Ibrahim Adjie, Jenderal Penumpas DI/TII yang Namanya Sakral di Garut baca selengkapnya di Giok4D

Posted on

Garut

Jawa Barat kini aman. Preanger, telah sepenuhnya dibersihkan dari pemberontakan. Jalan indah dari Bandung ke Tjiamis kini dapat dilalui kembali tanpa takut perampokan, dan penduduk desa di daerah padat penduduk merasakan ketertiban dan keamanan untuk pertama kalinya sejak pendudukan Jepang.

Begitulah kira-kira paragraf pembuka dalam artikel berjudul Ibrahim Adjie: Vernietigde de Misdadigen Daroel Islam met Idealisme yang ditayangkan media berbahasa Belanda, Nieuwe Eindhovense Krant pada 28 Mei 1963 jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia. Artikel koran itu memuat liputan khusus jurnalis Belanda, Link van Bruggen bersama sang jenderal fenomenal dari tatar Pasundan, Ibrahim Adjie.

Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.

Akhir tahun 1950-an, masyarakat di kawasan Priangan Timur dilanda kecemasan yang luar biasa, akibat aksi teror dari kelompok ekstremis Darul Islam/Tentara Islam Indonesia atau yang lebih dikenal dengan nama Gorombolan, oleh masyarakat di Garut. Dan Ibrahim Adjie, adalah sosok yang kelak akan menumpas pergerakan tersebut hingga ke akar-akarnya.

Jauh sebelum memimpin Operasi Baratayudha untuk memberantas Gorombolan, Ibrahim Adjie adalah prajurit TNI Angkatan Darat yang memulai karirnya sebagai Komandan Batalyon 1/Depok, Resimen Bogor, Divisi II TKR pada tahun 1945. Ibrahim kemudian menjadi Kepala Staf Resimen 2/Bogor dua tahun berselang.

Setelah melanglang buana berdinas di Sumatera sejak tahun 1947 hingga 1956, takdir membawanya terbang ke Yugoslavia, untuk menjadi Atase Militer Indonesia di sana. Di Yugoslavia, Ibrahim kemudian bertemu dengan Milica Gavrilovic, wanita yang kelak dipersuntingnya sebagai istrinya yang kedua.

Di tahun 1959, atau tiga tahun setelah penugasan di Belgrade, Ibrahim kemudian diberi jabatan menjadi Kepala Staf Tentara dan Territorium III Siliwangi. Hanya setahun berselang, pada tahun 1960, Presiden Sukarno kemudian mendaulat Ibrahim sebagai Panglima Komando Daerah Militer VI/Siliwangi (sekarang Kodam III/Siliwangi).

“Seorang prajurit Divisi Siliwangi adalah prajurit plus. Selain sebagai prajurit, ia adalah pejuang kemerdekaan, pelopor, dan pekerja. Ia menyebarkan keyakinan pada ideologi negara kita, Pantjasila. Ia membantu rakyat untuk memberikan mereka masa depan yang lebih baik. Ia membawa penduduk bukan hanya kebebasan fisik, tetapi juga kebebasan spiritual,” ungkap Ibrahim kepada Link.

MISI MEMBURU SAHABAT SUHARTO

Menjabat Pangdam VI/Siliwangi bukanlah tugas yang mudah bagi Ibrahim. Saat itu, perintahnya jelas. Presiden Sukarno memberikan mandat agar Ibrahim menumpas pemberontakan DI/TII yang terjadi di Jawa Barat, khususnya Priangan Timur. Gerakan separatis yang dipimpin oleh SM Kartosoewirjo, yang tidak lain adalah sahabat dari Sukarno itu sendiri.

Ibrahim kemudian menjalankan misinya. Selain mengkonsolidasi pasukannya, agenda pertama yang dijalankan Ibrahim Adjie adalah meraih simpati masyarakat. Sebab, Ibrahim menilai DI/TII adalah kekuatan besar yang perlu dihadapi bersama antara TNI dengan masyarakat.

