Indramayu –
Siapa sangka potongan kain sisa produksi pakaian bisa berubah menjadi peluang usaha yang menjanjikan. Dari Desa Leuwigede, Kecamatan Widasari, sepasang suami istri, Cardim (38) dan Durniti (35), berhasil membuktikan bahwa limbah konveksi tak selamanya berakhir di tempat sampah.
Berangkat dari kepekaan melihat sekitar, Cardim menangkap peluang dari kain perca yang kerap terbuang percuma.
Berbekal kreativitas dan kemauan mencoba, ia mulai merangkai sisa-sisa kain tersebut menjadi ayunan yang nyaman dan layak jual. Produk itu kemudian diberi nama Ayunan Cantik Krisna Leon.
Awalnya, usaha ini hanya bermula dari coba-coba. Cardim terinspirasi dari usaha konveksi milik sang kakak yang menghasilkan banyak limbah kain. Dari keisengan itu, pada 2021 ia mulai serius memproduksi ayunan secara rutin.
Ketelatenan pasangan ini perlahan membuahkan hasil. Dalam sebulan, proses produksi dilakukan hingga empat kali, dengan total hasil mencapai sekitar 400 ayunan. Setiap kali produksi, tak kurang dari 100 ayunan berhasil dirampungkan.
Keunggulan utama Ayunan Cantik Krisna Leon terletak pada kenyamanannya. “Ayunan ini tidak menimbulkan rasa perih meski digunakan dalam waktu lama, baik untuk duduk santai maupun berbaring,” ujar Cardim saat ditemui di kediamannya, Senin (2/2/2026).
Selain itu, kata Cardim, daya tampungnya pun cukup kuat, mampu menopang beban hingga 120 kilogram.
Saat ini, produk tersebut telah mengisi sejumlah toko mainan di Kabupaten Indramayu. Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp50.000 untuk ukuran lebar 200 sentimeter dengan panjang 300 sentimeter, hingga Rp150.000 untuk ukuran lebih lebar yakni 250 sentimeter dengan ruas tali yang lebih banyak.
Tak hanya itu, Cardim dan Durniti juga melayani pesanan khusus sesuai kebutuhan konsumen, dengan harga yang disesuaikan ukuran dan tingkat kesulitannya.
Bagi Cardim, usaha ini bukan semata soal keuntungan. Ia berharap apa yang dirintisnya bisa memantik kesadaran masyarakat, bahwa limbah memiliki potensi ekonomi jika dikelola dengan kreatif.
Menurutnya, barang yang dianggap tak bernilai justru bisa menjadi sumber penghasilan baru. Ia bahkan bercita-cita agar produk ayunan dari limbah kain ini kelak menjadi ciri khas Indramayu, bahkan menjadi produk unik yang dikenal secara nasional.
Semangat pengolahan limbah menjadi produk kreatif ini juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Indramayu.
Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, Imam Mahdi, menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif warga yang mampu mengolah limbah menjadi karya bernilai ekonomi.
Pemerintah daerah, katanya, terus mendorong lahirnya pelaku usaha kreatif melalui berbagai edukasi dan pelatihan yang digelar secara berkala bekerja sama dengan Dinas Perdagangan.
“Ini bagus,” ujar Imam merespons pemanfaatan limbah konveksi oleh warga untuk UMKM, saat dihubungi pada Senin (2/2/2026).
“Kami mendukung langkah-langkah kreatif dari warga untuk menghidupi keluarganya. Beberapa kali kami mengadakan acara yang di dalamnya bertujuan meningkatkan kreativitas warga, terutama pemanfaatan limbah di sekitarnya agar bisa diubah jadi uang,” lanjutnya.
Selain itu, kata dia, ruang publik seperti Car Free Day dan Car Free Night juga disediakan sebagai etalase promosi bagi pelaku UMKM.
Kisah Cardim dan Durniti menjadi bukti bahwa inovasi sederhana, jika digarap dengan kesungguhan, mampu menghadirkan manfaat ekonomi sekaligus berkontribusi pada pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
