gitu, seperti petualangan gitu masuk hutan,” jelasnya mengenang masa-masa ia bekerja sebagai supervisor pengukuran.
Kini, di masa senjanya, Jack tetap menjalani hidup dengan penuh syukur sembari merawat ketiga anak laki-lakinya yang semuanya telah lulus sekolah.
Meski anak bungsunya kini bekerja di bidang pemasaran yang berbasis teknologi, Jack tetap menjadi sosok ayah yang gigih bekerja di jalanan.
Ia tetap berharap panggilan proyek survei akan kembali datang. Namun, selama panggilan itu belum tiba, ia akan tetap setia menjajakan korannya di sudut-sudut Pasar Baru.
Bagi Jack, setiap lembar koran yang ia antar bukan sekadar barang dagangan, melainkan penyambung tali silaturahmi dan bukti bahwa ia belum menyerah pada keadaan.