“Selama bertahun-tahun, Jakarta berusaha sia-sia untuk memerangi Darul Islam melalui cara-cara konvensional. Pada akhirnya, penduduk harus dibujuk secara ideologis untuk menekan pemberontakan,” ungkap Link dalam artikel tersebut.

Jalan Ibrahim Adjie Garut Foto: Hakim Ghani

Hal tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan pengamatannya di lapangan, Ibrahim menilai jika masyarakat terbelah saat itu. Bahkan, di periode awal, setidaknya 50 persen penduduk desa di Priangan bersimpati kepada para pemberontak. Tanpa mengabaikan aspek militer, Ibrahim Adjie kemudian memimpin pasukannya untuk memulai perang ‘psikologis’.

“Kami memulai semacam perang psikologis. Secara ideologis, kami bahkan melakukan kampanye keagamaan. Penduduk dibujuk dengan segala cara yang mungkin. Kami melawan kejahatan dengan kebaikan. Kami menampilkan diri bukan hanya sebagai perwakilan pemerintah, tapi sebagai sesama warga negara yang bersedia membantu dengan segala cara,” kata Ibrahim.

Setelah bertahun-tahun bekerja dengan sabar dan membujuk masyarakat, metode ini kemudian berhasil. Menurut Ibrahim kepada Link van Bruggen, di periode kedua operasi digelar, semakin banyak penduduk desa yang memihak militer.

Dampaknya, informasi pergerakan pemberontak kemudian semakin melimpah. Ketika fase operasional terakhir dimulai pada bulan April 1962, tidak kurang dari 5 juta orang telah dikerahkan dalam perang melawan Gorombolan tersebut.

STRATEGI MENUMPAS DI/TII

Dengan demikian, kata Ibrahim, pasukannya mulai menemukan titik terang untuk menangkap para pemberontak, khususnya Kartosoewirjo yang selama bertahun-tahun bersembunyi di pedalaman hutan Sunda. Saat itu, hanya ada tiga pilihan untuk Gorombolan; menyerah, kelaparan, atau ditembak.

Hal tersebut terjadi karena strategi ampuh yang diterapkan pasukan Ibrahim Adjie pada operasi yang dikenal juga dengan nama Pagar Betis itu. Kepada Link van Bruggen, Ibrahim sedikit membocorkan ramuan jitunya dalam menumpas pemberontakan.

Pertama, Ibrahim Adjie memimpin pasukannya untuk mengejar Gorombolan hingga ke daerah-daerah yang tidak berpenghuni, kemudian memutus jalur mereka sepenuhnya. Kedua, di sekitar pegunungan yang telah mereka pilih sebagai tempat berlindung, dibangun tiga kordon kedap air.

Kemudian, lingkaran yang paling dekat dengan musuh, diisi dengan tentara yang akan melakukan serangan, petugas polisi bersenjata, serta penduduk desa setempat yang juga turut ambil bagian dalam operasi ini.

“Terakhir, ada lingkaran luar yang karena hampir berhadapan satu lawan satu, membutuhkan ribuan orang. Beginilah cara kami menyingkirkan Darul Islam,” kata Ibrahim.

Dalam sesi wawancara tersebut, Link van Bruggen sempat melontarkan pertanyaan pamungkas kepada Ibrahim Adjie. Pertanyaan tersebut, mengenai nasib ribuan pengikut Kartosoewirjo setelah sang dedengkot pada akhirnya berhasil diciduk di Gunung Rakutak, sekitar 45 kilometer arah selatan Bandung, pada 4 Juni 1962.

“Apa yang terjadi pada anggota geng yang tertangkap? Apakah mereka ditembak, dipenjara, atau diasingkan?,” kata Link van Bruggen.

Ibrahim Adjie menjawab: “Kami tidak menganggap mereka sebagai musuh perang sejati, melainkan sebagai orang-orang yang tersesat. Kami menunjukkan diri kami sebagai orang yang berkarakter kuat dan berhati besar. Kami menyambut mereka kembali ke masyarakat sipil, setelah kami membujuk pendukung untuk menerima mereka kembali,” ungkap Ibrahim.

