Bandung –
Peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan 51 spesies baru. Di antaranya ada Cupang Mulyadi hingga Cecak Jari Pecel Madiun.
Lebih rinci lagi, spesies yang baru itu terdiri dari 32 fauna, 16 flora dan 3 mikroba. Spesies-spesies baru tersebut mencakup beragam kelompok organisme, antara lain serangga, ikan, amfibi, reptil, moluska, serta tumbuhan berbunga dan anggrek.
Spesimen diperoleh dari berbagai wilayah di Indonesia, mulai Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. Temuan ini juga telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional sepanjang 2025.
Kepala PRBE BRIN Arif Nurkanto menyampaikan Indonesia masih menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati yang sebagian besar belum terungkap.
“Puluhan temuan spesies baru flora, fauna, dan mikroba tahun 2025 dari kami membuka cakrawala tentang pentingnya riset, ekspedisi, dan konservasi sumber daya hayati. Di tengah laju kepunahan yang terus berpacu dengan waktu, penemuan ilmiah menjadi harapan agar kekayaan alam tidak hilang sebelum sempat dikenal,” ujarnya dalam rilis yang diterima, Senin (2/2/2026).
Sebanyak 16 spesies baru flora yang berhasil diidentifikasi antara lain:
- Chiloschista tjiasmantoi (Anggrek Tjiasmanto)
- Homalomena adei (Talas Ade)
- Homalomena pistioides (Talas Apu-apu)
- Homalomena chikmawatiae (Talas Chikmawati)
- Begonia antoi (Begonia Anto)
- Homalomena amarii (Talas Amar)
- Homalomena renda (Talas Renda)
- Homalomena belitungensis (Talas Belitung)
- Syzygium halmaherense (Jambu Halmahera)
- Dendrobium siculiforme (Anggrek mahkota pisau)
- Bulbophyllum ewamiyiuu (Anggrek garis cokelat)
- Begonia elegantifolia (Begonia daun elegan)
- Homalomena sungaikeliensis (Talas Sungai Keli)
- Homalomena polyneura (Talas Samurai)
- Syzygium rubrocarpum (Ruruhi)
- Homalomena siasiensis (Talas Siasi).
Sementara itu, 32 spesies baru fauna yang ditemukan meliputi:
Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.
- Deutereulophus thahirae (Kumbang Thahira)
- Deutereulophus sancangensis (Kumbang Sancang)
- Deutereulophus krakatauensis (Kumbang Krakatau)
- Thlaspidula gandangdewata (Kumbang daun Gandangdewata)
- Thlaspidula sarinoi (Kumbang daun Sarino)
- Rhacophorus boeadii
- Cyrtodactylus pecelmadiun (Cecak Jari Bengkok Pecel Madiun)
- Limnonectes maanyanorum (Bangkong Manyaan)
- Limnonectes nusantara (Bangkong Nusantara)
- Bathynomus vaderi
- Amphicnemis reri
- Kalubustrongylus arsoensis (Cacing Nematoda Arso)
- Barbodes klapanunggalensis (Klapanunggal Blind Cave Barb)
- Oryzias polylepis
- Dibamus oetamai (Kadal Jakob Oetama)
- Kalophrynus misbahulmuniri (Katak lengket Misbahul Munir)
- Stiphodon hadiatyae (Goby Hadiaty)
- Rattus radityaniae (Tikus Radityani)
- Cyrtodactylus maryantoi (Cicak Jari Lengkung Maryanto)
- Cyrtodactylus mendol (Cicak Jari Lengkung Mendol)
- Tmethypocoelis malukensis (Kepiting Maluku)
- Aphaniotis kumbakarna (Bunglon Kumbakarna)
- Deramas jasmine (Kupu-Kupu Jasmin)
- Betta iaspis (Cupang Batu Jasper)
- Betta mulyadi (Cupang Mulyadi)
- Crunomys tompotika (Tikus Berduri Tompotika)
- Desmopuntius mahakamensis (Wader Mahakam)
- Johnius javaensis (Gulamah Jawa)
- Hylarana anatambanii (Katak Anant Ambani)
- Hylarana hellenae (Katak Hellen)
- Diancta batubacan (Keong Batubacan)
- Limnonectes meratusensis (Bangkong-tuli Meratus).
Adapun tiga spesies baru mikroba yang berhasil diungkap yaitu Morchella rinjaniensis (Morel Rinjani), Peterkaempfera podocarpi (Aktinobakteri Podocarpus), dan Haslea berepwari (Diatom).
Sebagian besar temuan tersebut merupakan spesies endemik yang hanya dijumpai di lokasi tertentu, sehingga memiliki nilai strategis dalam mendukung upaya konservasi keanekaragaman hayati Indonesia.
