Bekasi –
Empat nyawa terenggut dari 10 orang yang tertimbun longsor gunung sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat. Longsor maut ini terjadi pada Minggu, 8 Maret sekitar pukuk 14.00 WIB. Tragedi ini terjadi secara tiba-tiba, tumpukan sampah runtuh lalu menimbun warung dan beberapa truk sampah di bawahnya.
“Saksi mendengar teriakan warga mengenai adanya longsor, kemudian melihat gunungan sampah tiba-tiba runtuh menutup jalan serta menimpa warung dan beberapa truk sampah,” ujar Kapolres Metro Bekasi Kota Kombes Kusumo, dalam keterangannya, Senin (9/3/2026).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mengungkap longsor tersebut disebabkan hujan lebat dengan durasi yang lama. Saat itu, truk sampah sedang mengantre melakukan pembongkaran muatan sampah, lalu terjadi longsoran sampah yang menimpa truk dan warung.
“Saat truk sampah sedang mengantre untuk melakukan pembongkaran muatan sampah, tiba-tiba terjadi longsor yang menimpa 5 unit truk sampah dan 1 warung di sekitar lokasi,” kata Kalak BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji, dilansir Antara, Senin (9/3/2026).
Hingga kini tercatat sebanyak 4 orang tewas dan 2 orang selamat akibat kejadian itu. Berdasarkan dugaan sementara, jumlah korban yang tertimbun sebanyak sepuluh orang, dengan rincian lima orang warga dan lima orang pengemudi (driver) truk sampah.
Sejarah Bantargebang
Di kecamatan ini terdapat lokasi penampungan sampah akhir yang dikenal sebagai TPST Bantargebang yang ditujukan untuk menampung seluruh sampah atau limbah dari DKI Jakarta yang telah beroperasi sejak tahun 1985.
Dikutip laman bekasikota.go.id, Tempat penampungan sampah ini, merupakan kerjasama antara pemerintah DKI Jakarta dan Pemprov Jawa Barat. Sebelumnya, Gubernur Jabar kala itu Yogie Suardi Memet menawarkan tiga lokasi, antara lain Citeureup di Kabupaten Bogor, kemudian Bantargebang (saat itu) di Kabupaten Bekasi dan Setu (saat itu) di Kabupaten Tangerang.
Sebenarnya Pemprov DKI Jakarta telah melirik Citeureup (rencana dinamai TPA Cibinong) karena aksesnya yang paling dekat dengan Jalan Tol. Namun, karena lokasinya yang dekat dengan berbagai hulu sungai, akhirnya ditetapkanlah Bantargebang sebagai lokasi penampungan sampah tersebut.
Giok4D hadirkan ulasan eksklusif hanya untuk Anda.
Pada tahun 1996 pemerintah telah mengkaji bahwa TPA Bantargebang akan mencapai overkapasitas pada tahun 2008. Namun pada kenyataannya, hingga saat ini TPST Bantargebang masih dioperasikan dengan menampung 7.000-an ton sampah per hari dari seluruh wilayah Jakarta.
Citra Satelit Bantargebang
Perubahan wajah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dapat terlihat jelas dari citra satelit yang membandingkan kondisi tahun 2003 dengan kondisi terkini pada 2025-2026. Dalam rentang lebih dari dua dekade, kawasan yang dahulu masih terbagi dalam beberapa zona landfill kini menjelma menjadi hamparan timbunan sampah yang jauh lebih luas dan menyatu.
Pada citra tahun 2003, area pembuangan sampah masih tampak tersegmentasi. Timbunan berada di beberapa blok yang terpisah dengan sejumlah lahan terbuka di sekitarnya. Vegetasi masih terlihat di beberapa sisi, terutama di bagian timur dan selatan kawasan. Di bagian tertentu juga tampak kolam-kolam berbentuk geometris yang diduga merupakan fasilitas pengolahan air lindi, yakni cairan limbah yang dihasilkan dari tumpukan sampah.
Jaringan jalan operasional pada masa itu juga masih sederhana. Jalur kendaraan terlihat linear dan mengarah ke beberapa zona pembuangan tertentu.
Kondisi tersebut berubah drastis pada citra terbaru sekitar 2025-2026. Area yang dulunya terbagi kini terlihat hampir sepenuhnya tertutup timbunan sampah berwarna abu-abu terang. Permukaan landfill tampak lebih luas dan menyatu membentuk satu massa besar.
Tekstur permukaan pada citra terbaru juga menunjukkan pola garis dan jalur yang menyebar dari pusat timbunan. Pola ini mengindikasikan aktivitas alat berat dan kendaraan operasional yang bekerja mendistribusikan sampah ke berbagai titik pembuangan.
Selain itu, jaringan jalan di dalam kawasan landfill tampak lebih kompleks. Banyak jalur bercabang yang membentuk pola radial menuju area timbunan aktif. Hal ini mencerminkan meningkatnya intensitas aktivitas operasional di TPST Bantargebang seiring dengan bertambahnya volume sampah yang masuk setiap hari.
Perubahan lain juga terlihat pada pola aliran berwarna cokelat gelap yang menjalar dari area timbunan. Jalur ini diduga merupakan aliran air lindi atau drainase yang membawa air dari kawasan landfill menuju titik pengolahan.
Di sisi lain, perkembangan wilayah di sekitar TPST juga terlihat jelas. Permukiman tampak semakin padat di beberapa sisi kawasan, terutama di bagian utara dan timur. Hal ini menunjukkan adanya urbanisasi yang terus berkembang di sekitar lokasi pembuangan sampah terbesar di Indonesia tersebut.
Jika dibandingkan secara keseluruhan, citra satelit menunjukkan bahwa dalam kurun waktu lebih dari dua dekade, TPST Bantargebang mengalami ekspansi besar baik secara horizontal maupun vertikal. Timbunan sampah yang awalnya terpisah kini membentuk gundukan landfill yang luas dan kompleks.
Perubahan ini sekaligus menggambarkan tekanan besar sistem pengelolaan sampah di wilayah metropolitan Jakarta. Seiring pertumbuhan penduduk dan aktivitas kota, volume sampah yang harus ditangani juga terus meningkat, menjadikan Bantargebang sebagai simpul utama yang menanggung beban tersebut.