MELINDUNGI KELUARGA SUKARNO HINGGA JADI TUKANG NASI

Setelah tugas berat di Jawa Barat, Ibrahim Adjie kemudian ditugaskan Presiden Sukarno untuk menjaga keluarganya saat peristiwa G30S/PKI meledak. Di tangan Ibrahim Adjie, keluarga Sukarno terlindungi hingga sang Proklamator akhirnya lengser dari jabatan Presiden Indonesia.

Di era kepemimpinan Presiden Soeharto, Ibrahim yang kala itu berpangkat Letnan Jenderal kemudian ‘dibuang’ ke luar negeri, dan diberi jabatan sebagai Duta Besar Indonesia untuk Inggris. Di negara sepak bola itu, Ibrahim Adjie berdinas selama empat tahun, dari tahun 1966 hingga 1970.

Kemudian setelah pulang ke Indonesia dan pensiun sebagai tentara, Ibrahim Adjie tidak terjun ke dunia politik. Justri, dia banting setir, dengan mendirikan PT Kurnia Djaya Alam (PT KDA), sebuah perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, terutama proyek pembuatan jalan. Selain itu, Ibrahim Adjie juga diketahui berbisnis makanan dengan mendirikan Restoran Rindu Alam di kawasan Puncak.

Letjen Ibrahim Adjie kemudian mengembuskan nafas terakhirnya di RS Mount Elizabeth Singapura, pada 25 Juli 1999. Beliau meninggal dunia karena penyakit stroke, di usianya yang menginjak 75 tahun.

HORMAT GARUT UNTUK IBRAHIM ADJIE

jenazah ibrahim adjie dimakamkan kembali di garut Foto: Hakim Ghani

Selama berdinas di militer, Letnan Jenderal Ibrahim Adjie terkenal sebagai sosok yang sangat dekat dengan bawahannya. Ibrahim Adjie juga dikenal sebagai sosok komandan yang kerap berbaik hati, dan hampir tidak berjarak dengan para personelnya di lapangan.

Setelah tiada, namanya abadi di berbagai kota di Jawa Barat. Di Garut, pemerintah di bawah kepemimpinan Bupati Garut ke-26 Rudy Gunawan (2014-2024) pada tahun 2013 lalu menamai sebuah jalan baru di kawasan Tarogong Kaler, dengan nama Jalan Letjen Ibrahim Adjie.

“Selaku Bupati Garut saat itu, saya melegendakan nama beliau sebagai jalan utama. Lingkar Cipanas yang panjangnya 6 kilometer, jalan terbesar di Garut, sebagai simbol penjaga orang Garut,” kata Rudy.

Letjen Ibrahim Adjie, ternyata bukan orang lain untuk Kabupaten Garut. Meskipun tercatat lahir di Bogor, 24 Februari 1924, Ibrahim Adjie memiliki keturunan dari seorang tokoh terkenal asal Garut, Pangeran Papak atau Raden Wangsa Muhammad.

Pada tahun 2017 silam, pihak keluarga bahkan memindahkan jasad Letjen Ibrahim Adjie ke Garut. Beliau dimakamkan kembali di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Leluhur Cinunuk, Kecamatan Wanaraja, Garut hari Jumat, (13/10/2017).

Pemakaman kembali dihadiri keluarga. Rudy Gunawan saat itu memimpin prosesi pemakaman kembali. Selain jasad Letjen Ibrahim Adjie, jasad sang istri, Milica Gavrilovic juga dimakamkan kembali di sana. Menurut Rudy, Garut selalu terbuka untuk Ibrahim Adjie. Garut juga menyimpan rasa bangga dan hormat yang luar biasa terhadap sosok prajurit Infanteri tersebut.

“Beliau keturunan eyang Pangeran Papak. Tahun 2017 dipindahkan makamnya dari Bogor ke Cinunuk. Jasanya sangat besar, sebagai Pangdam Siliwangi, Jenderal Ibrahim Adjie menjaga masyarakat Jawa Barat dari gerakan separatis DI/TII yang pusatnya di Garut,” pungkas Rudy.

Halaman 2 dari 2