Garut –
Ada-ada saja kelakuan seorang warga Pakenjeng, Kabupaten Garut Tio alias Tito Kobra. Ketahuan makan di siang hari atau mokel di bulan Ramadan oleh Kapolsek dan Camat setempat, Tio malah menangtang aparat tersebut dan mengancam akan membunuhnya.
Tak hanya itu, Tio juga sempat terlibat perkelahian dengan Kapolsek Pakenjeng IPTU Muslihat Hidayat. Kejadian perkelahian antara Tito Kobra dengan Kapolsek ini terekam dalam video amatir berdurasi lebih dari 4 menit yang beredar di media sosial. Seperti dilihat, dalam video tersebut keduanya bertarung sengit.
“Kamu pikir saya takut sama kamu?,” teriak Kapolsek kepada Tito Kobra dalam video tersebut.
Dikonfirmasi terpisah, Muslih membeberkan kronologi kejadian tersebut. Menurutnya, peristiwa bermula sekitar 10 hari lalu. Kala itu, dirinya yang sedang dalam perjalanan pulang dari kegiatan Safari Ramadan melakukan patroli di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Pakenjeng.
“Saat berada di PLTM, saya merasa aneh. Ada banyak motor, tapi orangnya tidak ada. Kemudian saya telusuri, ternyata orang-orangnya ada di bawah sedang minim-minum,” kata Muslih, Sabtu (14/3).
Muslih mengungkapkan, saat itu ia mendata sekitar 8 pemuda, termasuk Tito Kobra yang ada di lokasi. Kepada para pemuda yang kedapatan tidak berpuasa tersebut, Muslih memberikan hukuman push-up.
“Karena kan kami juga memiliki dasar Maklumat Bupati Garut tentang imbauan di bulan Ramadan,” katanya.
Kejadian sore itu berlalu tanpa masalah berarti. Namun, pada Jumat 13 Maret kemarin, tanpa disangka Tito Kobra menghampiri Muslih yang saat itu hendak berbagi takjil dengan komunitas pemuda di Pakenjeng.
Tito langsung berbicara kepada Muslih. Dia mengaku tersinggung oleh perilaku Muslih yang merazia Tito dan anak buahnya saat sedang makan di siang hari tempo hari. Muslih kemudian menjelaskan tugas dan fungsinya sebagai polisi, tetapi Tito tidak terima.
“Saat itu yang bersangkutan ngedumel karena merasa dicemarkan nama baiknya. Berbicara kasar dan memaki saya. Saya diamkan saja,” ungkap Muslih.
Namun, Muslih akhirnya terpancing emosi kala Tito mengancam akan membunuhnya dan Camat Pakenjeng. “Saat berlalu, dia bicara…. kalau begitu, ku aing dipaehan Camat sakalaian jeung Kapolsekna,” ungkap Muslih menirukan ucapan Tito.
Muslih tak tinggal diam, dia meradang dan langsung melumpuhkan Tito dengan tujuan untuk mengamankannya ke Mapolsek. Namun, Tito melawan hingga terjadi perkelahian.
Pertarungan itu berlangsung sengit hingga 4 menit lamanya sebelum pria tersebut akhirnya menyerah. Saat dilakukan penggeledahan, Tito Kobra kedapatan membawa sebilah golok berukuran kecil.
Meski sempat terpancing emosi, dia memutuskan tidak akan membuat laporan secara resmi untuk memproses hukum Tito. Muslih memilih berbesar hati atas kejadian tersebut.
“Meskipun kelakuannya seperti itu, tapi yang bersangkutan adalah masyarakat saya. Sudah menjadi kewajiban saya untuk melakukan pembinaan meskipun terkadang nyawa terancam,” terang Muslih.
Dari hasil penyelidikan polisi, Tito Kobra terindikasi tengah dalam pengaruh obat-obatan terlarang saat kejadian berlangsung. Ia merupakan sosok yang selama ini meresahkan warga di wilayah Kecamatan Pakenjeng.
“Meskipun kelakuannya seperti itu, tapi yang bersangkutan adalah masyarakat saya. Sudah menjadi kewajiban saya untuk melakukan pembinaan meskipun terkadang nyawa terancam,” ucap Muslih.
Tito Kobra sendiri secara khusus telah meminta maaf kepada Muslih, baik secara langsung di lokasi maupun melalui kepala desa tempatnya bermukim di Pakenjeng. Muslih pun memaafkannya, meskipun terdapat peluang untuk menjebloskan Tito Kobra ke penjara atas dugaan tindak pidana melawan petugas serta kepemilikan senjata tajam.
