Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandung Iman Lestariyono menegaskan pentingnya penguatan budaya literasi sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Kota Bandung. Ia menuturkan, ada tantangan serius bagi pemerintah untuk mencari formulasi solutif yang tepat.
Menurutnya, berdasarkan pada data riset tingkat indeks literasi terutama minat baca masyarakat, khususnya generasi muda di Indonesia dan Kota Bandung masih rendah dibandingkan dengan rata-rata dunia. Padahal, wilayah yang diriset telah memiliki pelayanan literasi yang cukup baik.
“Ketika kita berbicara literasi, itu bukan hanya soal membaca, tetapi literasi juga mencakup pada kemampuan memahami, menganalisis, menulis, hingga menghimpun dan mengolah informasi. Aspek-aspek inilah yang masih perlu kita perkuat,” katanya dikutip Sabtu (29/11/2025).
Iman Lestariyono juga menyoroti pentingnya literasi sebagai benteng untuk mencegah berbagai persoalan sosial yang kerap menimpa generasi muda. Lemahnya literasi finansial misalnya, kata dia, dapat menyebabkan anak muda terjebak dalam pinjaman online, sementara kurangnya literasi digital membuat mereka mudah terpengaruh mis-informasi atau gagal memahami pesan yang diterima.
Oleh karena itu, salah satu metode yang diapresiasi adalah ketika peserta ditantang membaca buku atau dokumen, kemudian memvisualisasikannya kembali dalam bentuk sebuah penampilan aplikatif seperti kabaret, cerita, atau metode kreatif lainnya untuk dapat menumbuhkan minat baca masyarakat.
“Pendekatan kreatif seperti ini (kabaret dan metode kreatif lainnya) sangat menarik dan relevan bagi generasi sekarang. Jika dikemas secara apik dan inovatif, metode ini dapat merangsang minat baca dan mendorong mereka lebih dekat dengan dunia literasi,” ucapnya.
Lebih lanjut, Iman juga menekankan perlunya transformasi perpustakaan menjadi ruang edukatif yang aktif dan mampu menjawab kebutuhan era digital. “Perpustakaan hari ini bukan lagi bangunan pasif. Ia harus menjadi hub pengetahuan. Sumber informasi kini tidak hanya berasal dari buku fisik, tetapi juga e-book dan berbagai konten digital,” tuturnya.
Ia juga menyoroti fasilitas yang dimiliki oleh Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin, di wilayah Cikini, Kota Jakarta, yang dinilai dapat menjadi contoh dalam hal pengelolaan perpustakaan modern, termasuk bagi Disarpus Kota Bandung.
Terlebih, dengan fasilitas gedung yang terdiri dari beberapa lantai dan ruang baca yang luas, Disarpus memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang publik yang lebih dinamis dengan pengelolaan sebagai perpustakan modern.
“Dengan fasilitas yang ada, konsep pengembangan yang bisa didorong misalnya, mengintegrasikan perpustakaan dengan co-working space, penyediaan kafe edukatif, melakukan kolaborasi dengan penerbit untuk akses barcode e-book, hingga penyediaan ruang kreatif dan aktivitas komunitas literasi,” ujarnya.
Oleh karena itu, Iman Lestariyono menambahkan, penguatan literasi tidak bisa hanya dilakukan pemerintah saja. Namun, dibutuhkan kolaborasi pentahelix hingga multihelix sebagai kunci untuk mendorong terwujudnya target tersebut.
“Kita perlu kolaborasi pentahelix, bahkan multihelix. Pemerintah, akademisi, komunitas, pelaku usaha, dan media harus terlibat bersama. Hanya dengan kolaborasi menyeluruh kita bisa membangun budaya literasi yang kuat di Kota Bandung,” ucapnya.
Terkait dukungan anggaran, Iman Lestariyono menjelaskan bahwa meskipun APBD Kota Bandung tengah mengalami efisiensi ketat, DPRD tetap berkomitmen memberikan dorongan terhadap program literasi yang memiliki tujuan jelas dan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Selama programnya terarah dan tema kegiatannya jelas dan terarah bagi kebermanfaatan masyarakat, maka kami di DPRD Kota Bandung akan ikut mendorong optimalisasi anggaran untuk literasi. Ini investasi jangka panjang bagi masa depan anak-anak kita,” pungkasnya.
