Ikan Dewa Kuningan Mati Mendadak dan Mitos yang Hidup di Baliknya

Posted on

Bandung

Di balik sejuknya udara kaki Gunung Ciremai, tepatnya di balong keramat Cigugur dan Cibulan, Kuningan, Jawa Barat, tersimpan sebuah rahasia alam yang berselimut mitos.

Di sana, ratusan ikan berwarna abu-abu gelap dengan sisik besar berkilauan berenang bebas, menyambut siapa saja yang datang. Penduduk setempat menyebutnya Ikan Dewa, makhluk yang tak sekadar penghuni kolam, melainkan punya pertalian sejarah dan spiritualitas.

Sayangnya, baru-baru ini, sejumlah ikan dewa di Balong Cigugur mengalami kematian mendadak dan secara massal. Kasus kematian massal bahkan terus melonjak. Jika sebelumnya hanya puluhan, kini jumlah ikan yang mati mendadak mencapai ratusan ekor.

Dilansir, Kepala Bidang Perikanan Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan, Deni, menjelaskan hingga Selasa (3/2/2026), tercatat sekitar 300 ekor ikan dewa di Balong Cigugur mati. Mayoritas ikan yang mati tersebut merupakan ikan yang sudah berusia dewasa.

Ikan Dewa telah lama menjadi mitos di Sunda. Bahkan, jenis ikan yang sama di Sungai Citarum dimitoskan sebagai penguasa sungai itu, tegasnya, Kancra Raksasa berjuluk Kiai Layung.

Apa Itu Ikan Dewa di Cigugur Kuningan?

Ikan Dewa (Tor douonensis, disebut juga Tor soro) adalah jenis ikan air tawar langka yang dianggap suci oleh sebagian masyarakat Kuningan. Berbeda dengan ikan pada umumnya yang ditangkap untuk konsumsi harian, Ikan Dewa di kawasan Cigugur dan Cibulan dibiarkan hidup bebas dan dijaga dengan ketat melalui kearifan lokal.

Secara fisik, ikan ini memiliki tubuh yang gagah dengan sisik yang keras dan besar. Mereka hidup di kolam-kolam dengan mata air yang jernih dan mengalir langsung dari pegunungan. Kehadiran mereka menjadi daya tarik wisata utama sekaligus ‘penjaga’ kelestarian sumber air di kawasan tersebut. Ikan ini memang hidupnya di air jernih dan mengalir deras.

Silsilah dan Taksonomi ‘Sang Dewa Air Tawar’

Secara ilmiah, Ikan Dewa merupakan bagian dari keluarga Cyprinidae (kerabat mas-masan). Namun, jangan tertukar dengan ikan mas biasa, silsilah genetiknya jauh lebih dekat dengan ikan Mahseer yang dikenal sebagai ikan sport bergengsi di tingkat dunia karena kekuatannya.

Berikut adalah profil taksonominya:

  • Kingdom: Animalia
  • Filum: Chordata
  • Kelas: Actinopterygii
  • Ordo: Cypriniformes
  • Famili: Cyprinidae
  • Genus: Tor
  • Spesies: Tor douonensis (varietas lokal sering disebut sebagai Tor tambroides atau Tor soro tergantung daerah penyebarannya).

Ikan dari genus Tor ini dikenal sebagai penghuni sungai-sungai berarus deras di ketinggian, menjadikannya spesies yang membutuhkan kadar oksigen tinggi dan lingkungan yang sangat bersih.

Mengapa Disebut ‘Ikan Dewa’?

Penyematan nama “Dewa” bukan tanpa alasan. Nama ini lahir dari rasa hormat yang mendalam terhadap ikan ini. Di Cigugur, sebutan ini merujuk pada keyakinan bahwa ikan-ikan tersebut bukanlah ikan sembarangan.

