Bandung Barat –
Hujan gerimis yang turun pada Sabtu (24/1/2026) dini hari menjadi awal petaka di kaki Gunung Burangrang. Tepat pukul 03.00 WIB, tanah tiba-tiba bergetar disertai suara gemuruh. Lumpur dan material longsor menghantam permukiman warga yang telah berdiri puluhan tahun.
Bencana longsor tersebut meratakan puluhan rumah di tiga kampung, yakni Kampung Pasir Kuning, Kampung Pasir Kuda, dan Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Korban bergelimpangan, warga yang selamat berdesakan di pengungsian. Tim SAR gabungan dikerahkan untuk mencari korban yang diduga tertimbun longsor. Pemerintah daerah pun menetapkan status tanggap darurat.
Hingga hari kesembilan pencarian, nyaris seluruh korban berhasil dievakuasi dan diidentifikasi. Berikut rangkuman lengkap tragedi longsor yang meninggalkan luka mendalam di kaki Gunung Burangrang.
74 Korban Dievakuasi, 57 Berhasil Diidentifikasi
Sampai Minggu (1/2/2026) atau hari kesembilan pencarian, Tim SAR Gabungan telah mengevakuasi 74 korban dari lokasi pencarian yang telah ditetapkan.
“Korban yang sudah dievakuasi sampai hari kesembilan ini sebanyak 74 body pack. Hari ini, tim menemukan empat body pack,” ujar Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, Minggu (1/2/2026).
Berdasarkan laporan awal, total korban tertimbun longsor diperkirakan mencapai 80 orang. Dengan demikian, masih terdapat enam korban yang hingga kini masih dalam pencarian.
“Mudah-mudahan sisa korban bisa segera ditemukan,” kata Ade Dian.
Seluruh korban yang berhasil dievakuasi langsung diserahkan ke Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat untuk proses identifikasi sebelum diserahkan kepada keluarga.
“Hingga 1 Februari pukul 16.00 WIB, sebanyak 57 korban telah teridentifikasi. Sisanya masih dalam proses,” ujar Ade Dian.
48 Rumah Rusak, 80 Rumah Warga Direlokasi
Bencana longsor ini juga menyebabkan kerusakan besar pada permukiman warga. Tercatat 48 rumah rusak, sementara 80 rumah masuk dalam rencana relokasi.
Incident Commander (IC) penanganan longsor Cisarua, Ade Zakir, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pendataan zonasi wilayah terdampak.
Zonasi dibagi menjadi tiga kategori, yakni zona terdampak, zona terancam (merah), dan zona aman (kuning).
“Hasil pendataan awal menunjukkan ada 80 rumah yang akan direlokasi. Rinciannya, 46 rumah rusak akibat gerakan tanah dan 34 rumah berada di zona merah,” kata Ade Zakir, Jumat (30/1/2026).
Sementara itu, rumah-rumah yang berada di zona aman sebagian besar ditinggalkan pemiliknya untuk sementara waktu dan penghuninya memilih mengungsi.
“Kami masih memilah rumah per rumah. Bagi warga yang berada di luar zona terdampak dan zona merah, kami imbau untuk kembali ke rumah masing-masing,” ujarnya.
6 Korban Masih Dalam Pencarian
Hingga hari kesembilan operasi pencarian, enam korban longsor masih belum ditemukan. Tim SAR Gabungan terus melakukan penyisiran dengan tetap mengutamakan keselamatan personel.
“Operasi pencarian harus mengedepankan unsur keselamatan. Jika hujan turun, personel akan ditarik karena berisiko terjadi longsor susulan,” kata Ade Dian.
Cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan besar dalam proses evakuasi, mengingat potensi longsor lanjutan masih sangat tinggi.
Cuaca Ekstrem Jadi Kendala, Operasi Modifikasi Cuaca Dilakukan
Sejak awal kejadian, pemerintah telah melakukan lebih dari 20 kali Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menekan intensitas hujan di wilayah terdampak.
Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu, mengatakan bahwa OMC dilakukan dengan rata-rata tiga penerbangan per hari menggunakan metode penaburan garam.
“Ini sudah kami lakukan secara maksimal, namun saat ini memang sedang berada di puncak musim hujan,” ujarnya.
BMKG memprediksi dalam sepekan ke depan wilayah longsor masih berpotensi diguyur hujan dengan intensitas ringan hingga lebat.
“Kondisi cuaca ini jelas berdampak pada operasi pencarian,” kata Teguh.
Lokasi Longsor Sempat Jadi Wisata Bencana
Di tengah operasi pencarian yang berlangsung penuh risiko, lokasi longsor sempat dipadati warga yang datang hanya untuk melihat langsung kondisi di lapangan.
Dari kejauhan terlihat sejumlah orang berjejer sambil merekam menggunakan ponsel. Mereka bukan jurnalis, melainkan warga yang datang karena rasa penasaran, fenomena yang kerap disebut wisata bencana.
Petugas berulang kali mengingatkan agar warga tidak mendekati lokasi longsor karena bahaya masih mengintai.
“Sejak dari bawah sudah kami jaga. Kami juga berkoordinasi dengan perangkat desa untuk mengenali warga setempat,” kata Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra, Kamis (29/1/2026).
Cuaca ekstrem dan potensi longsor susulan masih menjadi ancaman serius, sehingga masyarakat diimbau untuk tidak mendekati area terdampak demi keselamatan bersama.
