Lorong-lorong di ITC Kebon Kalapa, pusat perbelanjaan yang pernah menjadi ikon kejayaan ritel Bandung, kini menyajikan pemandangan kontras. Di antara deretan rolling door yang tertutup rapat dan ditempeli kertas ‘Disewakan’, masih ada denyut kehidupan yang dipertahankan para pedagang yang enggan menyerah.
Ahmad Kustedi, yang akrab disapa Pak Tedi, Ketua Perhimpunan Pemilik dan Penghuni Satuan Rumah Susun (P3SRS)-P2K ITC Kebon Kalapa, merilis data okupansi terkini gedung. Dari total sekitar 2.000 kios yang tersedia, kini hanya sekitar 700 kios yang masih berpenghuni.
“Total yang terhuni sekitar 700 kios. Jadi dari 2.000 kios, kurang lebih hanya terisi 35 persen,” ungkap Tedi saat ditemui di ITC Kebon Kalapa, Jumat (2/1/2026).
Penurunan drastis ini mulai terasa sejak pandemi COVID-19. Namun, berbeda dengan pusat perbelanjaan lain yang perlahan bangkit, ITC Kebon Kalapa menghadapi badai ganda, yakni penurunan daya beli dan ketidakjelasan pengelolaan.
Isu krusial yang menimpa ITC Kebon Kalapa adalah status pengelolaannya. Sejak akhir 2022, gedung ini praktis tidak lagi diurus oleh pengelola lama.
Tedi menceritakan momen kritis pada 20 Desember 2022, ketika listrik gedung dipadamkan total oleh PLN karena tunggakan, padahal pedagang rutin membayar iuran.
Merasa ditelantarkan, para pedagang akhirnya bersatu membentuk kepengurusan mandiri di bawah P3SRS. Mereka melakukan patungan dana untuk menghidupkan kembali gedung yang sempat dijuluki ‘gedung hantu’ karena gelap gulita.
“Kami mandiri. Gaji petugas keamanan dan kebersihan ditanggung oleh pedagang yang masih aktif,” tegas Tedi.
Ia menambahkan bahwa pedagang bahkan melunasi utang sampah sebesar Rp 25 juta ke dinas terkait secara swadaya. Hasil dari upaya kolektif ini mulai terlihat nyata:
•Dari 16 unit eskalator yang tadinya mati total, kini 7 unit berhasil dinyalakan kembali.
•Lift yang sebelumnya hanya satu yang berfungsi, kini telah diperbaiki unit lainnya.
•Penerangan lorong yang sempat gelap kini kembali normal, dibiayai penuh dari kantong pedagang sendiri.
Meski banyak kios tutup, zonasi perdagangan di ITC Kebon Kalapa masih tertata rapi bagi pengunjung:
•Lantai Dasar: Didominasi pakaian, busana muslim, dan toko emas.
•Lantai 1: Pusat komunitas batu mulia/akik dan sebagian pakaian.
•Lantai 2: Pusat jual beli telepon genggam (baru & bekas).
•Lantai 3: Sentra suku cadang, teknisi, dan komputer/laptop.
Realita Okupansi: Tersisa 35 Persen
Pedagang Berinisiatif Kelola Gedung
Zonasi Perdagangan yang Masih Bertahan
Isu krusial yang menimpa ITC Kebon Kalapa adalah status pengelolaannya. Sejak akhir 2022, gedung ini praktis tidak lagi diurus oleh pengelola lama.
Tedi menceritakan momen kritis pada 20 Desember 2022, ketika listrik gedung dipadamkan total oleh PLN karena tunggakan, padahal pedagang rutin membayar iuran.
Merasa ditelantarkan, para pedagang akhirnya bersatu membentuk kepengurusan mandiri di bawah P3SRS. Mereka melakukan patungan dana untuk menghidupkan kembali gedung yang sempat dijuluki ‘gedung hantu’ karena gelap gulita.
“Kami mandiri. Gaji petugas keamanan dan kebersihan ditanggung oleh pedagang yang masih aktif,” tegas Tedi.
Ia menambahkan bahwa pedagang bahkan melunasi utang sampah sebesar Rp 25 juta ke dinas terkait secara swadaya. Hasil dari upaya kolektif ini mulai terlihat nyata:
•Dari 16 unit eskalator yang tadinya mati total, kini 7 unit berhasil dinyalakan kembali.
•Lift yang sebelumnya hanya satu yang berfungsi, kini telah diperbaiki unit lainnya.
•Penerangan lorong yang sempat gelap kini kembali normal, dibiayai penuh dari kantong pedagang sendiri.
Meski banyak kios tutup, zonasi perdagangan di ITC Kebon Kalapa masih tertata rapi bagi pengunjung:
•Lantai Dasar: Didominasi pakaian, busana muslim, dan toko emas.
•Lantai 1: Pusat komunitas batu mulia/akik dan sebagian pakaian.
•Lantai 2: Pusat jual beli telepon genggam (baru & bekas).
•Lantai 3: Sentra suku cadang, teknisi, dan komputer/laptop.