Statusnya yang ‘suci’ muncul karena mereka tidak pernah berkurang jumlahnya meski tidak ada yang memasukkannya ke kolam secara sengaja dalam jumlah besar. Keberadaannya yang awet selama ratusan tahun di lokasi yang sama membuat masyarakat percaya bahwa ikan ini memiliki ‘derajat’ yang lebih tinggi dari ikan biasa, layaknya utusan atau entitas yang dilindungi kekuatan gaib.

Situs resmi Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Kupang, menyebutkan alasan lain penamaan ikan Tor ini sebagai ikan dewa. Kata ‘dewa’ justru merujuk pada nilai ekonominya yang tinggi.

“Nama dewa diperkirakan karena ikan konsumsi ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Sejak dahulu ikan endemik ini sering ditemukan di kolam dan telaga yang terlarang dan dikeramatkan oleh masyarakat. Hal tersebut membuat ikan ini juga dikeramatkan sehingga ada kepercayaan bahwa ikan ini tidak boleh ditangkap sembarangan, penangkapan harus melalui ritual khusus.” tulis situs itu.

Serba-serbi Ikan Dewa Cigugur

Ikan Dewa Foto: Fahmi Labibinajib

Dilansir, berikut ini adalah sejumlah mitos yang berkaitan dengan keberadaan ikan dewa di sejumlah kola keramat di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

1. Jelmaan Pasukan Prabu Siliwangi

Mitos paling kuat menyatakan bahwa ikan-ikan ini adalah jelmaan para prajurit Pajajaran yang membangkang atau tidak setia kepada Prabu Siliwangi. Mereka dikutuk menjadi ikan dan dihukum untuk menjaga mata air tersebut selamanya.

2. Jumlah yang Tak Pernah Berubah

Masyarakat percaya bahwa jumlah Ikan Dewa di kolam tersebut selalu tetap. Jika ada yang mati, akan muncul penggantinya secara gaib. Jika ada yang mengambil, ikan tersebut akan kembali dengan sendirinya atau si pengambil akan tertimpa sial.

3. Ritual Mandi dan Keberuntungan

Ada kepercayaan bahwa jika seseorang berhasil mencium atau menyentuh ikan ini saat mandi di kolam, maka orang tersebut akan mendapatkan keberuntungan atau cita-citanya akan terkabul.

4. Menghilang Saat Air Dikuras

Konon, saat kolam dikuras untuk dibersihkan, ikan-ikan ini tidak pernah terlihat menumpuk di dasar. Mereka dipercaya ‘pindah’ secara gaib ke lokasi lain dan kembali muncul tepat saat air sudah penuh.

Manfaat Ikan Dewa

Situs resmi Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan RI menuliskan selain urusan konservasi alam dan daya tarik wisata, Ikan Dewa sejatinya punya manfaat baik secara ekonomi maupun gizi.

“Manfaat keberadaan ikan dewa di TNGC (Taman Nasional Gunung Ciremai) sampai dengan saat ini hanya untuk daya tarik wisata pengunjung. Sedangkan manfaat lainnya sebenarnya cukup potensial, antara lain kandungan gizi albumin yang tinggi, untuk pengobatan pasca operasi, menjadi sarana pendidikan dan edukasi, serta nilai ekonominya yang tinggi. Ikan dewa telah menjadi komoditas ekspor dari Jawa & Sumatera,” tulisnya.

Sebesar Apa Mereka Bisa Tumbuh?

Di alam liar yang terlindungi seperti di Cigugur, ikan ini memiliki pertumbuhan yang cukup lambat namun bisa mencapai ukuran yang sangat fantastis. Secara umum, ikan yang terlihat oleh wisatawan biasanya berukuran 30 hingga 50 cm. Namun, untuk spesimen dewasa yang sudah berumur puluhan tahun, Ikan Dewa bisa tumbuh hingga mencapai panjang 1 meter dengan berat lebih dari 12 kilogram.

Halaman 2 dari 2