Indramayu –
Deretan menara masjid umumnya dibangun dari beton atau rangka baja yang menjulang kokoh. Namun di Desa Jatibarang Baru, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Masjid Al-Muhtadiin menghadirkan pemandangan berbeda.
Di kompleks perkantoran Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung, sebuah truk pengebor raksasa keluaran 1985 justru berdiri tegak sebagai menara masjid. Kendaraan proyek itu kini menjelma menjadi simbol unik yang menyatukan fungsi ibadah dan nilai sejarah dalam satu lanskap yang tak biasa.
Kendaraan berbobot sekitar 45 ton itu sebelumnya merupakan aset BBWS Cimanuk-Cisanggarung. Pada masanya, armada tersebut menjadi andalan dalam program Pendayagunaan Air Tanah (PAT), menembus lapisan bumi hingga kedalaman 700 meter melalui mesin tipe Rig Tone Top 750 Top Drive.
Sejak mulai beroperasi pada 1987 hingga awal 2000-an, alat berat ini berkontribusi dalam berbagai proyek pengeboran sebelum akhirnya berhenti berfungsi akibat kerusakan teknis.
Alih-alih dibiarkan menjadi besi tua, kendaraan setinggi sekitar 12 meter itu kini menjelma menjadi ikon religi di kawasan perkantoran BBWS Jatibarang. Diposisikan di sisi kiri bagian depan masjid, struktur truk bor tersebut dipermanis dengan kubah kecil di puncaknya, lengkap dengan lafal Allah dan empat pengeras suara sebagai penanda fungsinya sebagai menara aktif.
Wakil Ketua DKM Masjid Al-Muhtadiin, Muhammad Carilah, menuturkan bahwa pemanfaatan alat berat itu merupakan bentuk optimalisasi aset lama yang memiliki rekam jejak panjang. Menurutnya, keberadaan menara unik tersebut bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan juga simbol kreativitas dan penghormatan terhadap sejarah.
“Ide ini muncul sebagai cara memanfaatkan kendaraan pengeboran sumur dalam milik BBWS yang sudah tidak terpakai. Daripada terbengkalai, lebih baik dijadikan monumen sekaligus memperindah masjid,” ujarnya saat ditemui di masjid tersebut pada Jumat (27/2/2026).
Ia menegaskan, fungsi kendaraan tersebut benar-benar sebagai menara. Dari atasnya, azan dikumandangkan melalui empat corong pengeras suara yang terpasang permanen di bawah kubah.
Gagasan transformasi ini berasal dari Kepala BBWS Cimanuk-Cisanggarung, Dwi Agus Kuncoro. Proses pemasangannya dilakukan bersamaan dengan rehabilitasi besar masjid pada 2023. Mengingat biaya perbaikan alat yang tak lagi beroperasi cukup tinggi, opsi pengalihan fungsi dinilai lebih bermanfaat.
Masjid Al-Muhtadiin sendiri telah berdiri sejak era Proyek Irigasi IDA (Prosida) pada 1970-an. Bermula dari musala sederhana, bangunan ini berkembang seiring bertambahnya jumlah jemaah. Meski berada di lingkungan kantor BBWS, masjid tersebut terbuka bagi masyarakat umum.
Kini, menara dari truk bor itu tak hanya menjadi penanda waktu salat, tetapi juga saksi bisu perjalanan panjang sebuah aset negara yang menemukan makna baru-dari menembus perut bumi hingga menggaungkan panggilan ibadah.
